Senin, 04 Juni 2012

Sandi Rokok dan Orang Tua



Oleh Iwan Ardhie Priyana

Sandi, bocah 4 tahun asal kota Malang itu mendadak terkenal bak selebritis. Tingkah lakunya yang tidak lazim untuk manusia seusianya mengudang perhatian media massa ,terutama media massa eletronik. Banyak pihak yang merasa prihatin atas kebiasaan buruknya yang suka merokok, berkata-kata cabul dan suka meminum minuman keras. Kak Seto dari Komisi Perlindungan Anak (KPA) memberikan perhatian penuh atas kasus Sandi ini. Tidak hanya Kak Seto, Wakil gubernur Jawa Timur, serta LSM pun turut prihatin dan memberikan bantuan pelayanan terapi untuk sang bocah  tersebut.
Kebiasaan merokok Sandi di usia nya yang masih tergolong balita memang sangat berisiko terhadap kesehatan fisiknya. Di dalam sebatang rokok, sekurangnya terkandung 4000 zat yang bias “membunuh” seorang manusia secara tidak sadar. Setiap kali mengisap rokok, seseorang mengkonsumsi  nikotin ke dalam parunya lalu ke otaknya. Penelitian telah membuktikan bahwa nikotin dapat mengakibatkan ketagihan, sama seperti heroin dan kokain. Nikotin juga dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Pembuluh darah yang sempit membuat darah menjadi lebih sulit mengalir ke seluruh tubuh. Organ-organ tubuh menjadi kekurangan oksigen karena aliran darah tidak lancar. Hal ini membuat jantung dipaksa bekerja lebih keras memompa darah. Akibatnya, tekanan darah menjadi tinggi dan jantung menjadi lebih cepat rusak atau terkena penyakit.    Zat-zat pembunuh lainnya tak kalah dahsyatnya seperti :  amonia (bahan pembersih lantai), naftalen (zat kapur barus), hidrogen sianida (racun yang digunakan untuk pelaksanaan hukuman mati), aseton (penghapus cat kuku), toluen (pelarut), metanol (bahan bakar roket), arsenik (racun semut), butan (bahan bakar korek api), kadmium (bahan aki mobil), DDT (racun serangga), vinil klorida (bahan plastik) dan lain-lain.
Mengingat betapa banyaknya kandungan zat yang berbahaya bagi tubuh, pertanyaannya adalah , sadarkan Sandi akan bahaya yang ditimbulkan dari asap rokok tersebut? Bagaimana sebenarnya “proses pembelajaran” yang dialami oleh Sandi sehingga ia menjelma menjadi seorang “manusia dewasa” diusaia yang masih balita? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita memahami apa yang disebut dengan teori pikiran.
 Menurut beberapa teori tentang pikiran, manusia memilki dua jenis pikiran, yakni pikiran sadar  dan pikiran bawah sadar yang keduanya memilki fungsinya masing-masing, akan tetapi bekerja secara simultan. Pikiran sadar memiliki empat fungsi utama, yakni , mengidentifikasi informasi yang masuk, memba ndingkan, menganalisis, dan memutuskan. Sementara itu, pikiran sadar memiliki fungsi yang sangat luas, meliputi : kebiasaan baik, buruk dan reflek, “menyimpan “ emosi, gudang penyimpanan emosi jangka pan jang , kepribadian, intuisi, kreatifitas, persepsi serta belief (kepercayaan) dan value (nilai-nilai). Pikiran bawah sadar  bekerja secara terus menerus dan mulai hadir lebih dahulu dibandingkan dengan pikiran sadar.
Pada saat anak-anak, manusia lebih banyak bekerja pada tataran bawah sadar, daripada pikiran sadarnya.  Sedangkan pada orang dewasa, pikiran sadar lebih banyak “ bekerja”. Misalnya seorang dewasa melakukan proeses identifikasi serta menganalisis informasi yang diterimanya. Setelah melalui proses mengidentifikasi tersebut, lalu seorang dewasa memutusakan sesuatu. Bagi orang dewasa, kebiasaan merokok dan meminum minuman keras tentu dihindari karena pikiran sadarnya memberitahukan bahwa rokok dan minuman keras membahayakan tubuhnya, sehingga ia memutuskan untuk tidak merokok dan meminum minuman keras. Dengan kata lain, sebuah ide, atau sebuah informasi yang masuk sebelum disimpan di bawa sadarnya akan melalui tahap penyeleksian terlebih dahulu.
Berbeda dengan orang dewasa, sebagaimana dikatakan Adi W Gunawan seoranr pakar Hypnoterapi, ana-anak lebih banyak berhubungan dengan atau menggunakan pikiran bawah sadar. Semua informasi masuk ke dalam bawah sadar  tanpa penilaian apakah itu baik atau buruk. Dengan kata lain, proses pemihan serta identifikasi terhadap ide yang masuk tidak berjalan seperti pada orang dewasa. Dengan menggunakan logka seperti ini maka tidak mengherankan jika seorang Sandi , tidak bias memutuskankan apakah merokok itu berbahaya atau tidak. Celakanya, ide yang masuk bila dilakukan secara terus menerus dilakukan dan diulang-ulang (repetisi) akan menjadi belief (kepercayaan ) yang tertanam dan sangat sulit untuk dihilangkan.
Kebiasan merokok Sandi tidak tumbuh dengan sendirinya, tetapi melalui proses “pembelajaran” yang dilakukan secara tidak sadar melalui orang-orang dewasa sekelilingnya. Hal ini dketahui karena  Sandi setiap hari bergaul dengan orang-orang dewasa yang memiliki kebiasaan merokok, berkata cabul dan meminum-minuman keras. Pengalaman-pengalaman kesehariaan itulah yang dilakukan secara kosnsisten dan terus menerus yang diserap oleh pikiran bawah sadarnya, yang lambat laun akan mempe ngaruhi prilaku dan kepribadiannya. Menurut Adi W Gunawan, orang tua dan lingkungan anak adalah “programmer” yang  paling bertanggung jawab terhadap program mental sang anak.
Pikiran manusia sebernya mirip cara bekerja program computer. Pikiran bawah sadar dapat diinstall untuk menghapus atau mengganti program yang baru. Oleh sebab itu, untuk mengindari kebiasaan dan prilaku b uruk yang tersimpan dalam pikiran bawah sadar dapat di delet, dengan bantuan terapi, dan konsultasi psikologis. Namun yang paling penting dilakukan adalah sikap orang dewasa serta masyarakat sekelilingnya lah yang memiliki kontribusi terhadap perilaku Sandi yang harus diubah.
Berkaca pada kasus Sandi, orang tua serta masyarakat harus menyadari apa akibat merokok, tidak hanya bagi kesehatan fisik dirinya dan orang-orangs sekitarnya, juga bagi perkembangan mental anak-anak. Bagi orang tua yang suka merokok, dan kebetulan memiliki anak-anak, tentu dapat mengambil hikmah dari peristsitiwa Sandi.  Seorang anak yang lahir pada dasarnya putih bersih, orang tunyanya yang akan mendidikan apakah ia akan menjadi Yahudi, majusi atau Nasran , demikian kata Rasul. Artinya kebiasan, karakter seorang anak dibentuk oleh  orang tuanya,  yang dimaksud tidak hanya orang tua dalam pengertian orang tua biologis, tetapi termasuk orang dewasa yang  berada di lingkungan sekitarnya.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text widget

About

Senin, 04 Juni 2012

Sandi Rokok dan Orang Tua



Oleh Iwan Ardhie Priyana

Sandi, bocah 4 tahun asal kota Malang itu mendadak terkenal bak selebritis. Tingkah lakunya yang tidak lazim untuk manusia seusianya mengudang perhatian media massa ,terutama media massa eletronik. Banyak pihak yang merasa prihatin atas kebiasaan buruknya yang suka merokok, berkata-kata cabul dan suka meminum minuman keras. Kak Seto dari Komisi Perlindungan Anak (KPA) memberikan perhatian penuh atas kasus Sandi ini. Tidak hanya Kak Seto, Wakil gubernur Jawa Timur, serta LSM pun turut prihatin dan memberikan bantuan pelayanan terapi untuk sang bocah  tersebut.
Kebiasaan merokok Sandi di usia nya yang masih tergolong balita memang sangat berisiko terhadap kesehatan fisiknya. Di dalam sebatang rokok, sekurangnya terkandung 4000 zat yang bias “membunuh” seorang manusia secara tidak sadar. Setiap kali mengisap rokok, seseorang mengkonsumsi  nikotin ke dalam parunya lalu ke otaknya. Penelitian telah membuktikan bahwa nikotin dapat mengakibatkan ketagihan, sama seperti heroin dan kokain. Nikotin juga dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Pembuluh darah yang sempit membuat darah menjadi lebih sulit mengalir ke seluruh tubuh. Organ-organ tubuh menjadi kekurangan oksigen karena aliran darah tidak lancar. Hal ini membuat jantung dipaksa bekerja lebih keras memompa darah. Akibatnya, tekanan darah menjadi tinggi dan jantung menjadi lebih cepat rusak atau terkena penyakit.    Zat-zat pembunuh lainnya tak kalah dahsyatnya seperti :  amonia (bahan pembersih lantai), naftalen (zat kapur barus), hidrogen sianida (racun yang digunakan untuk pelaksanaan hukuman mati), aseton (penghapus cat kuku), toluen (pelarut), metanol (bahan bakar roket), arsenik (racun semut), butan (bahan bakar korek api), kadmium (bahan aki mobil), DDT (racun serangga), vinil klorida (bahan plastik) dan lain-lain.
Mengingat betapa banyaknya kandungan zat yang berbahaya bagi tubuh, pertanyaannya adalah , sadarkan Sandi akan bahaya yang ditimbulkan dari asap rokok tersebut? Bagaimana sebenarnya “proses pembelajaran” yang dialami oleh Sandi sehingga ia menjelma menjadi seorang “manusia dewasa” diusaia yang masih balita? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita memahami apa yang disebut dengan teori pikiran.
 Menurut beberapa teori tentang pikiran, manusia memilki dua jenis pikiran, yakni pikiran sadar  dan pikiran bawah sadar yang keduanya memilki fungsinya masing-masing, akan tetapi bekerja secara simultan. Pikiran sadar memiliki empat fungsi utama, yakni , mengidentifikasi informasi yang masuk, memba ndingkan, menganalisis, dan memutuskan. Sementara itu, pikiran sadar memiliki fungsi yang sangat luas, meliputi : kebiasaan baik, buruk dan reflek, “menyimpan “ emosi, gudang penyimpanan emosi jangka pan jang , kepribadian, intuisi, kreatifitas, persepsi serta belief (kepercayaan) dan value (nilai-nilai). Pikiran bawah sadar  bekerja secara terus menerus dan mulai hadir lebih dahulu dibandingkan dengan pikiran sadar.
Pada saat anak-anak, manusia lebih banyak bekerja pada tataran bawah sadar, daripada pikiran sadarnya.  Sedangkan pada orang dewasa, pikiran sadar lebih banyak “ bekerja”. Misalnya seorang dewasa melakukan proeses identifikasi serta menganalisis informasi yang diterimanya. Setelah melalui proses mengidentifikasi tersebut, lalu seorang dewasa memutusakan sesuatu. Bagi orang dewasa, kebiasaan merokok dan meminum minuman keras tentu dihindari karena pikiran sadarnya memberitahukan bahwa rokok dan minuman keras membahayakan tubuhnya, sehingga ia memutuskan untuk tidak merokok dan meminum minuman keras. Dengan kata lain, sebuah ide, atau sebuah informasi yang masuk sebelum disimpan di bawa sadarnya akan melalui tahap penyeleksian terlebih dahulu.
Berbeda dengan orang dewasa, sebagaimana dikatakan Adi W Gunawan seoranr pakar Hypnoterapi, ana-anak lebih banyak berhubungan dengan atau menggunakan pikiran bawah sadar. Semua informasi masuk ke dalam bawah sadar  tanpa penilaian apakah itu baik atau buruk. Dengan kata lain, proses pemihan serta identifikasi terhadap ide yang masuk tidak berjalan seperti pada orang dewasa. Dengan menggunakan logka seperti ini maka tidak mengherankan jika seorang Sandi , tidak bias memutuskankan apakah merokok itu berbahaya atau tidak. Celakanya, ide yang masuk bila dilakukan secara terus menerus dilakukan dan diulang-ulang (repetisi) akan menjadi belief (kepercayaan ) yang tertanam dan sangat sulit untuk dihilangkan.
Kebiasan merokok Sandi tidak tumbuh dengan sendirinya, tetapi melalui proses “pembelajaran” yang dilakukan secara tidak sadar melalui orang-orang dewasa sekelilingnya. Hal ini dketahui karena  Sandi setiap hari bergaul dengan orang-orang dewasa yang memiliki kebiasaan merokok, berkata cabul dan meminum-minuman keras. Pengalaman-pengalaman kesehariaan itulah yang dilakukan secara kosnsisten dan terus menerus yang diserap oleh pikiran bawah sadarnya, yang lambat laun akan mempe ngaruhi prilaku dan kepribadiannya. Menurut Adi W Gunawan, orang tua dan lingkungan anak adalah “programmer” yang  paling bertanggung jawab terhadap program mental sang anak.
Pikiran manusia sebernya mirip cara bekerja program computer. Pikiran bawah sadar dapat diinstall untuk menghapus atau mengganti program yang baru. Oleh sebab itu, untuk mengindari kebiasaan dan prilaku b uruk yang tersimpan dalam pikiran bawah sadar dapat di delet, dengan bantuan terapi, dan konsultasi psikologis. Namun yang paling penting dilakukan adalah sikap orang dewasa serta masyarakat sekelilingnya lah yang memiliki kontribusi terhadap perilaku Sandi yang harus diubah.
Berkaca pada kasus Sandi, orang tua serta masyarakat harus menyadari apa akibat merokok, tidak hanya bagi kesehatan fisik dirinya dan orang-orangs sekitarnya, juga bagi perkembangan mental anak-anak. Bagi orang tua yang suka merokok, dan kebetulan memiliki anak-anak, tentu dapat mengambil hikmah dari peristsitiwa Sandi.  Seorang anak yang lahir pada dasarnya putih bersih, orang tunyanya yang akan mendidikan apakah ia akan menjadi Yahudi, majusi atau Nasran , demikian kata Rasul. Artinya kebiasan, karakter seorang anak dibentuk oleh  orang tuanya,  yang dimaksud tidak hanya orang tua dalam pengertian orang tua biologis, tetapi termasuk orang dewasa yang  berada di lingkungan sekitarnya.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.