Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juni 2012

Karena kita harus makan





Karena kita harus makan


Maka apapun kita lakukan
Berpura-pura dibalik topeng
Menyembunyikan Kepedihan
Bernyanyi dan berjoged sekedar melupakan kegetiran
Sebab hidup tak banyak meyediakan pilihan
Makan atau tidak makan dan mati mengenaskan
Karena kita harus makan
Maka apapun kita lakukan
Kita pakai kostum  dan  topeng kepalsuan
Sedangkan  dibaliknya batin kita tersayat,
Nak, apalah artinya harga diri dan rasa malu
Sebab perutmu memang lebih berarti dari sekeping harga diri
Karena kita harus makan, dan kau harus hidup
Apapun kita lakukan karena hidup tak menyediakan
Banyak pilihan, antara tetap hidup dan mati dijalanan

Jumat, 08 Juni 2012

Di rimbun kemboja



(mengenang almarhum ayah)

Angin senja melantunkan wangi kemboja, pada deret-deret nisan yang mengabur
Langit yang temaram  memantulkan cahaya, dari awan yang tersisa
Lamat-lamat menjelamakan sebua wajah wajah teduh , seperti dari sorga datangnya
“apa khabarmu anakku?” katanya dengan suara berat seakan-akan sudah berabad lamanya
Tak ada kata yang terucap kecuali  air mata yang basah menandakan kerinduan ini
seperti deretan batu pemakaman yang mebisu, ah mengapa perjumpaan ini hanya sesaat,
seperti sangkuriang yang bergegas membuat perahu karena mentari telah terlanjur tiba,
Wajah yang teduh itu tak berkata apa-apa, kecuali dari kelopak mata itu memancar
air mata kasih saying tentang  berjuta cerita yang  terjalin dalam irama suka dan duka
megapa senja ini terlalu cepat bergegas?  dan sosok itu kini hanyalah setitik cahaya di kejauhan
Sebelum air mata ini mengering dan pipi basah, hanya inilah  yang sempat berujar
“suatu saat,kita akan dipertamukan lagi, dalam satu keluarga, di sorga-Nya, Nak”
Sesaat kemudian rimbunan kemboja itu semakin sunyi, hanya dengus nafas yang mengalir perlahan
Setelah itu Angin senja melantunkan wangi kemboja, pada deret-deret nisan yang mengabur, dan semakin mengabur

Kami sadalah serigala





Jiwa kami sedang terbakar amarah
Kami berhadapan saling menghunus makian
Kepala kami terbakar dendam
Kami betatapan saling menebar ancaman
Hati kami bagai para singa siap melahap sajian
Dari daging dan darah saudara dan handai taulan
Kami seperti prajuit  negeri tanpa ruh
yang sedang menanti genderang siap di tabuh
Kami siap saling menebas tubuh
Duh        !

Selasa, 05 Juni 2012

Sebotol wiski


Sebotol wiskiSebotol wiski di tepi zaman
Direguk dalam gairah nyanyian
Bulan hanya serpihan kaca
Memantul dalam gairah dukaSebotol wiski di tepi zaman
Direguk dalam gairah tarian
Saat bulan menghiba ratapi malamnya sia-sia
Menyaksikan Tuhan diusung dalam keranda

Senin, 04 Juni 2012

Tak ada yang perlu dikeluhkan Anakku




Tak ada yang perlu dikeluhkan anakku,
Gas sudah mulai langka,
Harga beras naiknya setinggi pohon kelapa
biaya hidup semakin menggila
kejujuran tak  ada  lagi harganya
kesombongan berserak di mana-mana
mereka yang mengeluh adalah yang kalah
kau harus menjadi pemenang, ayo bangkit dan berjuanglah

Kota yang berdarah



(untuk negeriku yang sedang gelisah)
Ribuan tangan mengepal mengabarkan amarah
Kilatan parang berseliweran menawarkan darah
“siapa berani, ayo tunjukan nyali, ini medan sejati”
Satu –satu satu rubuh, darah mengalir di seluruh penjuru kota
Anak-anak meronta dan ibu ibu ratapi nasibnya jadi janda
Ribuah tangan mengepal mengabarkan amarah
Kilatan pedang menebarkan aroma darah
Kota jadi gelisah, dan langit memerah
“siapa berani, ayo tunjukan nyali, ini pertarungan sampai mati”
Satu satu ambruk,  dan rebah
Ah, kota ku semerah darah

Minggu, 03 Juni 2012

Setasiun Nagreg suatu Ketika




Namamu mengingatkanku pada suatu hari
Ketika senja merayapi dinding ruang tunggu yang lusuh
Sementara deretan kursi yang lenggang mengabarkan sebuah kereta
Baru saja ditelan gelap kea rah barat.
Lalu aku masih berdiri di sini dengan keyakinan
Bahwa sebuah kereta akan tiba dari timur
Membawa mimpi
Tapi kau menggodaku dengan menyembunyikan bulan separuh
Dibalik tiang sinyal
Aku masih setia, menghitung saat demi saat
Yang berlalu tanpa pamit, kecuali meninggalkan gelisah
Diam-diam aku  mulai ragu, ketika  bulan kembali
 ke tempatnya semula, dan dengung yang mengalun
bukan peluit kereta, tapi  serombongan nyamuk yang menari
meningkahi sepi


Lagu Kemarau

Denting-denting nyaring
Dari dawai musim
Mengusik mentari separuh baya
Pohonan meronta, digelitik debu
Dan rumput-rumput kering tengadah pada langit
Menanti burung-burung hinggap
Lalu mati

Dari kumpulan puisi lawat yang pernah di muat di PIkiran Rakyat

Text widget

About

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juni 2012

Karena kita harus makan





Karena kita harus makan


Maka apapun kita lakukan
Berpura-pura dibalik topeng
Menyembunyikan Kepedihan
Bernyanyi dan berjoged sekedar melupakan kegetiran
Sebab hidup tak banyak meyediakan pilihan
Makan atau tidak makan dan mati mengenaskan
Karena kita harus makan
Maka apapun kita lakukan
Kita pakai kostum  dan  topeng kepalsuan
Sedangkan  dibaliknya batin kita tersayat,
Nak, apalah artinya harga diri dan rasa malu
Sebab perutmu memang lebih berarti dari sekeping harga diri
Karena kita harus makan, dan kau harus hidup
Apapun kita lakukan karena hidup tak menyediakan
Banyak pilihan, antara tetap hidup dan mati dijalanan

Jumat, 08 Juni 2012

Di rimbun kemboja



(mengenang almarhum ayah)

Angin senja melantunkan wangi kemboja, pada deret-deret nisan yang mengabur
Langit yang temaram  memantulkan cahaya, dari awan yang tersisa
Lamat-lamat menjelamakan sebua wajah wajah teduh , seperti dari sorga datangnya
“apa khabarmu anakku?” katanya dengan suara berat seakan-akan sudah berabad lamanya
Tak ada kata yang terucap kecuali  air mata yang basah menandakan kerinduan ini
seperti deretan batu pemakaman yang mebisu, ah mengapa perjumpaan ini hanya sesaat,
seperti sangkuriang yang bergegas membuat perahu karena mentari telah terlanjur tiba,
Wajah yang teduh itu tak berkata apa-apa, kecuali dari kelopak mata itu memancar
air mata kasih saying tentang  berjuta cerita yang  terjalin dalam irama suka dan duka
megapa senja ini terlalu cepat bergegas?  dan sosok itu kini hanyalah setitik cahaya di kejauhan
Sebelum air mata ini mengering dan pipi basah, hanya inilah  yang sempat berujar
“suatu saat,kita akan dipertamukan lagi, dalam satu keluarga, di sorga-Nya, Nak”
Sesaat kemudian rimbunan kemboja itu semakin sunyi, hanya dengus nafas yang mengalir perlahan
Setelah itu Angin senja melantunkan wangi kemboja, pada deret-deret nisan yang mengabur, dan semakin mengabur

Kami sadalah serigala





Jiwa kami sedang terbakar amarah
Kami berhadapan saling menghunus makian
Kepala kami terbakar dendam
Kami betatapan saling menebar ancaman
Hati kami bagai para singa siap melahap sajian
Dari daging dan darah saudara dan handai taulan
Kami seperti prajuit  negeri tanpa ruh
yang sedang menanti genderang siap di tabuh
Kami siap saling menebas tubuh
Duh        !

Selasa, 05 Juni 2012

Sebotol wiski


Sebotol wiskiSebotol wiski di tepi zaman
Direguk dalam gairah nyanyian
Bulan hanya serpihan kaca
Memantul dalam gairah dukaSebotol wiski di tepi zaman
Direguk dalam gairah tarian
Saat bulan menghiba ratapi malamnya sia-sia
Menyaksikan Tuhan diusung dalam keranda

Senin, 04 Juni 2012

Tak ada yang perlu dikeluhkan Anakku




Tak ada yang perlu dikeluhkan anakku,
Gas sudah mulai langka,
Harga beras naiknya setinggi pohon kelapa
biaya hidup semakin menggila
kejujuran tak  ada  lagi harganya
kesombongan berserak di mana-mana
mereka yang mengeluh adalah yang kalah
kau harus menjadi pemenang, ayo bangkit dan berjuanglah

Kota yang berdarah



(untuk negeriku yang sedang gelisah)
Ribuan tangan mengepal mengabarkan amarah
Kilatan parang berseliweran menawarkan darah
“siapa berani, ayo tunjukan nyali, ini medan sejati”
Satu –satu satu rubuh, darah mengalir di seluruh penjuru kota
Anak-anak meronta dan ibu ibu ratapi nasibnya jadi janda
Ribuah tangan mengepal mengabarkan amarah
Kilatan pedang menebarkan aroma darah
Kota jadi gelisah, dan langit memerah
“siapa berani, ayo tunjukan nyali, ini pertarungan sampai mati”
Satu satu ambruk,  dan rebah
Ah, kota ku semerah darah

Minggu, 03 Juni 2012

Setasiun Nagreg suatu Ketika




Namamu mengingatkanku pada suatu hari
Ketika senja merayapi dinding ruang tunggu yang lusuh
Sementara deretan kursi yang lenggang mengabarkan sebuah kereta
Baru saja ditelan gelap kea rah barat.
Lalu aku masih berdiri di sini dengan keyakinan
Bahwa sebuah kereta akan tiba dari timur
Membawa mimpi
Tapi kau menggodaku dengan menyembunyikan bulan separuh
Dibalik tiang sinyal
Aku masih setia, menghitung saat demi saat
Yang berlalu tanpa pamit, kecuali meninggalkan gelisah
Diam-diam aku  mulai ragu, ketika  bulan kembali
 ke tempatnya semula, dan dengung yang mengalun
bukan peluit kereta, tapi  serombongan nyamuk yang menari
meningkahi sepi


Lagu Kemarau

Denting-denting nyaring
Dari dawai musim
Mengusik mentari separuh baya
Pohonan meronta, digelitik debu
Dan rumput-rumput kering tengadah pada langit
Menanti burung-burung hinggap
Lalu mati

Dari kumpulan puisi lawat yang pernah di muat di PIkiran Rakyat

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.