Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juni 2012

Guru Bermaian Sulap ? Kenapa tidak !




Banyak cara yang dilakukan guru  untuk menciptakan suasana belajar yang menarik dan menyenangkan. Salah satunya adalah bermain sulap. Bermain sulap ? Ya , benar. Semua orang pasti senang melihat pertun jukan sulap , demikian juga para siswa. Sulap yang dilakukan oleh guru bukan hanya sekedar terampil “mengelabui “ siswa, namun sebenarnya di balik permainan itu terselip sisi edukasi. Yakni sulap yang digunakan tersebut berfungsi menanamkan sugesti pada siswa.
Contoh sulap yang saya gunakan saat di kelas adalah membengkokan sendok, seperti yang dilakukan beberapa pesulap professional yang sering ditampilkan di layar televise. Sendok yang saya pegang di tangan kanan saya goyang-goyangkan dengan menggerakkan tangan, saat itulah saya katakan “ Sendok ini sangat keras dan kaku, tetapi bila kalian punya kesungguhan dan mau berusaha untuk mencobanya, maka sendok ini menjadi bengkok”. Setelah itu sendok yang sudah bengkok saya perlihatkan pada siswa. Sesaat kemudian para siswa bertepuk tangan sambil tertawa.
Sekali lagi, di sini yang ditonjolkan sebenarnya adalah menanamkan sugesti bahwa : bila kalian punya kesungguhan dan mau berusaha untuk mencobanya, maka sendok ini menjadi bengkok”. Di samping  itu, tentu saja unsur   hiburan bagi siswa tetap penting.
Terima kasih untuk mas Fadli yang telah mengajarka trik sulap yang sederhana tapi memikat. Ada yang mau belajar main sulap?

Melakukan Hypnosys sederhana pada siswa.




Mau mencoba “memasukkan “ sugesti pemberdayaan diri bagi siswa? Saran di bawah ini boleh di coba.
Pertama, bawalah siswa ke ruangan yang sejuk, hening dengan suasana yang lebih nyaman, (boleh di mushola sekolah)
Kedua, bangunlah dan ciptakan suasana keakraban ( rapport) hal ini penting agar siswa merasa nyaman dan percaya pada guru.
Berikan penjelasan bagi siswa pentingnya mereka memiliki sugesti positif dalam diri mereka serta apa manfaatnya bagi mereka.
Berikan kesempatan siswa untu menuliskan dalam secarik kertas sugesti diri mereka sesuai dengan tujuan dan apa yang mereka harapkan.
(Misalnya : saya adalah siswa terbaik dan saya yakin akan kemampuan saya, saya selalu berusaha dengan segala kemampuan saya untuk mencapai cita-cita saya. Bagi saya semuanya menjadi mudah…dst)
Mintalah siswa untuk duduk dengan dengan rilek, punggung tegak , tangannya di letakkan pada kedua paha mereka.
Mintalah siswa untuk memfokuskan perhatian pada benda yang ada di hadapan mereka (misalnya pada dinding ruangan)
Perintahkah siswa agar menarik nafas lalu mengeluarkannya dengan lembut, lakukan beberapa kali
Berikutnya, mintalah siswa untuk memejamkan matanya agar lebih rileks, lalu perintahkan agar focus perhatian pada nafas yang keluar melalui hidung.
Katakan pada mereka “Saat ini anda dalam keadaan rileks, saya akan meghitung satu sampai tiga dan setiap kali saya menghitung anda semakin rileks. “(Guru menghitung dengan suara datar dan tenang dan jarang antara hitungan beberapa detik.jangan terlalu  cepat)
Setelah siswa tampak rileks guru berkata “ Saat ini Anda benar-benar dalam keadaan rileks. Anda adalah pelajar yang baik pelajar yang memliliki citacita mulia dan luhur. Untuk menuju keberhasilan mencapai cita-cita diperlukan usaha yang sungguh-sungguh. Percayalah dengan kekuatan dan kemampuan yang ada pada Anda, cita-cita Anda akan tercapai..”
“Saat ini munculkan kembali sugesti Anda yang tela di tulis, bayangkan bahwa hari ini saa ini dan detik ini…kata-kata yang telah Anda tulis sedang anda masukkan ke dalam diri Anda. Bayangkan saat ini kata-kata teresebut tertanam dalam jantung Anda dan mengalir dalam darah Anda”
Hening sejenak, saat ini biarkan siswa sedang memasukkan kata-kata tersebut dalam dirinya. Beri waktu beberapa menit
“Baik, saat ini, imajinasikan bahwa Andan sedang merayakan keberhasilan yang telah anda perjuangkan..”
Berikan waktu beberapa menit dan perhatkan oleh guru bagaimana ekspresi siswa.
Setelah terasa cukup , ajaklah siswa berdoa agar dalam usaha mencapai keberhasilan itu mendapat ridlo Allah SWT.
Berikutnta..”Saya akan menghitung satu sampai tiga…dan saat hitungan ketiga Anda membuka mata dan badan Anda terasa segar dan bersemangat…..tunjukkanlah senyum  terbaik Anda saat anda membuka mata..”
“Satu…..dua….tiga…..”
Catatan :
Pada saat guru member sugesti, nada suara guru harus tenang dan datar. Dalam melakukan kegiatan ini efektif atau tidaknya tergantung seberapa PD Anda melakukkannya. Selamat mencoba.

Jumat, 08 Juni 2012

Bisa jadi ini adalah hal yang “remeh”




 “Motivasi belajar siswa  sebenarnya bergantung dari motivasi mengajar guru”
Saat Masuk Ke kelas.
Tatap muka seluruh sisiwa dengan menebarkan senyuman. (apapun kondisinya, senyum menjadi sangat mutlak)
Berikan pujian untuk hal-hal berikut :
Suasana dan lingkungan kelas yang bersih
Kesiapan siswa dalam mengikuti pelajaran waktu itu
Berikan  pujian secara personal pada siswa tertentu.
Katakan hal berikut :
Merasa senang mengajar di kelas tersebut
Mintaa maaf bila Anda terlambat masuk kelas atau pada hari yang lalu Anda tidak masuk dan berikan alas an.
Saat KBM berlangsung
Bila Anda memberikan tugas yang harus di kerjakan, sebaiknya lakukan hal berikut :
Perintah untuk melaksanakan tugas diberikan secara terinci, dan pastikan siswa mengerti apa yang harus dikerjakan.
Pastikan bahwa perlengkapan mereka sudah siap, seperti LKS, buku paket, serta alat  tulis.
Tentukan waktu untuk mengerjakan, tanyakan pada siswa berapa menita waktu yang mereka perlukan untuk mengerjakan tugas tersebut.
Berkelilinglah pada setiap siswa selama mengerjakan tugas, dan  katakan  Anda sangat senang dan siap membantu bila siswa menemukan kesulitan.
Saat  Anda  kegiatan KBM berakhir.
Berikan pujian atas partisipasi seluruh siswa dalam mengikuti KBM.
Berikan pujian secara personal bagi siswa yang menonjol waktu itu.
Bagi guru yang mengajar pada jam terakhir sebelum siswa meninggalkn kelas, bisa melakukan hal berikut :
Menyarankan agar hati-hati di jalan
Amanatkan agar belajar di rumah.
Berikan afirmasi misalnya : Kalian pasti sukses. Kalian adalah anak-anak terbaik.

Catatan :
Lakukan hal di atas dengan keikhlasan, bila dilakukan dengan terpkasa dan penuh kepura-puraan, bahasa tubuh Anda akan mudah di “baca” oleh siswa.
Hal-hal yang disebutkan di atas boleh jadi hal yang sederhana dan sudah “sangat klise” tapi percayalah jika kita melaksanakan secara konsisten, berkesinambungam, dilakukan dengan penuh kesedaran oleh seluruh guru di sekolah, efeknya isnya Allah akan terasa. Bila Anda melakukan dengan ikhlas, Anda telah mengeluarkan energy positif di dalam kelas. Hal-hal postif lah yang kelak akan Anda terima.
Bila Anda menemukan siswa atau suasana kelas yang menjengkelkan, Anda tidak perlu memuntahkannya di depan teman-teman guru, akan lebih baik anda tuangkan di catatan harian  ini. Ini adalah cara terbaik untuk mengeluarkan energy negative yang bermanfaat.


Jurus Penjaga Toko




OLeh Iwan Ardhie Priana

“Jangan dulu membuka toko, kalau belum bisa tersenyum”. Kata sahabat saya, seorang keturunan Cina yang menulis kalimat itu di dinding Facebooknya. Boleh jadi, itu merupakan rahasia sukses para pengusaha Cina dalam berdagang, disamping resep lain, seperti keuletan, gigih dan hemat. Resep yang mudah sebenarnya, bahkan bisa jadi itu bagian dari bagian dari prosedur tak tertulis  dalam upaya meningkatkan pelayanan pada konsumen. Sudah sering saya dengar dari teman atau dari berbagai buku, bagaimana orang-orang Cina mampu menjadi pengusaha , jadi pedagang dan pengelola toko, dengan berbagai jurusnya. Tapi jurus tersenyum itu benar-benar hal baru.
Begitu hebatkah pengaruh tersenyum pada konsumen? Tanya saya dalam hati. Tiba-tiba saya jadi teringat secarik kertas di tempel di dekat  meja kassa di sebuah swalayan yang saya kunjungi. Isinya pendek “Tegurlah karyawan Kami bila tidak tersenyum”. Ternyata, pertokoan modernpun telah mengadopsi jurus toko Cina.
Peribahasa Cina itu ternyata ikut menginspirasi saya sehingga saya ikut-ikutan pula mengadopsi kalimat itu “Jangan dulu masuk ke kelas kalau belum bisa tersenyum”. Benar-benar menjiplak. Tapi tak apalah, asal untuk kebaikan. Mengapa saya begitu tertarik untuk mengadopsi pepatah Cina itu ? Karena  saya masih sering melihat beberapa teman saya –yang juga guru- punya persepsi yang keliru dengan senyumnya. Teman saya sering khawatir senyum itu akan meruntuhkan “wibawanya”. Walhasil, setiap masuk kelas, ia lebih PD dengan memasang wajah perang. Alih-alih ingin menjaga wibawa dan disegani murid, ia malah sering mendapat umpatan dan makian siswa, tentu saja dengan cara diam-diam dan sembunyi-sembunyi.
Saya sendiri agak heran, darimana teman saya beroleh pengetahuan tentang hubungan senyum dengan wibawa.  Saya malah sering melihat tokoh-tokoh kharismatik dan berwibawa dalam poto dengan pose sedang tersenyum. Termasuk para tokoh otirter yang pernah ada di dunia ini, dalam fotonya ingin mencitrakan orang baik dengan tersenyum.
Saat diam-diam saya intip ke kelasnya, suasana kelas benar-benat sunyi seperti kuburan. Mungkin itulah suasana yang menurutnya paling cocok untuk memahami pelajarannya. Bahkan anak yang mencoba untuk mencairkan suasana dengan sedikit menyunggingkan senyumnya pun sering di hardik.
“Kenapa kamu tersenyum? Meledek ya?” Ah, malang benar anak terebut.
 Saat saya beritahukan pada teman saya bahwa saya punya motto “jangan dulu masuk kelas kalau belum bisa terenyum” ia malah mencibir. Bagaimana mau bisa tersenyum jika kepala ini sudah begitu penuh dengan persoalan hidup juga persoalan rumah tangga? Tanyanya dengan nada apatis dan pasrah. Namun, ia tidak menjawab ketika saya tanyakan apakah dengan memasah wajah “garang” itu persoalan di kepalanya  menjadi lebih enteng? Dia tidak menjawab.
Saya jadi teringat cerita yang saya baca dari sebuah buku tentang seorang guru aneh di suatu sekolah. Pak Guru aneh ini punya kebiasaan yang unik saat sebelum masuk da n keluar kelas. Sebelum masuk ke kelas, ia menuju sebuah pohon yang berada tak jauh dari kelasnya. Ia meloncat dan kedua tangganyya menggapai sebuah batang yang menjulur datar, seseat kemudian tubuhnya bergelantung ke depan ke belakang  beberapa kali.Selesai mengalantung ia akan masuk kelas. Hal yang sama ia lakukan saat pulang sekolah. Diam-diam sang Kepala Sekolah ini sering memperhatikan gejala ganjil sang guru ini, sehingga setelah beberapa hari melihat pemandangan itu, ia meminta bapak guru mengadap ke kantornya.
“Sudah beberapa hari ini saya melihat Bapak menggelantung di pohon kayu itu, baik saat mau masuk ke kelas dan keluar kelas. Boleh saya tahu, apa sebenarnya yang Bapak lakukan?” Tanya kepala sekolah, setelah keduanya berhadapan.
“Terus terang saja Pak, saya ini sebelum berangkat ke sekolah, banyak sekali persoalan yang saya hadapi, saya tak mau persoalan itu menganggu pikiran saya , saat saya berada di depan siswa saya” jawab sang guru.
“Lalu, apa hubungannya dengan menggantung di pohon?”
“Saat saya begelayut saya berkata, hei pohon, aku tak mau persoalan ku ini mengangguku saat aku masuk dan mengajar, aku titipkan persoalan ini kepadamu, dan saat keluar sekolah pun saya katakan ‘hei pohon’ kini aku sudah mengajar dan persoalan yang aku titipkan kepadamu aku ambil kembali” demikian jawab bapak guru tenang.
Cerita yang mungkin tidak lucu ini sebenarnya menyimpan agar tidak membawa persoalan ke dalam kelas, apapun caranya.
Untuk sahabat saya yang sering memasang wajah perang, sebenarnya saya ingin menyarankan padanya agar suatu waktu nanti, ia duduk di bangku murid. Lalu murid itu semuanya suruh ke luar, dan setelah itu satu persatu murid itu masuk ke kelas dan setiap murid melemparkan senyum padanya. Pada saat itu, saya sebenarnya ingin bertanya padanya, adakah alasan untuk tidak tersenyum?
Kalau orang Cina sukses dengan prinsip “Jangan dulu membuka toko sebelum tersenyum” saya yakin seorang guru juga akan sukses dengan moto “Jangan dulu masuk kelas kalau belum bisa tersenyum”. Sebuah cara yang sederhana untuk sukses dan dicintai murid , sebuah cara mudah untuk menjadi guru yang bisa membawa kesejukan di dalam kelas.Sayangnya,  kadang-kadang, kita selalu berpikir untuk melakukan hal-hal spektakuler untuk mengubah keadaan.

Rabu, 06 Juni 2012

Sesuaikan ucapan kita dengan bahasa tubuh


Seseorang datang menghampiri Anda. Wajahnya merah padam, giginya gemeletuk dan urat-urat di wajahnya menegang, dan ia berkata “ Sungguh…! Saya tidak marah !”. Percayakah Anda dengan ucapan orang tersebut ? Saya yakin Anda sebenarnya lebih percaya pada bahasa non verbalnya, seperi wajah yang memerah dan gigi yang gemeletuk. Artinya  Anda lebih meyakini orang itu sebagai orang yang sedang marah.
Seorang pemuda mengatakan pada pacarnya “Aku mencintaimu”. Gadis tadi akan melihat raut wajah pemuda tadi, dan melihat matanya, untuk  meyakinkan apakah ada kesesuaian antara bahasa verbalnya dengan bahasa nonverbalnya. Dalam komunkasi kita memang tidak hanya menggunakan bahasa verbal, tetapi bahasa
nonverbal. Celakanya, bahasa nonverbal ini memiliki peran sebesar 70 % bagi efektivitas komunikasi Anda. Saat Anda berbi cara dengan orang lain, orang lain secara tidak s adar akan meraba bahasa nonverbal Anda untuk meyakinkan ucapan Anda. 
Di kelas, seorang guru ingin meredakan keriuhan dan kegaduan dengan berteriak “Diamm…!!!!”. Anak-anak tidak merespon lalu, pak guru mulai panik , ia  memperbesar volumenya dan ditambah dengan memukul papan tulis dengan penghapus berkali-kali…”Diam…..!!!” “Brak…brak…..brak….”
Kenapa anak-anak tidak diam? Jawabannya sederhana. Sebenarnya sang guru bukan sedang menyuruh diam tetapi sedang menyuruh untuk ribut. Perhatikan volume suaranya dan juga kegaduhan yang ditumbulkan oleh suara penghapus.  Jadi, wajarlah jika anak-anak kita tidak diam karena secara tidak langsung diperintahkan oleh bahas nonverbal guru. Lalu, apa yang perlu di lakukan? Ya mudah saja, jika anak suruh lah anak diam dengan cara   gurunya diam di depan kelas  sambil melempakan senyum ke seisi kelas. Di sini memang diperlukan kesabaran. Tapi percayalah, anak-anak akan merespon “bahasa tubuh “ kita. Inilah cara paling mudah membuat suasana kelas tenang  tanpa harus menguras banyak energy guru. Selamat mencoba !.

Selasa, 05 Juni 2012

Semuanya berawal dari pikiran



Semuanya berawal dari pikiran. Doa yang kita panjatkan kehadirat Tuhan  berawal dari apa yang kita pikirkan. Jadi, pikiran juga doa. Pikiran juga yang akan membawa Anda  saat ini apakah Anda berangkat ke sekolah atau ke kantor dengan langkah kaki yang ringan mantap atau melangkah dengan langkah yang gontai yang berat? Jawabannya bergantung apa yang ada dalam pikiran kita.

Seorang sahabat yang punya hobi memancing, selalu beraharap akan
segera datang hari Sabtu. Karena setiap hari Sabtu itu ia akan pergi bersama
teman-temannya memancing. Belum juga hari Sabtu tiba, dan belum juga ia berada
di pinggir kolam. Tetapi pikiran dan bayangan suasana memancing membuatnya
ba. Sejak dari rumah pun kegembiraan itu mulai terasa. Bersiull sambil menyiap
begitu bergairah. Semangatnya tampak begitu menyala. Bahkan bila saatnya t
ikan perlengkapan memancing, kadang-kadang juga sambil bernyanyi nyanyi kecil. Di
saat ikan menggelepar saat kail di tarik.
benaknya terbayang bagamana nikmatnya saat ikan memagut kailnya. Bagaimana puasny
a

Pada saat itu, sama sekali tak terbayang kesulitan yang dihadapi,
misalnya bagaimana jika hujan , atau kendaraannya mogok di tengah jalan, tali
kailnya putus. Hal-hal itu sama sekali tidak masuk ke dalam pikirannya. Meski
sebenarnya dalam kenyataan  itu terjadi
.

Seorang sahabat, mengeluh karena ia mulai merasakan bosan dan
malas saat akan berangat mengajar. Ia mengeluh karena merasa usianya sudah tua
dan beberapa saat lagi pensiun. Keluhan yang sama juga dirasakan seorang
yang menyebabkan perasaan malas itu menghinaggapinya?
sahabat, padahal usianya jauh lebih muda di bawahnya. Saat dtelisik, apa

Rasa malas  situ ternyata berasal dari pikirannya, bukan dari
perasaannya. Saat ia akan berangkat, ia selalu terpikir kelakuan siswanya yang
nakal, sulit di atur, tidak mau mengerjakan tugas yang diberikan. Belum lagi ia
kurang begitu suka dengan sikap kepala sekolahnya yang sangat disiplin, selalu
jakan sekolah yang sering berubah dan berganti yang memberikan beban tamba
mengorek kesalahannya, cerewet dan sebagainya. Juga berbagai instruksi dan keb
ihan baginya.

Benarkan siswanya nakal? Ya memang, tetapi dari puluhan siswanya
satu kelas , hanya satu dua saja yang ulahnya berlebihan. Ia lupa ada puluhan
murid lain yang selalu memperhatikan saat ia mengajar. Anak-anak tidak mau
sinya kurang jelas. Tentang sikap kepala sekolahnya yang seperti it
mengerjakan tugas, itu bukan sifat mereka. Itu  karena perintah dan instru
ku, ia lupa di sekolah tempatnya mengajar kan tidak hanya ada seorang kepala sekolah,
atnya itu ada juga yang senasib dengannya.
juga ada teman guru yang lain yang masih mau menjadi sahabatnya, bahkan diantara saha
b

Rasa malas  sang sahabat sebenarnya bersumber dari apa yang
dia pikirkan. Semuanya seakan-akan menjadi sulit dan berat. Demikianlah ia
mulai hari dengan memikirkan hal-hal yang tidak menyenangkan.

Kalau saja kita mau mengubah pikiran kita, mungkin semuanya menjadi
lain. Saat kita akan pergi mengajar. Saat itulah sebenarnya kita berpikir dan
merasakan “suasana” kegembiraan dan kesenangan memancing, bayangkan tentang
irkan “yang senang-senang saja”. Mulai saat ini, mengapa pikiran  kita b
ikan yang menggelepar saat kalil kita dipagut ikan. Pendeknya, mari kita pi
kiarkan hanyut dengan menderita dengan bayangan negative yang kita buat sendiri?  Kitalah sebenarya “pemilik” isi pikiran kita, mau jadi
menyenangkan atau mau jadi menjengkelkan semuanya atas kuasa kita. Kita tinggal memilihnya. Selamat memilih
.

Jika tahun ajaran baru ini cara mengajar dan metode yang kita terapkan “kopi paste” dengan tahun yang lalu, maka bersiaplah untuk stress



Oleh Iwan Ardhie priyana
Oleh Iwan Ardhie priyana
Mengapa? Karena salah satu factor pencetus stress adalah rutinitas yang monoton. Rutinitas  yang monoton akan menimbulkan kejenuhan dan kebosanan, bahasa gaulnya BT. Kalau gurunya BT, jangan terlalu berharap anak didik kita bersemngat dan bergairah. Kejenuhan yang secara tidak langsung ditunjukan guru, seperti virus yang akan mudah menular pada siswa. Kalau gurunya sudah BT, dan anak meresponya dengan BT pula, kira-kira apa yang terjadi di kelas ?  Silahkan bayangkan sendiri.
Jadi, jawaban mengapa anak-anak seperti kurang termotivasi belajar, yang sering dikeluhkan oleh para guru, mungkin perl u di jawab sendiri oleh guru, apakah selama ini para guru  kita telah menumbuhkan iklim bergairah di dalam kelas? Kalau menggunakan teori stimulus = respon , maka jawabanya mudah, respon yang diberikan siswa adalah jawaban langsung dari stimulus guru. Stimulus yang kita berikan  dalam bentuk kejenuhan bisa di gambarakan sebagai negative, dan responnya pun menjadi negatif  pula. Jadi, seperti kata pepatah, kata berjawab gayung bersambut.
Seperti yang telah disebutkan di atas, rutinitas  yang monoton akan menjadi factor pemicu stress. Hasil penelitian  yang ditemukan mengenai stress dan pekerjaan, dilihat dari sisi psikologis memang bukan kabar baik, dan  kelihatannya perlu diwaspadai . Apa saja itu? Nah inilah sebagian gejalanya. :
Kecamasan, ketegangan, kebingungan dan mudah tersinggung
Perasaan frustasi , marah dan dendam (kebencian)
Sensitif dan hyperreactivity
Komunikasi yang tidak efektif
Perasaan terkucil dan terasing
Kebosanan dan ketidakpuasan kerja
Kelelahan mental, penurunan fungsi intelektual dan kehilanga n konsentrasi
Kehilangan spontanitas dan kreatifitas
Menurunnya rasa percaya diri.
Tidak ada yang bagus kan? Itu baru satu aspek, masih ada aspek lain, misalnya gejala  fisiologis dan gejala perilaku. Tapi, stop dulu lah… tunggu ulasan berikutnya.  Harapannya, semoga tidak stress menunggu kabar berikutnya.


Memahami Fenomena Kesurupan pada Siswa



Oleh Iwan Apriyana

Kesurupan menurut pandangan tradisional adalah peristiwa  masuknya satu kekuatan ke dalam tubuh seseorang yang kemudian menjelma menjadi tokoh lain di luar diri seseorang tersebut.  Sebagian masyarakat menganggap kesurupan sebagai fenomena mistik yang luar bisaa dan aneh. Kesurupan sering  dihubungkan dengan keadaan jiwa  seseorang yang berada dalam situasi “kosong”. Di Bali, kesurupan dimaknai sebagai sinyal dari  kekuatan roh dan leluhur  yang sedang menunjukkan kuasanya atas situasi yang terjadi.  
Respon terhadap kesurupan  terbelah menjadi dua kubu yang saling bertentangan. Ada yang memandang kesururpuan sebagai fenomena mistik, dan supranatural, seperti pandangan tradisional tadi, ada juga pandangan yang menganggapnya sebagai fenomena psikologis. Akibat dari kedua pandangan tersebut, penatalaksanaan  terhadap kesurupan pun menjadi berbeda pula.
Karena  kesurupan merupakan fenomena mistik, pandangan tradisonal melakukan penyembuhan dengan menggunakan kekuatan supranatural seperti doa-doa; dan mantra ; yang dilakukan oleh tokoh yang memiliki mekuatan supranatural pula, seperti pawang, dukun  ustad dan sebagainya. Tokoh-tokoh tersebut diyakini memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan roh yang “nyurup”;  sehingga dapat  mengembalikan kekuatan  yang “nyurup”  tadi ke luar dari diri seseorang untuk kembali ke habitat asalnya.
Dalam khazanah kesenian tradisional, fenomena kesurupan memang sengaja dipelihara, untuk menunjukkan keunikan yang dimiliki seni tradional tersebut. Seperti tampak pada kesenian kuda lumping.  Para pemain kuda lumping diyakini telah dimasuki roah gaib sehingga membuatnya mampu melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan oleh akal sehat. Seperti memakan beling, rumput dan sebagainya .
Namun, entah karena jenuh tinggal di alam lain, atau mungkin ingin mencoba pengalaman baru,  para roh dan mahluk dari dunia lain yang bisanya hadir nyurup ke dalam pemain kuda lumping, kini rajin pula  bersemayam dan nyurup pada pelajar sekolah kita . Dunia pendidikan pun menjadi sangat sibuk dan heboh dengan adanya fenemona kesurupan yang melanda para siswa tersebut . Kejadian tersebut tak urung  memunculkn spekulasi  adanya ketidakyamanan para roh atau mahluk lain yang “ngageugeuh” di sekitar sekolah tersebut. Untuk itu ada juga sekolah yang mengadakan ritual-ritual tertentu sebagai bentuk kompromi dengan para roh supaya tidak berulah dan menyambangi para siswa.
Benarkah  fenomena kesurupan  itu sebagai fenomena mistik sebagai akibat dari masuknya satu entitas ke dalam tubuh badan seseorang ? Asep Haerul Gani,  seorang psikolog yang juga trainer pada pelatihan Ericksonan Hiynoterapy dengan tegas menyangkalnya. Menurutnya, kesurupan yang  dialami para siswa adalah gejala psikologis, dan tidak memiliki relasi atau disebabkan oleh adanya fenomena mistik, yakni jin yang masuk ke dalam diri siswa. Berkaitan dengan maraknya gejala kesurupan yang melanda para siswa sekolah, Asep menengarai adanya faktor pemicunya. Pertama gajala kesurupan muncul saat menjelang Ujian Sekolah dan UN (Ujian Nasional), kedua kesurupan terjadi dibeberaa seolah tertentu yang menerapkan sistem belajar full day.
Menurut Asep, kesurupan dipicu oleh adanya stress yang melanda siswa. Stres yang dialami para siswa mengalami titik didih  akibat orang tua yang atau pihak lain seakan-akan tidak peduli pada keaadan siswa. Pada saat tertentu, stress yang mengalami titik didih itu meledak dalam bentuk kesurupan. Kesurupan yang dialami para siswa  bersifat massal, karena sugesti yang ditimbulkannya. Pada saat kesurupan siswa menunjukkan gejala perubahan pisik, seperti terdengar auman, cakaran, teriakan, kejang pada kaki dan tangan, bola mata membelakak.  Dalam kondisi seperti itu, seolah-olah siswa  menjelama menjadi mahluk lain dari dunia lain.
Berkaitan dengan adanya tokoh lain, seperti “mahluk gaib” yang menjelma pada diri seorang pelajar, Asep menjelaskannya dengan menggunakan pendekatan psikologi  budaya. Menurutnya, ketika tidak ada orang yang perduli dengan dirinya  , maka siswa yang mengalami kesurupan  mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh lain yang pernah hidup dalam pandangan masyarakat disuatu daerah yang  memiliki pengaruh dan kekuatan.  Hal itu dilakukan untuk memberi tekanan pada orang lain agar memperhatikan dirinya. Lalu, bagaimana para siswa mengenal dan menhadirkan tokoh itu? Menurut Asep  kehadiran tokoh itu sendiri mungkin dikenalnya melalui cerita-cerita yang pernah di rekam di alam bawah sadarnya.
Dengan menggunakan logika seperti ini, kita dapat melihat hal ini pada perilaku seorang anak yang sangat mencintai tokoh tertentu, seperti sipderman, batman dan tokoh-tokoh lain yang menjadi idolanya. Dan pada saat-saat tertentu sang anak pun menunjukkan tingkah laku, dan katakter tokoh yang menjadi idolanya. Itulah saat dimana seorang anak sedang mengalami “kesurupan” dan orang dewasa menganggapnya sebagai hal yang lumrah.
Dalam hal penanganan terhahap kesurupan, seperti yang pernah dilakukannya, Asep Haerul Gani, menggunakan dua macam teknik , yakni dengan teknik mengikuti polanya, memotong polanya.
Cara pertama dlakukan denban mengajak berdialog dengan seseorang.  dalam stuasi seperti ini ,orang yang akan menyembuhkan dituntut untuk  memahami alur pikiran orang yang kesurupan. Dalam kasus ini Asep mencontohkan saat ia menangani seseorang yang kerurupan dengan mengaku  dirinya sebagai “macan” dari hutan tertentu. Maka saat itu Asep mengajak dialog “sang macan” setelah dialog itu “nyambung” Asep meminta  agar macan itu tidur beberapa menit, dan benar saja macan itu mengikuti perintahnya dan tertidur, saat bangun orang yang  kerusupan sudah sadar kembali.
Cara yang kedua dengan menggunkan  teknik memotong polanya. Untuk kasus ini Asep memiliki pengalaman saat menyembuhkan orang yang mengaku sebagai jin dari wilayah tertentu. Saat berdalog dengan jin itulah Asep mengancamnya akan membakar jin tersebut, entah karena takut dengan ancanamn tersebut , sesaat kemudian orang yang keurupan itu sadar.
Berkaitan dengan pandangan bahwa kesurupan  terjadi karena ada jin yang masuk ke dalam diri seseorang, Asep memiliki pemahaman  bahwa jin yang dimaksud adalah jin yang berasal dari bahasa Arab “jinna” yang artinya “tersembunyi” ; bukan dalam pengertian jin sebagai mahluk gaib atau mahluk halus.
Mengingat fenomena kesurupan bukanlah fennomena mistik, tetapi merupakan gejala psikolgis, maka sudah sewajarnya jika pihak sekolah dan orang tua memahami kondisi kejiwaan para siswanya, terutama menjekang kegiatan Ujian Nasional , dimana kondisi kejiwaan siswa berada dalam tekanan yang hebat. Untuk itu diperlukan suasana yang nyaman dan kondusif . Untuk mencegah terjadinya kesurupan pada siswa guru perlu memiliki “mantra-mantra” berupa kata-kata atau pernyataan menyejukkan yang bisa menjelmakan suasana yang nyaman dan tenang. Bukan dengan  pernyataan dan kata-kata  yang malah bisa memicu tekanan itu lebih berat lagi sehingga menjadi pemantik bagi diri siswa untuk terjadinya kesurupan.


                                                                                                                                                    Penulis,
                                                                                                                  Peminat Erikcsonian Hyponterapy
                                                                                                                  Guru SMPN 1 Nagreg Kab. Bandung


  (Iwan Apriyana, SMPN 1 Nagreg Kab. Bandung, Jl Raya Nagreg 776, 081573138069/022 7950794, iwanapriyana@yahoo.co.ic)

Mengembangkan Imajinasi Siswa



Oleh Iwan A.Priyana

Manusia hidup dalam ruang dan waktu yang terbatas. Akan tetapi manusia punya peluang  untuk menjelajah ke angkasa luar, atau ke tempat yang jauh sekalipun. Bahkan,   juga   berkelana atau menuju hari esok yang diimpikannya. Manusia juga bisa membayangkan apapun yang diinginkannya yang boleh jadi mustahil  dilakukan dalam keadaan nyata. Semua itu dimungkinkan karena manusia memiliki kesanggupan berimajinasi. Imajinasi menurut  aliran psikologi behavioristik, merupakan satu dari empat anugerah yang dimiliki manusia, disamping Self Awareness (kesadaran diri), Conscience (hati nurani), Independent Will (kebebasan kehendak)  .
Einstein menyebut bahwa imajinasi lebih penting dari ilmu pengetahuan. Namun, sayangnya kegiatan berimajinasi belum memiliki tempat yang semestinya, termasuk dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini berkaitan dengan persepsi umum bahwa imajinasi erat kaitannya dengan menghayal. Dan menghayal adalah pekerjaan yang sia-sia.Padahal kegiatan berimajinasi dalam pendidikan memiliki manfaat yang luar biasa, sebab dengan berimajinasi dapat mendorong siswa lebih kreatif.
Terkadang Persepsi yang keliru, sering kali membuat kegiatan berimajinasi menjadi terhambat. Hal ini dijumpai  misalnya pada kegiatan menggambar dan kegiatan mengarang pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Untuk mengeksploitasi kemampuan imajinasi kreatif para siswa, langkah-langkah berikut dapat digunakan untuk membantu mengembangkan kemampuan berimajinasi .
1. Berikan Stimulus Yang menantang. Otak manusia sebenarnya akan mudah bekerja apabila diberi tantangan. Imajinasi berkaitan dengan kerja otak. “Tuliskan pengalaman mu saat bajir” , boleh jadi kurang menarik, karena mungkin pengalaman itu adalah pengalaman yang menyebalkan. Jangankan menceritakaanya, bahkan untuk mengingatnya pun siswa  tidak suka. Ada pengalaman pengalaman hidup yang tidak menyenangkan yang membuat siswa menjadi tertutup. Respon siswa akan berbeda misalnya bila diminta menjadi  seorang pejabat, baik presiden , mentri  ,gubernur maupun  bupati yang dihadapkan pada persoalan banjir . Tentu akan sangat menarik bagaimana siswa memiliki solusi mengatasi bajir dengan berpedoman pada  imajinasinya.
Dalam menggambar, anak lebih senang memilih sendiri objek yang menarik perhatiannya, bukan yang menarik perhatian guru. Tak ada salahnya guru menantang siswa untuk menggambar objek yang luar biasa, misalnya robot berkepala hewan, tabarakan kapal di udara, perahu bersayap dan sebagainya. Ini tentu lebih menantang daripada  diminta  menggambar pemandangan alam, atau objek tertentu yang sudah dispersiapkan guru.
2. Hindari Pembatasan. Imajinasi akan mudah berkembang bila tidak ada hambatan berupa pembatasan-pembatasan berdasarkan ukuran orang dewasa. Misalnya, siswa dalam menggambar gunung, langit, sawah, siswa harus menyesuikan diri dengan keadaan aslinya. Seakan-akan warna itu sudah baku dan menjadi ketentuan yang tidak boleh di ubah karena guru berpikir tidak ada laut berwarna coklat, atau gunung berwarna pink. Dengan berimajinasi,siswa  bisa bereksperimen dengan warna yang dipilih, dan ini tentu akan melahirkan warna-warna yang diluar dugaan tapi sangat positif.
Demikian juga halnya dalam pembelajaran mengarang. Terkadang sederet aturan , seperti jumlah paragraph, kerangka karangan, dan aturan kebahasaan membuat siswa merasa  terikat. Tentu saja, aturan tersebut tetap harus diperhatikan, namun itu akan di lakukan setelah proses mengarang selesai. Aturan-aturan dan pembatasan yang terlalu dini menimbulkan ketakutan dan rasa bersalah apabila melanggarnya. Situasi tersebut tentu tidak mendukung upaya untuk mengembangkan imajinasi. (Penulis guru SMP N1 Nagreg dan SMP YP 17 Nagreg Kab. Bandung)

PHOBIA SEKOLAH



Oleh Iwan Ardhie Priyana

Sekolah berasal dari “skul” artinya tempat yang menyenangkan. Akan tetapi, di sekolah seorang siswa sering  merasa tertekan karena disiplin sekolah yang sangat ketat, pemberian tugas (PR) oleh guru  yang menyiksa,  belajar yang membosankan karena cara mengajar guru yang tidak menarik, belum lagi siksaan duduk berjam-jam saat guru “menjelaskan” materi pelajaran. Penambahan pelajaran tambahan yang dipaksakan. Sikap bapak ibu guru yang “killer”. Ditambah berbagai aturan lain yang  harus ditaati, serta berbagai sangsi yang menyakitkan.Walhasil, sekolah dengan kondisi seperti   itu bukan menjadi tempat yang menyenangkan, tapi malah menyiksa.
Jika orang tua melihat anaknya tidak bergairah untuk sekolah, sering bolos, menghindari sekolah dengan alasan sakit atau alasan kepura-puraan, jangan buru-buru memvonis anak dengan kata “malas”, kurang motivasi, manja dsb. Siapa tahu kondisi tersebut lebih disebabkan oleh situasi sekolah yang menyiksa tersebut. Tidak selamanya problem belajar  siswa tersebut  dipicu  fakor intrinsik, yakni kondisi di dalam diri si anak, namun bisa juga berumber dari lingkungan belajar siswa sendiri. Faktor lingkungan belajar yang tidak menyenangkan itu dapat menimbulkan phobia sekolah. Inilah kondisi yang tidak diharapkan oleh semua orang tua. Phobia sekolah merupakan gejala ketakutan seorang siswa pada apapun yang  berhubungan dengan sekolah.
Kasus phobia sekolah  dilaporkan pernah terjadi di Jepang. Sekitar lima ratus siswa sekolah dasar merasa takut bila melihat guru dan lingkungan sekolah. Hal ini disebabkan karena tuntuan yang tinggi pada setiap siswa di sekolah tersebut sehingga menimbulkan tekanan psikologis bagi siswa. Di Indonesia kasus tersebut belum ditemukan. Akan tetapi, gejala phobia sekolah sudah muncul.  Kasus ini dapat dilihat banyaknya siswa yang bolos saat jam pelajaran,  tidak memiliki gairah untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan sekolah, sering mogok sekolah, mencari alas an untuk tidak sekolah, malas mengerjakan PR, bahkan kadang-kadang membenci pada guru,serta  mencurat-coret sekolah. Perlu pula dicermati, mengapa banyak siswa  yang terpaksa DO. Tentu ini bukan semata-mata karena alasan ekonomi, sebab pemeritah telah membebaskan biaya pendidikan di tingkat sekolah dasar dan menengah.
Pendidikan merupakan barometer kemajuan bangsa. Melalui sekolah dicetak manusia yang memiliki sumber daya yang unggul untuk siap berkompetensi dalam kancah persaingan. Bagaimana cita-cita luhur itu terwujud apabila sekolah “dimusuhi”. Bagaimana nasib Wajar Dikdas sembilan tahun  mencapai sasaran, apabila sebagian siswa mengalami phobia sekolah. Bagaimana siswa bisa belajar dengan nyaman bila sekolah dianggap sebagai tempat yang menakutkan.
Menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang  yaman. Tidak hanya lingkungan fisik semata, tetapi suasana kondusif di mana siswa merasa dia berada di tempat yang disukainya. Perlu diciptakan suasana komunikasi yang hangat antara siswa dan guru, sehingga siswa menganggap guru tidak hanya seb agai orang tua, tetapi juga sekaligus sahabat.
Di pihak lain, orang tua juga perlu memperhatikan siswanya di rumah, peka terhadap keluhan-keluhan yang dilontarkan oleh siswa, serta mau menjadi pendengar yang baik bagi anak-anaknya. Orang tua tidak langsung menyalahkan pihak sekolah bila ada hal yang menurutnya tidak sesuai, juga tidak bisa men”stigma”  siswa , sehingga menyebabkan siswa semakin tertekan. Orang tua bisa berkomunikasi dengan pihak sekolah untuk memecahkan berbagai masalah yang berhubungan dengan kemajuan siswanya di sekolah. Bila perlu, orang tua  mendapat informasi apapun yang berhubungan dengan aktivitas sekolah, sehingga  terjadi saling pengertian.
Ujung tombak pendidikan adalah guru. Di sinilah pentingnya guru mampu menciptakan kegiatan belajar mengajar yang menarik dan menantang. Di samping harus menciptakan metode pembelajaran yang bervariasi dan menarik, sedapat mungkin juga guru menghindari tugas-tugas yang bisa memberikan beban bagi siswa, seperti memberi  PR yang memberatkan, memberikan tugas tambahan yang menyulitkan. Kalaupun harus member tugas dipilih tugas yang menantang kreativitas siswa.


Iwan Ardhie Prieyana, Guru SMPN 1 Nagreg dan SMP YP 17 Nagreg Kab. Bandung

Senin, 04 Juni 2012


Membebaskan Siswa dari “Penjara” Kelas

Ketika berada di dalam kelas , seorang guru mengkondisikan  kelas agar nyaman  dengan cara menginstruksikan siswa duduk dengan tenang di bangkunya, tidak mengeluarkan gerakan maupun suara. Mengapa? Karena suara dan gerakan akan dipersepsikan sebagai gangguan yang akan menyebabkan “kerja otak” terganggu, sehingga tujuan belajar tidak tercapai.  Kondisi pembalajaran dalam kelas seperti itu tampaknya telah menjadi  satu formula dalam kegiatan pembelajaran baik di tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah. Walhasil,  kegiatan belajar mengajar dalam kelas menjadi monoton dan tidak menggairahkan sehingga lebih mirip “penjara” bagi siswa.
Proses belajar sesungguhnya merupakan  proses yang melibatkan kerja otak. Penelitian dan studi tentang otak sebagaimana di tulis oleh Jalauldin Rakmat lewat buku “Belajar  Cerdas , Belajar Berbasiskan Otak”, bisa mengubah persepsi dan pandangan kita tentang belajar. Berbagai eksperimen yang telah dilakukan  untuk mengetahui bagaimana kerja otak, menunjukkan bahwa  otak bekerja dengan baik bila disertai dengan gerakan serta di beri tantangan. Pendeknya,  budaya belajar yang monoton ternyata menyebabkan pekerjaan otak kurang berkembang. Untuk itu , guru perlu m elepaskan “kepercayaan “ tentang konsep belajar yang monoton menjadi kegiatan yang penuh gerakan dan tantangan, dan pada batas-batas tertentu toleransi pada kegaduhan. “Tikus-tikus pada usia berapapun dapat meningkatkan kecerdasannya jika diberi pengalaman belajar baru yang menantang dan berulangkali “ tuis Jalaludin Rakhmat mengutip Eric Jensen.
Lalu, bagaimanakah proses belajar mengajar yang dapat merangsang kerja otak? Tak ada salahnya  saran-saran David Saousa di bawah ini  dapat dijadikan referensi  berharga bagi para guru, dalam menciptakan suasana kelas yang menggairahkan, dan penuh tantangan.
Humor , humor di  dalam kelas  banyak memberikan keuntungan positif.  Berkaitan dengan saran ini Guru perlu menguji kembali anggapan bahwa humor bisa menurunkan wibawa guru.
Pergerakan. Ketika kita duduk diam selama lebih dari dua puluh menit, darah dalam tubuh terkumpul di pantat  serta di kaki kita. Dengan bangkit dan bergerak, kita melancarkan aliran darah. Dalam satu menit saja, kita akan memiliki 15 persen lebih banyak darah dalam otak. Kita benar-benar bisa berpikir lebih jernih sambil berdiri daripada sambil duduk.
Berapa jam kah pata siswa berada di sekolah? Khususny di dalam kelas ? Kurang lebih 4 jam  dikurangi waktu istirahat dua puluh menit  setiap hari, mereka ada di dalam kelas.  Kita bisa membayangan sebeku apa darah mereka. Guru dapat berupaya membuat siswa bangkit dan bergerak, terutama saat mereka harus berlatih secara verbal apa yang baru saja mereka pelajari.
Pengarahan multi-indrawi. Anak-anak masa kini sudah terbiasa dengan lingkungan yang multi-indrawi(melibatkan seluruh indera). Mereka akan lebih tertarik untuk memperhatikan pelajaran jika terjadi objek visual yang menarik serta berwarna-warni, serta jika mereka bisa berjalan-jalan di sekeliling kelas dan nembicarakan pelajaran yang mereka dapat.
Sudah saatnya guru tidak hanya mengunakan kapur berwarn putih saja, tetapi bisa memanfaatkan kapur berwana-warni, disertai dengan gambar dalam bentuk lingkaran kotak atau pun dalam bentuk visual.
Kuis dan Permainan. Mintalah murid-murid untuk membuat sebuah kuis atau permainan untuk saling menguji kemampuan mereka tentang konsep-konsep yang telah diajarkan. Ini merupakan startegi umum  yang sering diterapkan di kelas-kelas dasar, tetapi jarang digunakan di sekolah-sekolah menengah. Selain menyenangkan, permainan serta kuis memiliki nilai tambah, dalam arti mengharuskan murid-murid untuk berlatih dan mengerti sebuah konsep sebelum mereka bisa membuat pertanyaan-pertanyaan kuis beserta jawabannya..
Untuk menciptakan kuis, guru dapat saja memodifikasi dan mengadopsi  berbagai kuis di televise sesuai dengan kondisi dan tujuan yang ingin dicapai.
Musik. Meskipun penelitian ini masih tidak memiliki bukti-bukti lengkap, terdapat beberapa keuntungan jika kita memainkan musik di dalam kelas pada waktu-waktu tertentu  selama pelajaran
Pada umumnya, siswa dan guru menyenangi musik, musik menimbulkan kenikmatan dan kesenangan. Namun, memang bermain musik di dalam kelas , diluar pelajaran kesenian memang sesuatu yang aneh, tapi tak ada salahnya dicoba.
(Penulis guru SMPN 1 Nagreg, SMP YP 17 Nagreg dan Pengelola Bapinger Education Cicalengka)



Hipnotis Masuk Sekolah? Siapa takut !



Melalaui salah satu acara di TV, Uya Kuya berhasil menghipnosis masyarakat bahwa hionosis itu adalah upaya menelanjangi atau membongkar aib orang lain. Tak terlalu mengherankan bila kemudian masyarakat alergi terhadap hypnosis. Apalagi banyak modus kejahatan dengan modus “hipnotis”. Lengkaplah sudah stigma masyarakat terhadap hypnosis sebagai sesuatu yang mesti diwaspadai, atau bila perlu dianggap sebagai “kelakuan sesat”.
Dibalik semua kesesatan yang dimilikinya, hypnosis sebenarnya merupakan kajian ilmiah. Bahkan perkembangan hypnosis yang demikian pesat pun sudah mulai membidik wilayah pendidikan. Kemudian munculah hipnoteaching. Dengan kata lain, hipnoteaching adalah pendekatan pembelajaran untuk menggali potensi siswa dan mengefektifkan proses pembelajaran, dengan menerapkan teknik  hipnotis.
Berdasarka asumsi itulah, saya mencoba memasyarakatkan hipnoteaching di sekolah. Gairah saya semakin bertambah besar saat sahabat baik saya Prof. Suherli ( guru besar di Universitas Galuh Ciamis), menulis komentar di akun fecebook saya  “metode Sugestopedia yang dikembangkan Gategno, yaitu sebuah metode yang mengangkat potensi bawah sadar seseorang untuk merambah dan terlibat di dunia imaji yang dimanipulasi melalui audio. Selamat mengembangkan metode tersebut!”. Saya penasaran ingin menggali sugestopedia dari beberapa sumber. Ternyata, sebelumnya suda ada juga yang men coba melakukan penelitian penggunaan metode sugestopedia ini.
Metode ini (sugestopedia) ditemukan oleh seorang psikiater Bulgaria, Dr. Georgi Lozanov. Bermula ketika Lozanov menganalisis pasien-pasien kejiwaan dengan musik baroque yang menenangkan dan memberi mereka sugesti positif mengenai kesembuhan mereka. Ternyata banyak pasien mengalami kemajuan besar.
Lozanov merasa bahwa metode ini juga dapat diterapkan pada pendidikan. Menurut Lozanov, “suggestology” adalah sebuah pengkondisian kegiatan belajar-mengajar yang memungkinkan para pembelajar untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan dengan upaya yang normal, dan dibarengi kegembiraan.

Intinya antara hipnoteaching dengan metode sugestopedia ini memang memliki tujuan dan prinsip yang sama. Yang menggembirakan adalah bahwa hipnoteaching adalah kajian ilmiah dan sangat bermanfaat bila diterapkan dalam dunia pendidikan. Jadi tak ada alasan untuk menolak hinpteaching di dalam dunia pendidikan. Hipnoteaching atau sugetopedia, tentu tidak sama dengan Uya Kuya. Hinponisi di sekolah? Siapa Takut.
(Artikel  ini sebagai bahan saya untuk artikel di harian Galamedia)

Mungkinkah Pelajar kita Mengidap “Nekrofillia” ?



Oleh Iwan Ardhie Priyana

Fenomena kekerasan dan kebrutalan yang dilakukan para pelajar belakangan ini, tampaknya memiliki kecenderungan mengalami kenaikan baik dari sisi kualitas ,maupun kuantitas. Maraknya fenomena kekerasan, anarkisme, serta kenakalan pelajar yang cenderung overdosis, dan di luar takaran kepatutan itu, oleh kalangan sosiolog ditengarai sebagai mulai berjangkitnya nekrofilia.
Nekrofilia adalah bentuk perlaku destruktif dengan mengeploitasi dan merusak orang lain atau benda-benda serta lingkungan. Gejala nekrofilia ditunjukkan dengan berbagai bentuk perilaku sadis, seperti tertarik dan berpenampilan pada segala bentuk kematian, senang berbicara penyiksaan, kamatian dan penguburan. Mereka yang diindikasikan gejala nekrofilia memilki kecenderungan untuk terikat dengan kekuasaan, dan menyelesaikan persoalan dengan menggunakan kekerasan.

Faham orang bermental nekrofilia selalu memandang orang-orang di sekitarnya sebagai objek yang harus ditaklukan. Dalam paradigma seperti ini jelas tidak mungkin bagi pribadi seperti ini mengakui eksistensi yang lain, selain berusaha menghancurkannya dengan berbagai cara.
Menurut Form, sebagaimana dikutip Mubiar Agustin dalam tulisanya “Kecenderungan Nekrophilia pada Pelajar” nekrofilia , merupakan sebuah penyakit yang ditularkan oleh sistem sisio-kultural di masyarakat. Pendapat senada dikemukakan oleh Sosiolog dari Universitas Diponegoro, Semarang, Triyono Lukmantoro bahwa nekrofilia ditentukan situasi-situasi sosial yang melingkupi kehidupan individual. Lenyapnya cinta terhadap sesama adalah salah satu pendorong kemunculan nekrofilia. Sistem kehidupan yang terarah pada relasi yang saling mengasingkan merupakan pemicu merebaknya masyarakat nekrofilia.

Model-model perilaku nekrofilia dapat dengan mudah dijumpai melalui berita media massa. Para pelajar kita disuguhi adegan tawuran politikus dalam sidang parlemen, saling hujat antara satu kelompok dengan kelompok yang lain, bentrokan fisik antara satu ormas dengan ormas yang lain, demontrasi yang selalu berujung ricuh, penggusuran PKL dan eksekusi rumah yang dibumbui adegan saling pukul, protes pilkada dengan membakar fasilitas umum, kasus pembunuhan dengan cara mutilasi yang menjadi “tren” -untuk menyebut beberapa contoh- telah menjadikan metode pembelajaran yang efektif atas fenomena kekerasan yang dipertontonkan tanpa filter dan sangat telanjang di depan mata para pelajar kita.

Gejala nekrofilia sesungguhnya dapat ditangkal, apabila semua komponen di masyarakat baik yang terkecil yakni individu serta keluarga sampai dengan negara dan bangsa harus secara aktif mengubah nilai ke arah yang positif. Form menyadari, bahwa masyarakat narsistik dan ekploitatif tidak akan eksis, Form pun meyakini bahwa masyarakat akan senang hidup dalam kooperasi dan harmoni, masyarakat yang sehat akan menciptakan individu yang sehat.
Akan tetapi, kita menyadari bahwa, menciptakan model kehidupan masyarakat seperti yang digambarkan Katon Bagaskara “ dimana kedamaian menjadi istananya” tidaklah mudah. Masyarakat yang demikian itu akan terwujud jika ada kesadaran kolektif bangsa ini menciptakan harmoni dan kedamaian melalui sikap toleran, saling menghargai, saling membutuhkan, mengedepankan kepentingan bangsa di atas kepentingan partai, kekuasaan dan kelompok. Keteladanan (sesuatu yang sudah mulai langka belakangan ini) perlu ditumbuhkan baik di level bawah, seperti guru, orang tua , sampai dengan pejabat dan pengambil keputusan seperti pejabat pemerintah, politisi, dan elit-elit parpol.

Sikap legawa untuk mau menerima kekalahan dengan gentlemen (tidak hanya sekedar ikrar belaka), demokrasi yang menjunjung tinggi sportifitas, dapat menjadi prasyarat untuk mereduksi konflik-konflik yang bernuansa kekerasan, sehinga tidak menjelma menjadi sebuah tontonan yang dapat memancing kebencian. Benar memang kata Form bahwa individu yang sehat akan dari masyarakat yang sehat.
Upaya yang sungguh-sungguh untuk menata kembali bangsa ini melalui komitmen berbagai komponen bangsa; meniscayakan lahirnya sebuah masyarakat yang sehat tempat para remaja dan pelajar kita sebagai penerus masa depan meniti kehidupannya dengan penuh rasa aman, damai dan penuh optimisme. 

Akualisasi Nilai Kepahlawanan dalam Pendidikan



Oleh Iwan A.Priyana

Selama tiga abad lebih tanah air kita dibelenggu oleh penjajah, berkat jasa dan perjuangan para pahlawan belenggu itu berhasil dilepaskan. Oleh sebab itu , benarlah kata pepatah bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang meghargai pahlawannya. Sebaliknya, hanya bangsa yang kerdilah yang tidak mau menghargai jasa para pahlawan yang telah mengorbankan harta dan raganya untuk mencapai kemerdekaan. Meski secara fisik perjuangan para pahlawan telah usai seiring dengan lahirnya kemerdekaan, akan tetapi sesungguhnya semangat serta nilai-nilai kepahlawanan harus tetap dikorbankan dan diaktulisasikan oleh generasi berikutnya. Atkualisasi nilai-nilai kepahlawanan tersebut dapat diimplemesikan dalam dunia pendidikan.

Setidaknya, ada tiga nilai kepahlawanan yang  perlu diaktulisasikan dalam dunia pendidikan, yakni : 1) berjuang untuk tujuan mulia, 2) rela berkorban dan 3) semangat pantang menyerah. 

Berjuang untuk tujuan mulia.  Kemerdekaan agar  bebas dari segala macam bentuk pejajahan adalah tujuan mulia yang senantiasa menjadi spirit perjuangan para pahlawan. Dalam konteks pendidikan, siswa yang belajar pada dasarnya ingin mencapai tujuan mulia, yakni mencapai cita-cita , serta menjadi manusia yang berguna. Inilah nilai yang perlu kembali di tanamkan pada siswa. Saat ini makna pendidikan sering kali direduksi hanya sekedar memperoleh ijazah, mendapat gelar, atau bahkan lebih sempit lagi hanya sekedar lulus  ujian. Pendangkalan tujuan pendidikan ini yang menyebabkan para siswa kehilangan semangat dan gairah belajar, menjadi apatis, dan bahkan mungkin kehilangan arah dan tujuan . Harapan untuk mencapai tujuan mulia itulah hal penting yang perlu terus menerus ditanamkan pada para siswa agar mereka menjadi manusia yang memiliki visi ke depan.

Para pejuang kita dahulu berjuang untuk mencapai kemerdekaan tersebut dengan mengorbankan, harta dan nyawa. Pepatah mengatakan “ Jer besuki mawa bea”, tiada perjuangan tanpa pengorbanan. Seseorang yang sudah berniat ingin berjuang tentu harus memikul resiko untuk mau berkorban. Mustahil sebuah perjuangan dapat direbut hanya dengan berpangku tangan, atau sekedar mengharap durian runtuh. Demikian juga dalam pendidikan. Pendidikan sebagai sebuah perjungan memerlukan pengorbanan, baik berupa finansial, waktu dan tenaga. Bahwa tujuan yang ingin dicapai haruslah melalui perjuangan yang berat, penuh tantangan dan hambatan. Para siswa perlu memahami hal ini agar mereka bersungguh-sungguh dalam menempuh pendidikan.

Seorang pahlawan memilki semangat pantang menyerah. Para pahlawan kita dikenal sebagai para pejuang yang gagah berani, meskipun mereka hanya bermodal bambu runcing , atau senjata rakitan. Tetapi semangat pantang menyerah yang dimiliki para pejuang bangsa inilah yang mampu mengalahkan senjata modern para penjajah. Saat ini, semangat itu perlu kembali di tanamkan dalam dunia pendidikan. Dewasa ini banyak siswa yang terpaksa drop out atau tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi dengan alasan ekonomi. Angka partisipasi sekolah serta  angka rata-rata melanjutkan sekolah di beberapa daerah berada pada level rendah. Anak-anak yang berusia sekolah banyak yang terpaksa menjadi anak jalanan , pengamen , pemulung dsb, dengan alasan  biaya, meski pemerintah sudah  berupaya keras dengan berbagai program , seperti bea siswa untuk siswa miskin, bantuan Biaya Operasional Sekolah (BOS), serta  berbagai program untuk rakyat miskin lainnya. Ini salah satunya disebabkan karena mental yang lemah sehingga mudah menyerah dengan keadaan.

Kemiskinan sebenarnya bukan hambatan untuk mencapai cita-cita. Justru dengan segala keterbatasanlah yang menyebabkan siswa harus berjuang keras demi mencapai tujuan. Sejarah membuktikan bahwa , riwayat hidup orang-orang besar itu bukan dari keluarga kaya atau berkecukupan.
Penulis guru SMPN 1 Nagreg dan SMP YP 17 Nagreg Kab. Bandung


Implikasi Pendidikan dalam pembentukan konsep Diri



Oleh Iwan Ardhie Priyena
Apa yang anda pikirkan tentang diri Anda? Apakah anda orang yang selalu optimis dalam mengahadapi berbagai persoalan hidup? Apakah Anda siap menghadapi resiko atas setiap keputusan yang Anda lakukan? Apakah Anda merasa orang-orang yang ada di sekeliling Anda adalah orang-orang yang menyenangkan sehingga Anda merasa nyaman berhubungan dengan mereka? Atau Anda merasakan bahwa setiap orang memusuhi Anda, dan Anda selalu merasa bodoh atas segala tindakan dan keputusan yang Anda ambil, serta  Anda merasa bahwa  hidup ini begitu tidak menyenangkan karena banyak sekali persoalan yang sulit Anda hadapi? Atau kah Anda selalu berimajinasi  bahwa hal-hal buruk akan menimpa Anda sautu saat nanti?
Jika Anda memikirkan apa "yang Anda suka", hidup Anda akan dipenuhi oleh hal itu. Dan sebaliknya , jika Anda selalu memikirkan hal-hal "yang tidak Anda suka" maka yang terjadi dalam hiudp Anda pun akan mencerminkan itu. Demikian satu pernyataan dari buku “Quantum Ikhlas” yang mungkin bisa menggugah kesadaran  kita  untuk mengolah konten pikiran Anda. Artinya betapa dahsyatnya pengaruh pikiran kita dalam kehidupan sehari-hari. Pengaruh pikiran tersebut juga dapat mencerminkan konsep diri seseorang.
Konsep diri  adalah  keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya. Ada dua macam konsep diri, yakni konsep diri negative dan konsep diri positif. Pertanyaan-pertanyaan di atas bisa mendeteksi apakah kita  termasuk kelompok orang yang memiliki konsep diri negatif atau positif.
Brooks dan Emmert (dalam Rahmat, 1996), mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan karakteristik antara orang yang meiliki  konsep diri positif dan seseorang dengan konsep diri negatif. Perbedaan tersebut dapat ditunjukkan melalui beberapa indikator yakni : orang yang memiliki konsep diri positif
 memiliki  keyakinan  akan kemampuan dalam mengatasi masalah; merasa setara atau sederajat dengan orang lain; menerima pujian tanpa rasa malu; menyadari bahwa setiap orang memilki berbagai perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak seluruhnya dapat diterima oleh masyarakat;  memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri sendiri; memiliki kesanggupan dalam mengungkapkan aspek yang tidak disenangi dan berusaha untuk mengubahnya.

Sedangkan orang yang memiliki  konsep diri negatif,  ditunjukkan melalui perilaku antara lain : peka terhadap kritik, namun di persespi  sebagai upaya orang lain untuk menjatuhkan harga dirinya; cenderung menghindari dialog yang terbuka;  selalu mempertahankan pendapat dengan berbagai logika yang keliru;   sangat respek terhadap berbagai pujian yang ditujukan pada dirinya dan segala atribut atau embel-embel yang menunjang harga dirinya menjadi pusat perhatiannya;  memiliki kecenderungan bersikap hiperkritis terhadap orang lain; jarang bahkan tidak pernah mengungkapkan penghargaan atau pengakuan terhadap kelebihan orang lain; memiliki perasaan mudah marah, cenderung mengeluh dan meremehkan orang lain;  merasa tidak disenangi dan tidak diperhatikan oleh orang banyak, karena itulah cenderung bereaksi untuk menciptakan permusuhan;  tidak mau menyalahkan diri sendiri namun selalu memandang dirinya sebagai korban dari sistem sosial yang tidak benar; pesimis terhadap segala yang bersifat kompetitif, enggan bersaing dan berprestasi, serta tidak berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya.(http://duniapsikoligi.dagdigdug.com)

Konsep diri yang di miliki oleh seseorang  bukanlah bersifat genetic atau pembawaan yang diturunkan dari orang tuanya. Dengan kata lain, konsep diri yang dimiliki seseorang baik yang negative atau yang positif bukan bakat atau karakter bawaan. Konsep diri lebih banyak ditentukan oleh fakor lingkungan sekitar, seperti keluarga, pergaulan dan pendidikan di masa kecil. Harus diingat pula, bahwa konsep diri ini tidak bersifat permanen. Sebab, bias saja seseorang mengubah konsep dirinya dari negtatif ke positif atau sebaliknya  seiring muncul keadaran baru tentang dirinya. Yang diharapkan tentu adalah perubahan dari konsep diri negative ke konsep diri positif dan bukan sebaliknya. Sebab, konsep diri negative memang dapat merugikan pribadi yang bersangkutan, terutama dalam hubungan dengan proses sosialiasasi  maupun dalam karir dan pekerjaan.
Faktor-faktor yang berperan dalam pembentukan konsep diri adalah, pola asuh orangtuanya, kegagalan, serta depresi. Orang tua tanpa disadari  sering mengeluarkan stigma ,seperti “segini aja kamu ini ngga bias…bodoh amat sih kamu”, “kamu ini memang pemalas…” “kamu memang nggak punya bakat maju” dsb. Bila stigma itu  sering dikemukakan oleh orang tua, maka dalam waktu lama, terbentuklah dalam diri sang anak konsep dirinya sebagai orang yang “bodoh” “malas” dan “gagal”. Ini lah mengapa pentingnya orang tua berhati-hati dalam mengeluarkan penilaian pada anaknya.
Lingkungan keluarga dan lingkungan seseorang sekitarnya  di masa kecil memiliki kontribusi yang signifikan terhadap pembentukan konsep diri. Lewat sajaknya yang terkenal Dorte Law Nolte menggambarkan dengan gamblang : jika anak hidup dengan kecaman, ia belajar untuk menyalahkan ,jika anak hidup dengan permusuhan, ia belajar untuk berkelahi  ,jika anak hidup dengan ejekan, ia belajar untuk jadi pemalu , jika anak hidup dengan rasa malu, ia belajar untuk merasa bersalah , jika anak hidup dengan toleransi, ia belajar untuk menjadi penyabar, jika anak hidup dengan dorongan, ia belajar untuk percaya diri, jika anak hidup dengan pujian, ia belajar untuk menghargai , jika anak hidup dengan kejujuran, ia belajar untuk bersikap adil,  jika anak hidup dengan perlindungan, ia belajar untuk memiliki keadilan, jika anak hidup dengan restu, ia belajar untuk menyukai diri sendiri Jika anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan, ia belajar menemukancinta di dunia
Konsep diri positif berperan penting dalam mencapai kemajuan bagi seseorang. Hasil penelitian yang dilakukan di Amerika oleh Dr. Eli Ginzberg beserta timnya menemukan satu hasil yang mencengangkan. Penelitian ini melibatkan 342 subyek penelitian yang merupakan lulusan dari berbagai disiplin ilmu. Para subyek penelitian ini adalah mahasiswa yang berhasil mendapatkan bea siswa dari Colombia University. Dr. Ginzberg dan timnya meneliti seberapa sukses 342 mahasiswa itu dalam hidup mereka, lima belas tahun setelah mereka menyelesaikan studi mereka. Hasil penelitian yang benar-benar mengejutan para peneliti itu adalah: Mereka yang lulus dengan mendapat penghargaan (predikat memuaskan, cum laude atau summa cum laude), mereka yang mendapatkan penghargaan atas prestasi akademiknya, mereka yang berhasil masuk dalam Phi Beta Kappa ternyata lebih cenderung berprestasi biasa-biasa. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa tidak ada hubungan langsung antara keberhasilan akademik dan keberhasilan hidup. Lalu faktor apa yang menjadi kunci keberhasilan hidup manusia ?  Kunci keberhasilan hidup adalah konsep diri positip (adi@adiwgunawan.com)
Pemahaman orang tua terhadap pentingnya konsep diri bagi anak-anak, tentunya membawa implikasi dalam model pendidikan yang diterapkan di rumahnya. Sehingga, orang tua dituntut untuk menerapkan pola pendidikan yang mengarahkan pada pembentukan konsep diri positif bagi anak-anaknya. Pemahaman tentang konsep diri bagi anak juga penting diketahui oleh para guru di sekolah, terutama di sekolah dasar, Proses pembentukan konsep diri dimulai sejak anak masih kecil. Masa kritis pembentukan konsep diri adalah saat anak masuk di sekolah dasar. Glasser, seorang pakar pendidikan dari Amerika, menyatakan bahwa lima tahun pertama di SD akan menentukan “nasib” anak selanjutnya. Sering kali proses pendidikan yang salah, saat di SD, berakibat pada rusaknya konsep diri anak.
(Penulis guru SMPN 1 Nagreg,  SMP YP 17 Nagreg, dan pengelola Bapinger Education Cicalengka)


Menyoal Pendidikan Antikorupsi di Sekolah



Oleh: Iwan Ardhie Priyana

KEMENDIKNAS berencana memasukkan kurikulum antikorupsi di sekolah tahun depan. Pendidikan antikorupsi tersebut bukan dalam bentuk mata pelajaran, "Yang pasti, materi antikorupsi ini mirip oksigen. Tidak bisa dilihat mata, tetapi dibutuhkan. Di semua mata pelajaran, materi ini ada, baik matematika, sejarah, fisika, biologi, PPKN, dan pelajaran lain," kata Menteri Pendidikan Nasional, Muhammad Nuh di Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (3/10) sebagaimana di kutip sebuah harian. Nuh mengatakan, korupsi disebabkan dua faktor, salah satu di antaranya manusia. Ihwal mengapa dipilih sekolah, Nuh mencontohkan bentuk korupsi dalam bentuk mencontek yang sudah jadi kultur di sekolah.

Wacana tentang pendidikan antikorupsi awalnya sayup-sayup pernah diwacanakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), beberapa waktu yang lalu. Boleh jadi gagasan ini merupakan satu terobosan untuk memutus mata rantai korupsi hingga ke akar-akarnya. Sebab, selama ini pemberantasan korupsi telah menjadi agenda besar bangsa ini, yang harus segera dituntaskan. Oleh karena itu, diperlukan partisipasi aktif semua elemen masyarakat, terutama di bidang pendidikan. Karena, pendidikan memiliki posisi strategis sebagai pembentuk karakter bangsa, sekaligus penanaman nilai-nilai kejujuran yang kelak akan mencegah perilaku korup.

Berbeda dengan KPK dan Kemendiknas yang begitu optimis dengan gagasan ini, reaksi sebaliknya bermunculan dari pengamat pendidikan dan LSM yang selama ini gigih memberantas korupsi. Argumen yang diajukan adalah, bagaimana mungkin bisa menerapkan pendidikan antikorupsi di sekolah, sementara sekolah sendiri adalah lembaga yang tidak steril dengan korupsi. Kendati menuai kontroversi, Kemendiknas tampaknya tetap akan melaksanakan progam ini. Oleh sebab itu, masyarakat hendaknya tidak perlu apriori dan suuzan dalam menilai langkah ini. Bagaimanapun, berbagai upaya tetap perlu dilakukan secara sungguh-sungguh guna memerangi "musuh bangsa nomor satu" ini.

Yang perlu mendapat perhatian pemerintah, apabila progam ini dilaksanakan, adalah diperlukan sikap konsistensi dan sosialisasi. Konsistensi menyangkut keberlangsungan program ini ke depan. Selama ini, lembaga pendidikan sering dijadikan kelinci percobaan oleh pemerintah untuk memasukkan program tertentu di sekolah. Setelah dijalankan, pemerintah tidak sungguh-sungguh mengawalnya, sehingga akhirnya berbagai program tersebut tak jelas ujung pangkalnya. Padahal tidak sedikit waktu dan biaya yang telah dikorbankan. Hal ini dikhawatirkan semakin mempertegas stigma yang telah melekat di masyarakat pada dunia pendidikan yang senang dengan bongkar pasang kurikulum.

Program ini akan berjalan sesuai dengan rencana yang diharapkan, bila diawali dengan sosialisasi kepada stake holder di sekolah, baik pada guru, siswa, maupun orangtua siswa. Guru menjadi orang yang berada di garis paling depan untuk menunjang keberhasilan program ini. Sampai saat ini guru belum memahami benar bagaimana sebenarnya kurikulum antikorupsi tersebut. Bahkan mungkin tidak sedikit yang belum mengetahui program ini. Sosialisasi diperlukan untuk memberikan persepsi dan pemahaman yang sama dari berbagai pihak yang terlibat. Sehingga, akan terjadi kesamaan visi dalam hal korupsi sebagai musuh yang harus dihancurkan karena akan menghancurkan kehidupan masyarakat.

Di atas semua itu, yang perlu disadari adalah pendidikan merupakan proses penanaman nilai-nilai dan sikap yang berlangsung secara sadar dan terencana. Proses penanaman nilai tersebut akan sangat efektif bila dilakukan melalui keteladanan. Apalagi ini menyangkut moralitas yang diperlukan adalah contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari yang dapat dijadikan panutan. Kenyataan dewasa ini, nilai-nilai keteladanan itu sudah mulai tereliminasi dalam keseharian kita, termasuk juga di lingkup pendidikan. Dengan kata lain, kunci keberhasilan program ini bergantung pada prilaku, guru, masyarakat dan pejabat, dan penegak hokum. Dilihat dari sisi ini, maka institusi pendidikan memang harus membersihkan sendiri korupsi yang ada dalam dirinya. Jika tidak, maka akan timbul konflik dan kesenjangan anatara yang diajarkan dengan kenyataan yang terjadi.

Semua pihak tentu berharap kurikulum antikorupsi tersebut bukan berisi "kata-kata mutiara" atau sejumlah instruksi dan larangan yang harus ditaati dan dipatuhi siswa. Jika ini terjadi, maka kurikulum antikorupsi akan menjadi hafalan semata. Ini pernah terjadi pada penataran P4 yang gencar dilakukan pada zaman Orde Baru, di mana siswa dituntut memahami butir-butir pemahaman Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara. Rangkaian kata-kata itu tidak memiliki makna apa pun, sebab memang dalam praktiknya menanamkan moral tidak semudah menyusun kata-kata. (Penulis, guru SMPN 1 Nagreg, SMP YP 17 Nagreg, dan pengelola Bapinger Education Cicalengka)**

Text widget

About

Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juni 2012

Guru Bermaian Sulap ? Kenapa tidak !




Banyak cara yang dilakukan guru  untuk menciptakan suasana belajar yang menarik dan menyenangkan. Salah satunya adalah bermain sulap. Bermain sulap ? Ya , benar. Semua orang pasti senang melihat pertun jukan sulap , demikian juga para siswa. Sulap yang dilakukan oleh guru bukan hanya sekedar terampil “mengelabui “ siswa, namun sebenarnya di balik permainan itu terselip sisi edukasi. Yakni sulap yang digunakan tersebut berfungsi menanamkan sugesti pada siswa.
Contoh sulap yang saya gunakan saat di kelas adalah membengkokan sendok, seperti yang dilakukan beberapa pesulap professional yang sering ditampilkan di layar televise. Sendok yang saya pegang di tangan kanan saya goyang-goyangkan dengan menggerakkan tangan, saat itulah saya katakan “ Sendok ini sangat keras dan kaku, tetapi bila kalian punya kesungguhan dan mau berusaha untuk mencobanya, maka sendok ini menjadi bengkok”. Setelah itu sendok yang sudah bengkok saya perlihatkan pada siswa. Sesaat kemudian para siswa bertepuk tangan sambil tertawa.
Sekali lagi, di sini yang ditonjolkan sebenarnya adalah menanamkan sugesti bahwa : bila kalian punya kesungguhan dan mau berusaha untuk mencobanya, maka sendok ini menjadi bengkok”. Di samping  itu, tentu saja unsur   hiburan bagi siswa tetap penting.
Terima kasih untuk mas Fadli yang telah mengajarka trik sulap yang sederhana tapi memikat. Ada yang mau belajar main sulap?

Melakukan Hypnosys sederhana pada siswa.




Mau mencoba “memasukkan “ sugesti pemberdayaan diri bagi siswa? Saran di bawah ini boleh di coba.
Pertama, bawalah siswa ke ruangan yang sejuk, hening dengan suasana yang lebih nyaman, (boleh di mushola sekolah)
Kedua, bangunlah dan ciptakan suasana keakraban ( rapport) hal ini penting agar siswa merasa nyaman dan percaya pada guru.
Berikan penjelasan bagi siswa pentingnya mereka memiliki sugesti positif dalam diri mereka serta apa manfaatnya bagi mereka.
Berikan kesempatan siswa untu menuliskan dalam secarik kertas sugesti diri mereka sesuai dengan tujuan dan apa yang mereka harapkan.
(Misalnya : saya adalah siswa terbaik dan saya yakin akan kemampuan saya, saya selalu berusaha dengan segala kemampuan saya untuk mencapai cita-cita saya. Bagi saya semuanya menjadi mudah…dst)
Mintalah siswa untuk duduk dengan dengan rilek, punggung tegak , tangannya di letakkan pada kedua paha mereka.
Mintalah siswa untuk memfokuskan perhatian pada benda yang ada di hadapan mereka (misalnya pada dinding ruangan)
Perintahkah siswa agar menarik nafas lalu mengeluarkannya dengan lembut, lakukan beberapa kali
Berikutnya, mintalah siswa untuk memejamkan matanya agar lebih rileks, lalu perintahkan agar focus perhatian pada nafas yang keluar melalui hidung.
Katakan pada mereka “Saat ini anda dalam keadaan rileks, saya akan meghitung satu sampai tiga dan setiap kali saya menghitung anda semakin rileks. “(Guru menghitung dengan suara datar dan tenang dan jarang antara hitungan beberapa detik.jangan terlalu  cepat)
Setelah siswa tampak rileks guru berkata “ Saat ini Anda benar-benar dalam keadaan rileks. Anda adalah pelajar yang baik pelajar yang memliliki citacita mulia dan luhur. Untuk menuju keberhasilan mencapai cita-cita diperlukan usaha yang sungguh-sungguh. Percayalah dengan kekuatan dan kemampuan yang ada pada Anda, cita-cita Anda akan tercapai..”
“Saat ini munculkan kembali sugesti Anda yang tela di tulis, bayangkan bahwa hari ini saa ini dan detik ini…kata-kata yang telah Anda tulis sedang anda masukkan ke dalam diri Anda. Bayangkan saat ini kata-kata teresebut tertanam dalam jantung Anda dan mengalir dalam darah Anda”
Hening sejenak, saat ini biarkan siswa sedang memasukkan kata-kata tersebut dalam dirinya. Beri waktu beberapa menit
“Baik, saat ini, imajinasikan bahwa Andan sedang merayakan keberhasilan yang telah anda perjuangkan..”
Berikan waktu beberapa menit dan perhatkan oleh guru bagaimana ekspresi siswa.
Setelah terasa cukup , ajaklah siswa berdoa agar dalam usaha mencapai keberhasilan itu mendapat ridlo Allah SWT.
Berikutnta..”Saya akan menghitung satu sampai tiga…dan saat hitungan ketiga Anda membuka mata dan badan Anda terasa segar dan bersemangat…..tunjukkanlah senyum  terbaik Anda saat anda membuka mata..”
“Satu…..dua….tiga…..”
Catatan :
Pada saat guru member sugesti, nada suara guru harus tenang dan datar. Dalam melakukan kegiatan ini efektif atau tidaknya tergantung seberapa PD Anda melakukkannya. Selamat mencoba.

Jumat, 08 Juni 2012

Bisa jadi ini adalah hal yang “remeh”




 “Motivasi belajar siswa  sebenarnya bergantung dari motivasi mengajar guru”
Saat Masuk Ke kelas.
Tatap muka seluruh sisiwa dengan menebarkan senyuman. (apapun kondisinya, senyum menjadi sangat mutlak)
Berikan pujian untuk hal-hal berikut :
Suasana dan lingkungan kelas yang bersih
Kesiapan siswa dalam mengikuti pelajaran waktu itu
Berikan  pujian secara personal pada siswa tertentu.
Katakan hal berikut :
Merasa senang mengajar di kelas tersebut
Mintaa maaf bila Anda terlambat masuk kelas atau pada hari yang lalu Anda tidak masuk dan berikan alas an.
Saat KBM berlangsung
Bila Anda memberikan tugas yang harus di kerjakan, sebaiknya lakukan hal berikut :
Perintah untuk melaksanakan tugas diberikan secara terinci, dan pastikan siswa mengerti apa yang harus dikerjakan.
Pastikan bahwa perlengkapan mereka sudah siap, seperti LKS, buku paket, serta alat  tulis.
Tentukan waktu untuk mengerjakan, tanyakan pada siswa berapa menita waktu yang mereka perlukan untuk mengerjakan tugas tersebut.
Berkelilinglah pada setiap siswa selama mengerjakan tugas, dan  katakan  Anda sangat senang dan siap membantu bila siswa menemukan kesulitan.
Saat  Anda  kegiatan KBM berakhir.
Berikan pujian atas partisipasi seluruh siswa dalam mengikuti KBM.
Berikan pujian secara personal bagi siswa yang menonjol waktu itu.
Bagi guru yang mengajar pada jam terakhir sebelum siswa meninggalkn kelas, bisa melakukan hal berikut :
Menyarankan agar hati-hati di jalan
Amanatkan agar belajar di rumah.
Berikan afirmasi misalnya : Kalian pasti sukses. Kalian adalah anak-anak terbaik.

Catatan :
Lakukan hal di atas dengan keikhlasan, bila dilakukan dengan terpkasa dan penuh kepura-puraan, bahasa tubuh Anda akan mudah di “baca” oleh siswa.
Hal-hal yang disebutkan di atas boleh jadi hal yang sederhana dan sudah “sangat klise” tapi percayalah jika kita melaksanakan secara konsisten, berkesinambungam, dilakukan dengan penuh kesedaran oleh seluruh guru di sekolah, efeknya isnya Allah akan terasa. Bila Anda melakukan dengan ikhlas, Anda telah mengeluarkan energy positif di dalam kelas. Hal-hal postif lah yang kelak akan Anda terima.
Bila Anda menemukan siswa atau suasana kelas yang menjengkelkan, Anda tidak perlu memuntahkannya di depan teman-teman guru, akan lebih baik anda tuangkan di catatan harian  ini. Ini adalah cara terbaik untuk mengeluarkan energy negative yang bermanfaat.


Jurus Penjaga Toko




OLeh Iwan Ardhie Priana

“Jangan dulu membuka toko, kalau belum bisa tersenyum”. Kata sahabat saya, seorang keturunan Cina yang menulis kalimat itu di dinding Facebooknya. Boleh jadi, itu merupakan rahasia sukses para pengusaha Cina dalam berdagang, disamping resep lain, seperti keuletan, gigih dan hemat. Resep yang mudah sebenarnya, bahkan bisa jadi itu bagian dari bagian dari prosedur tak tertulis  dalam upaya meningkatkan pelayanan pada konsumen. Sudah sering saya dengar dari teman atau dari berbagai buku, bagaimana orang-orang Cina mampu menjadi pengusaha , jadi pedagang dan pengelola toko, dengan berbagai jurusnya. Tapi jurus tersenyum itu benar-benar hal baru.
Begitu hebatkah pengaruh tersenyum pada konsumen? Tanya saya dalam hati. Tiba-tiba saya jadi teringat secarik kertas di tempel di dekat  meja kassa di sebuah swalayan yang saya kunjungi. Isinya pendek “Tegurlah karyawan Kami bila tidak tersenyum”. Ternyata, pertokoan modernpun telah mengadopsi jurus toko Cina.
Peribahasa Cina itu ternyata ikut menginspirasi saya sehingga saya ikut-ikutan pula mengadopsi kalimat itu “Jangan dulu masuk ke kelas kalau belum bisa tersenyum”. Benar-benar menjiplak. Tapi tak apalah, asal untuk kebaikan. Mengapa saya begitu tertarik untuk mengadopsi pepatah Cina itu ? Karena  saya masih sering melihat beberapa teman saya –yang juga guru- punya persepsi yang keliru dengan senyumnya. Teman saya sering khawatir senyum itu akan meruntuhkan “wibawanya”. Walhasil, setiap masuk kelas, ia lebih PD dengan memasang wajah perang. Alih-alih ingin menjaga wibawa dan disegani murid, ia malah sering mendapat umpatan dan makian siswa, tentu saja dengan cara diam-diam dan sembunyi-sembunyi.
Saya sendiri agak heran, darimana teman saya beroleh pengetahuan tentang hubungan senyum dengan wibawa.  Saya malah sering melihat tokoh-tokoh kharismatik dan berwibawa dalam poto dengan pose sedang tersenyum. Termasuk para tokoh otirter yang pernah ada di dunia ini, dalam fotonya ingin mencitrakan orang baik dengan tersenyum.
Saat diam-diam saya intip ke kelasnya, suasana kelas benar-benat sunyi seperti kuburan. Mungkin itulah suasana yang menurutnya paling cocok untuk memahami pelajarannya. Bahkan anak yang mencoba untuk mencairkan suasana dengan sedikit menyunggingkan senyumnya pun sering di hardik.
“Kenapa kamu tersenyum? Meledek ya?” Ah, malang benar anak terebut.
 Saat saya beritahukan pada teman saya bahwa saya punya motto “jangan dulu masuk kelas kalau belum bisa terenyum” ia malah mencibir. Bagaimana mau bisa tersenyum jika kepala ini sudah begitu penuh dengan persoalan hidup juga persoalan rumah tangga? Tanyanya dengan nada apatis dan pasrah. Namun, ia tidak menjawab ketika saya tanyakan apakah dengan memasah wajah “garang” itu persoalan di kepalanya  menjadi lebih enteng? Dia tidak menjawab.
Saya jadi teringat cerita yang saya baca dari sebuah buku tentang seorang guru aneh di suatu sekolah. Pak Guru aneh ini punya kebiasaan yang unik saat sebelum masuk da n keluar kelas. Sebelum masuk ke kelas, ia menuju sebuah pohon yang berada tak jauh dari kelasnya. Ia meloncat dan kedua tangganyya menggapai sebuah batang yang menjulur datar, seseat kemudian tubuhnya bergelantung ke depan ke belakang  beberapa kali.Selesai mengalantung ia akan masuk kelas. Hal yang sama ia lakukan saat pulang sekolah. Diam-diam sang Kepala Sekolah ini sering memperhatikan gejala ganjil sang guru ini, sehingga setelah beberapa hari melihat pemandangan itu, ia meminta bapak guru mengadap ke kantornya.
“Sudah beberapa hari ini saya melihat Bapak menggelantung di pohon kayu itu, baik saat mau masuk ke kelas dan keluar kelas. Boleh saya tahu, apa sebenarnya yang Bapak lakukan?” Tanya kepala sekolah, setelah keduanya berhadapan.
“Terus terang saja Pak, saya ini sebelum berangkat ke sekolah, banyak sekali persoalan yang saya hadapi, saya tak mau persoalan itu menganggu pikiran saya , saat saya berada di depan siswa saya” jawab sang guru.
“Lalu, apa hubungannya dengan menggantung di pohon?”
“Saat saya begelayut saya berkata, hei pohon, aku tak mau persoalan ku ini mengangguku saat aku masuk dan mengajar, aku titipkan persoalan ini kepadamu, dan saat keluar sekolah pun saya katakan ‘hei pohon’ kini aku sudah mengajar dan persoalan yang aku titipkan kepadamu aku ambil kembali” demikian jawab bapak guru tenang.
Cerita yang mungkin tidak lucu ini sebenarnya menyimpan agar tidak membawa persoalan ke dalam kelas, apapun caranya.
Untuk sahabat saya yang sering memasang wajah perang, sebenarnya saya ingin menyarankan padanya agar suatu waktu nanti, ia duduk di bangku murid. Lalu murid itu semuanya suruh ke luar, dan setelah itu satu persatu murid itu masuk ke kelas dan setiap murid melemparkan senyum padanya. Pada saat itu, saya sebenarnya ingin bertanya padanya, adakah alasan untuk tidak tersenyum?
Kalau orang Cina sukses dengan prinsip “Jangan dulu membuka toko sebelum tersenyum” saya yakin seorang guru juga akan sukses dengan moto “Jangan dulu masuk kelas kalau belum bisa tersenyum”. Sebuah cara yang sederhana untuk sukses dan dicintai murid , sebuah cara mudah untuk menjadi guru yang bisa membawa kesejukan di dalam kelas.Sayangnya,  kadang-kadang, kita selalu berpikir untuk melakukan hal-hal spektakuler untuk mengubah keadaan.

Rabu, 06 Juni 2012

Sesuaikan ucapan kita dengan bahasa tubuh


Seseorang datang menghampiri Anda. Wajahnya merah padam, giginya gemeletuk dan urat-urat di wajahnya menegang, dan ia berkata “ Sungguh…! Saya tidak marah !”. Percayakah Anda dengan ucapan orang tersebut ? Saya yakin Anda sebenarnya lebih percaya pada bahasa non verbalnya, seperi wajah yang memerah dan gigi yang gemeletuk. Artinya  Anda lebih meyakini orang itu sebagai orang yang sedang marah.
Seorang pemuda mengatakan pada pacarnya “Aku mencintaimu”. Gadis tadi akan melihat raut wajah pemuda tadi, dan melihat matanya, untuk  meyakinkan apakah ada kesesuaian antara bahasa verbalnya dengan bahasa nonverbalnya. Dalam komunkasi kita memang tidak hanya menggunakan bahasa verbal, tetapi bahasa
nonverbal. Celakanya, bahasa nonverbal ini memiliki peran sebesar 70 % bagi efektivitas komunikasi Anda. Saat Anda berbi cara dengan orang lain, orang lain secara tidak s adar akan meraba bahasa nonverbal Anda untuk meyakinkan ucapan Anda. 
Di kelas, seorang guru ingin meredakan keriuhan dan kegaduan dengan berteriak “Diamm…!!!!”. Anak-anak tidak merespon lalu, pak guru mulai panik , ia  memperbesar volumenya dan ditambah dengan memukul papan tulis dengan penghapus berkali-kali…”Diam…..!!!” “Brak…brak…..brak….”
Kenapa anak-anak tidak diam? Jawabannya sederhana. Sebenarnya sang guru bukan sedang menyuruh diam tetapi sedang menyuruh untuk ribut. Perhatikan volume suaranya dan juga kegaduhan yang ditumbulkan oleh suara penghapus.  Jadi, wajarlah jika anak-anak kita tidak diam karena secara tidak langsung diperintahkan oleh bahas nonverbal guru. Lalu, apa yang perlu di lakukan? Ya mudah saja, jika anak suruh lah anak diam dengan cara   gurunya diam di depan kelas  sambil melempakan senyum ke seisi kelas. Di sini memang diperlukan kesabaran. Tapi percayalah, anak-anak akan merespon “bahasa tubuh “ kita. Inilah cara paling mudah membuat suasana kelas tenang  tanpa harus menguras banyak energy guru. Selamat mencoba !.

Selasa, 05 Juni 2012

Semuanya berawal dari pikiran



Semuanya berawal dari pikiran. Doa yang kita panjatkan kehadirat Tuhan  berawal dari apa yang kita pikirkan. Jadi, pikiran juga doa. Pikiran juga yang akan membawa Anda  saat ini apakah Anda berangkat ke sekolah atau ke kantor dengan langkah kaki yang ringan mantap atau melangkah dengan langkah yang gontai yang berat? Jawabannya bergantung apa yang ada dalam pikiran kita.

Seorang sahabat yang punya hobi memancing, selalu beraharap akan
segera datang hari Sabtu. Karena setiap hari Sabtu itu ia akan pergi bersama
teman-temannya memancing. Belum juga hari Sabtu tiba, dan belum juga ia berada
di pinggir kolam. Tetapi pikiran dan bayangan suasana memancing membuatnya
ba. Sejak dari rumah pun kegembiraan itu mulai terasa. Bersiull sambil menyiap
begitu bergairah. Semangatnya tampak begitu menyala. Bahkan bila saatnya t
ikan perlengkapan memancing, kadang-kadang juga sambil bernyanyi nyanyi kecil. Di
saat ikan menggelepar saat kail di tarik.
benaknya terbayang bagamana nikmatnya saat ikan memagut kailnya. Bagaimana puasny
a

Pada saat itu, sama sekali tak terbayang kesulitan yang dihadapi,
misalnya bagaimana jika hujan , atau kendaraannya mogok di tengah jalan, tali
kailnya putus. Hal-hal itu sama sekali tidak masuk ke dalam pikirannya. Meski
sebenarnya dalam kenyataan  itu terjadi
.

Seorang sahabat, mengeluh karena ia mulai merasakan bosan dan
malas saat akan berangat mengajar. Ia mengeluh karena merasa usianya sudah tua
dan beberapa saat lagi pensiun. Keluhan yang sama juga dirasakan seorang
yang menyebabkan perasaan malas itu menghinaggapinya?
sahabat, padahal usianya jauh lebih muda di bawahnya. Saat dtelisik, apa

Rasa malas  situ ternyata berasal dari pikirannya, bukan dari
perasaannya. Saat ia akan berangkat, ia selalu terpikir kelakuan siswanya yang
nakal, sulit di atur, tidak mau mengerjakan tugas yang diberikan. Belum lagi ia
kurang begitu suka dengan sikap kepala sekolahnya yang sangat disiplin, selalu
jakan sekolah yang sering berubah dan berganti yang memberikan beban tamba
mengorek kesalahannya, cerewet dan sebagainya. Juga berbagai instruksi dan keb
ihan baginya.

Benarkan siswanya nakal? Ya memang, tetapi dari puluhan siswanya
satu kelas , hanya satu dua saja yang ulahnya berlebihan. Ia lupa ada puluhan
murid lain yang selalu memperhatikan saat ia mengajar. Anak-anak tidak mau
sinya kurang jelas. Tentang sikap kepala sekolahnya yang seperti it
mengerjakan tugas, itu bukan sifat mereka. Itu  karena perintah dan instru
ku, ia lupa di sekolah tempatnya mengajar kan tidak hanya ada seorang kepala sekolah,
atnya itu ada juga yang senasib dengannya.
juga ada teman guru yang lain yang masih mau menjadi sahabatnya, bahkan diantara saha
b

Rasa malas  sang sahabat sebenarnya bersumber dari apa yang
dia pikirkan. Semuanya seakan-akan menjadi sulit dan berat. Demikianlah ia
mulai hari dengan memikirkan hal-hal yang tidak menyenangkan.

Kalau saja kita mau mengubah pikiran kita, mungkin semuanya menjadi
lain. Saat kita akan pergi mengajar. Saat itulah sebenarnya kita berpikir dan
merasakan “suasana” kegembiraan dan kesenangan memancing, bayangkan tentang
irkan “yang senang-senang saja”. Mulai saat ini, mengapa pikiran  kita b
ikan yang menggelepar saat kalil kita dipagut ikan. Pendeknya, mari kita pi
kiarkan hanyut dengan menderita dengan bayangan negative yang kita buat sendiri?  Kitalah sebenarya “pemilik” isi pikiran kita, mau jadi
menyenangkan atau mau jadi menjengkelkan semuanya atas kuasa kita. Kita tinggal memilihnya. Selamat memilih
.

Jika tahun ajaran baru ini cara mengajar dan metode yang kita terapkan “kopi paste” dengan tahun yang lalu, maka bersiaplah untuk stress



Oleh Iwan Ardhie priyana
Oleh Iwan Ardhie priyana
Mengapa? Karena salah satu factor pencetus stress adalah rutinitas yang monoton. Rutinitas  yang monoton akan menimbulkan kejenuhan dan kebosanan, bahasa gaulnya BT. Kalau gurunya BT, jangan terlalu berharap anak didik kita bersemngat dan bergairah. Kejenuhan yang secara tidak langsung ditunjukan guru, seperti virus yang akan mudah menular pada siswa. Kalau gurunya sudah BT, dan anak meresponya dengan BT pula, kira-kira apa yang terjadi di kelas ?  Silahkan bayangkan sendiri.
Jadi, jawaban mengapa anak-anak seperti kurang termotivasi belajar, yang sering dikeluhkan oleh para guru, mungkin perl u di jawab sendiri oleh guru, apakah selama ini para guru  kita telah menumbuhkan iklim bergairah di dalam kelas? Kalau menggunakan teori stimulus = respon , maka jawabanya mudah, respon yang diberikan siswa adalah jawaban langsung dari stimulus guru. Stimulus yang kita berikan  dalam bentuk kejenuhan bisa di gambarakan sebagai negative, dan responnya pun menjadi negatif  pula. Jadi, seperti kata pepatah, kata berjawab gayung bersambut.
Seperti yang telah disebutkan di atas, rutinitas  yang monoton akan menjadi factor pemicu stress. Hasil penelitian  yang ditemukan mengenai stress dan pekerjaan, dilihat dari sisi psikologis memang bukan kabar baik, dan  kelihatannya perlu diwaspadai . Apa saja itu? Nah inilah sebagian gejalanya. :
Kecamasan, ketegangan, kebingungan dan mudah tersinggung
Perasaan frustasi , marah dan dendam (kebencian)
Sensitif dan hyperreactivity
Komunikasi yang tidak efektif
Perasaan terkucil dan terasing
Kebosanan dan ketidakpuasan kerja
Kelelahan mental, penurunan fungsi intelektual dan kehilanga n konsentrasi
Kehilangan spontanitas dan kreatifitas
Menurunnya rasa percaya diri.
Tidak ada yang bagus kan? Itu baru satu aspek, masih ada aspek lain, misalnya gejala  fisiologis dan gejala perilaku. Tapi, stop dulu lah… tunggu ulasan berikutnya.  Harapannya, semoga tidak stress menunggu kabar berikutnya.


Memahami Fenomena Kesurupan pada Siswa



Oleh Iwan Apriyana

Kesurupan menurut pandangan tradisional adalah peristiwa  masuknya satu kekuatan ke dalam tubuh seseorang yang kemudian menjelma menjadi tokoh lain di luar diri seseorang tersebut.  Sebagian masyarakat menganggap kesurupan sebagai fenomena mistik yang luar bisaa dan aneh. Kesurupan sering  dihubungkan dengan keadaan jiwa  seseorang yang berada dalam situasi “kosong”. Di Bali, kesurupan dimaknai sebagai sinyal dari  kekuatan roh dan leluhur  yang sedang menunjukkan kuasanya atas situasi yang terjadi.  
Respon terhadap kesurupan  terbelah menjadi dua kubu yang saling bertentangan. Ada yang memandang kesururpuan sebagai fenomena mistik, dan supranatural, seperti pandangan tradisional tadi, ada juga pandangan yang menganggapnya sebagai fenomena psikologis. Akibat dari kedua pandangan tersebut, penatalaksanaan  terhadap kesurupan pun menjadi berbeda pula.
Karena  kesurupan merupakan fenomena mistik, pandangan tradisonal melakukan penyembuhan dengan menggunakan kekuatan supranatural seperti doa-doa; dan mantra ; yang dilakukan oleh tokoh yang memiliki mekuatan supranatural pula, seperti pawang, dukun  ustad dan sebagainya. Tokoh-tokoh tersebut diyakini memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan roh yang “nyurup”;  sehingga dapat  mengembalikan kekuatan  yang “nyurup”  tadi ke luar dari diri seseorang untuk kembali ke habitat asalnya.
Dalam khazanah kesenian tradisional, fenomena kesurupan memang sengaja dipelihara, untuk menunjukkan keunikan yang dimiliki seni tradional tersebut. Seperti tampak pada kesenian kuda lumping.  Para pemain kuda lumping diyakini telah dimasuki roah gaib sehingga membuatnya mampu melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan oleh akal sehat. Seperti memakan beling, rumput dan sebagainya .
Namun, entah karena jenuh tinggal di alam lain, atau mungkin ingin mencoba pengalaman baru,  para roh dan mahluk dari dunia lain yang bisanya hadir nyurup ke dalam pemain kuda lumping, kini rajin pula  bersemayam dan nyurup pada pelajar sekolah kita . Dunia pendidikan pun menjadi sangat sibuk dan heboh dengan adanya fenemona kesurupan yang melanda para siswa tersebut . Kejadian tersebut tak urung  memunculkn spekulasi  adanya ketidakyamanan para roh atau mahluk lain yang “ngageugeuh” di sekitar sekolah tersebut. Untuk itu ada juga sekolah yang mengadakan ritual-ritual tertentu sebagai bentuk kompromi dengan para roh supaya tidak berulah dan menyambangi para siswa.
Benarkah  fenomena kesurupan  itu sebagai fenomena mistik sebagai akibat dari masuknya satu entitas ke dalam tubuh badan seseorang ? Asep Haerul Gani,  seorang psikolog yang juga trainer pada pelatihan Ericksonan Hiynoterapy dengan tegas menyangkalnya. Menurutnya, kesurupan yang  dialami para siswa adalah gejala psikologis, dan tidak memiliki relasi atau disebabkan oleh adanya fenomena mistik, yakni jin yang masuk ke dalam diri siswa. Berkaitan dengan maraknya gejala kesurupan yang melanda para siswa sekolah, Asep menengarai adanya faktor pemicunya. Pertama gajala kesurupan muncul saat menjelang Ujian Sekolah dan UN (Ujian Nasional), kedua kesurupan terjadi dibeberaa seolah tertentu yang menerapkan sistem belajar full day.
Menurut Asep, kesurupan dipicu oleh adanya stress yang melanda siswa. Stres yang dialami para siswa mengalami titik didih  akibat orang tua yang atau pihak lain seakan-akan tidak peduli pada keaadan siswa. Pada saat tertentu, stress yang mengalami titik didih itu meledak dalam bentuk kesurupan. Kesurupan yang dialami para siswa  bersifat massal, karena sugesti yang ditimbulkannya. Pada saat kesurupan siswa menunjukkan gejala perubahan pisik, seperti terdengar auman, cakaran, teriakan, kejang pada kaki dan tangan, bola mata membelakak.  Dalam kondisi seperti itu, seolah-olah siswa  menjelama menjadi mahluk lain dari dunia lain.
Berkaitan dengan adanya tokoh lain, seperti “mahluk gaib” yang menjelma pada diri seorang pelajar, Asep menjelaskannya dengan menggunakan pendekatan psikologi  budaya. Menurutnya, ketika tidak ada orang yang perduli dengan dirinya  , maka siswa yang mengalami kesurupan  mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh lain yang pernah hidup dalam pandangan masyarakat disuatu daerah yang  memiliki pengaruh dan kekuatan.  Hal itu dilakukan untuk memberi tekanan pada orang lain agar memperhatikan dirinya. Lalu, bagaimana para siswa mengenal dan menhadirkan tokoh itu? Menurut Asep  kehadiran tokoh itu sendiri mungkin dikenalnya melalui cerita-cerita yang pernah di rekam di alam bawah sadarnya.
Dengan menggunakan logika seperti ini, kita dapat melihat hal ini pada perilaku seorang anak yang sangat mencintai tokoh tertentu, seperti sipderman, batman dan tokoh-tokoh lain yang menjadi idolanya. Dan pada saat-saat tertentu sang anak pun menunjukkan tingkah laku, dan katakter tokoh yang menjadi idolanya. Itulah saat dimana seorang anak sedang mengalami “kesurupan” dan orang dewasa menganggapnya sebagai hal yang lumrah.
Dalam hal penanganan terhahap kesurupan, seperti yang pernah dilakukannya, Asep Haerul Gani, menggunakan dua macam teknik , yakni dengan teknik mengikuti polanya, memotong polanya.
Cara pertama dlakukan denban mengajak berdialog dengan seseorang.  dalam stuasi seperti ini ,orang yang akan menyembuhkan dituntut untuk  memahami alur pikiran orang yang kesurupan. Dalam kasus ini Asep mencontohkan saat ia menangani seseorang yang kerurupan dengan mengaku  dirinya sebagai “macan” dari hutan tertentu. Maka saat itu Asep mengajak dialog “sang macan” setelah dialog itu “nyambung” Asep meminta  agar macan itu tidur beberapa menit, dan benar saja macan itu mengikuti perintahnya dan tertidur, saat bangun orang yang  kerusupan sudah sadar kembali.
Cara yang kedua dengan menggunkan  teknik memotong polanya. Untuk kasus ini Asep memiliki pengalaman saat menyembuhkan orang yang mengaku sebagai jin dari wilayah tertentu. Saat berdalog dengan jin itulah Asep mengancamnya akan membakar jin tersebut, entah karena takut dengan ancanamn tersebut , sesaat kemudian orang yang keurupan itu sadar.
Berkaitan dengan pandangan bahwa kesurupan  terjadi karena ada jin yang masuk ke dalam diri seseorang, Asep memiliki pemahaman  bahwa jin yang dimaksud adalah jin yang berasal dari bahasa Arab “jinna” yang artinya “tersembunyi” ; bukan dalam pengertian jin sebagai mahluk gaib atau mahluk halus.
Mengingat fenomena kesurupan bukanlah fennomena mistik, tetapi merupakan gejala psikolgis, maka sudah sewajarnya jika pihak sekolah dan orang tua memahami kondisi kejiwaan para siswanya, terutama menjekang kegiatan Ujian Nasional , dimana kondisi kejiwaan siswa berada dalam tekanan yang hebat. Untuk itu diperlukan suasana yang nyaman dan kondusif . Untuk mencegah terjadinya kesurupan pada siswa guru perlu memiliki “mantra-mantra” berupa kata-kata atau pernyataan menyejukkan yang bisa menjelmakan suasana yang nyaman dan tenang. Bukan dengan  pernyataan dan kata-kata  yang malah bisa memicu tekanan itu lebih berat lagi sehingga menjadi pemantik bagi diri siswa untuk terjadinya kesurupan.


                                                                                                                                                    Penulis,
                                                                                                                  Peminat Erikcsonian Hyponterapy
                                                                                                                  Guru SMPN 1 Nagreg Kab. Bandung


  (Iwan Apriyana, SMPN 1 Nagreg Kab. Bandung, Jl Raya Nagreg 776, 081573138069/022 7950794, iwanapriyana@yahoo.co.ic)

Mengembangkan Imajinasi Siswa



Oleh Iwan A.Priyana

Manusia hidup dalam ruang dan waktu yang terbatas. Akan tetapi manusia punya peluang  untuk menjelajah ke angkasa luar, atau ke tempat yang jauh sekalipun. Bahkan,   juga   berkelana atau menuju hari esok yang diimpikannya. Manusia juga bisa membayangkan apapun yang diinginkannya yang boleh jadi mustahil  dilakukan dalam keadaan nyata. Semua itu dimungkinkan karena manusia memiliki kesanggupan berimajinasi. Imajinasi menurut  aliran psikologi behavioristik, merupakan satu dari empat anugerah yang dimiliki manusia, disamping Self Awareness (kesadaran diri), Conscience (hati nurani), Independent Will (kebebasan kehendak)  .
Einstein menyebut bahwa imajinasi lebih penting dari ilmu pengetahuan. Namun, sayangnya kegiatan berimajinasi belum memiliki tempat yang semestinya, termasuk dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini berkaitan dengan persepsi umum bahwa imajinasi erat kaitannya dengan menghayal. Dan menghayal adalah pekerjaan yang sia-sia.Padahal kegiatan berimajinasi dalam pendidikan memiliki manfaat yang luar biasa, sebab dengan berimajinasi dapat mendorong siswa lebih kreatif.
Terkadang Persepsi yang keliru, sering kali membuat kegiatan berimajinasi menjadi terhambat. Hal ini dijumpai  misalnya pada kegiatan menggambar dan kegiatan mengarang pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Untuk mengeksploitasi kemampuan imajinasi kreatif para siswa, langkah-langkah berikut dapat digunakan untuk membantu mengembangkan kemampuan berimajinasi .
1. Berikan Stimulus Yang menantang. Otak manusia sebenarnya akan mudah bekerja apabila diberi tantangan. Imajinasi berkaitan dengan kerja otak. “Tuliskan pengalaman mu saat bajir” , boleh jadi kurang menarik, karena mungkin pengalaman itu adalah pengalaman yang menyebalkan. Jangankan menceritakaanya, bahkan untuk mengingatnya pun siswa  tidak suka. Ada pengalaman pengalaman hidup yang tidak menyenangkan yang membuat siswa menjadi tertutup. Respon siswa akan berbeda misalnya bila diminta menjadi  seorang pejabat, baik presiden , mentri  ,gubernur maupun  bupati yang dihadapkan pada persoalan banjir . Tentu akan sangat menarik bagaimana siswa memiliki solusi mengatasi bajir dengan berpedoman pada  imajinasinya.
Dalam menggambar, anak lebih senang memilih sendiri objek yang menarik perhatiannya, bukan yang menarik perhatian guru. Tak ada salahnya guru menantang siswa untuk menggambar objek yang luar biasa, misalnya robot berkepala hewan, tabarakan kapal di udara, perahu bersayap dan sebagainya. Ini tentu lebih menantang daripada  diminta  menggambar pemandangan alam, atau objek tertentu yang sudah dispersiapkan guru.
2. Hindari Pembatasan. Imajinasi akan mudah berkembang bila tidak ada hambatan berupa pembatasan-pembatasan berdasarkan ukuran orang dewasa. Misalnya, siswa dalam menggambar gunung, langit, sawah, siswa harus menyesuikan diri dengan keadaan aslinya. Seakan-akan warna itu sudah baku dan menjadi ketentuan yang tidak boleh di ubah karena guru berpikir tidak ada laut berwarna coklat, atau gunung berwarna pink. Dengan berimajinasi,siswa  bisa bereksperimen dengan warna yang dipilih, dan ini tentu akan melahirkan warna-warna yang diluar dugaan tapi sangat positif.
Demikian juga halnya dalam pembelajaran mengarang. Terkadang sederet aturan , seperti jumlah paragraph, kerangka karangan, dan aturan kebahasaan membuat siswa merasa  terikat. Tentu saja, aturan tersebut tetap harus diperhatikan, namun itu akan di lakukan setelah proses mengarang selesai. Aturan-aturan dan pembatasan yang terlalu dini menimbulkan ketakutan dan rasa bersalah apabila melanggarnya. Situasi tersebut tentu tidak mendukung upaya untuk mengembangkan imajinasi. (Penulis guru SMP N1 Nagreg dan SMP YP 17 Nagreg Kab. Bandung)

PHOBIA SEKOLAH



Oleh Iwan Ardhie Priyana

Sekolah berasal dari “skul” artinya tempat yang menyenangkan. Akan tetapi, di sekolah seorang siswa sering  merasa tertekan karena disiplin sekolah yang sangat ketat, pemberian tugas (PR) oleh guru  yang menyiksa,  belajar yang membosankan karena cara mengajar guru yang tidak menarik, belum lagi siksaan duduk berjam-jam saat guru “menjelaskan” materi pelajaran. Penambahan pelajaran tambahan yang dipaksakan. Sikap bapak ibu guru yang “killer”. Ditambah berbagai aturan lain yang  harus ditaati, serta berbagai sangsi yang menyakitkan.Walhasil, sekolah dengan kondisi seperti   itu bukan menjadi tempat yang menyenangkan, tapi malah menyiksa.
Jika orang tua melihat anaknya tidak bergairah untuk sekolah, sering bolos, menghindari sekolah dengan alasan sakit atau alasan kepura-puraan, jangan buru-buru memvonis anak dengan kata “malas”, kurang motivasi, manja dsb. Siapa tahu kondisi tersebut lebih disebabkan oleh situasi sekolah yang menyiksa tersebut. Tidak selamanya problem belajar  siswa tersebut  dipicu  fakor intrinsik, yakni kondisi di dalam diri si anak, namun bisa juga berumber dari lingkungan belajar siswa sendiri. Faktor lingkungan belajar yang tidak menyenangkan itu dapat menimbulkan phobia sekolah. Inilah kondisi yang tidak diharapkan oleh semua orang tua. Phobia sekolah merupakan gejala ketakutan seorang siswa pada apapun yang  berhubungan dengan sekolah.
Kasus phobia sekolah  dilaporkan pernah terjadi di Jepang. Sekitar lima ratus siswa sekolah dasar merasa takut bila melihat guru dan lingkungan sekolah. Hal ini disebabkan karena tuntuan yang tinggi pada setiap siswa di sekolah tersebut sehingga menimbulkan tekanan psikologis bagi siswa. Di Indonesia kasus tersebut belum ditemukan. Akan tetapi, gejala phobia sekolah sudah muncul.  Kasus ini dapat dilihat banyaknya siswa yang bolos saat jam pelajaran,  tidak memiliki gairah untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan sekolah, sering mogok sekolah, mencari alas an untuk tidak sekolah, malas mengerjakan PR, bahkan kadang-kadang membenci pada guru,serta  mencurat-coret sekolah. Perlu pula dicermati, mengapa banyak siswa  yang terpaksa DO. Tentu ini bukan semata-mata karena alasan ekonomi, sebab pemeritah telah membebaskan biaya pendidikan di tingkat sekolah dasar dan menengah.
Pendidikan merupakan barometer kemajuan bangsa. Melalui sekolah dicetak manusia yang memiliki sumber daya yang unggul untuk siap berkompetensi dalam kancah persaingan. Bagaimana cita-cita luhur itu terwujud apabila sekolah “dimusuhi”. Bagaimana nasib Wajar Dikdas sembilan tahun  mencapai sasaran, apabila sebagian siswa mengalami phobia sekolah. Bagaimana siswa bisa belajar dengan nyaman bila sekolah dianggap sebagai tempat yang menakutkan.
Menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang  yaman. Tidak hanya lingkungan fisik semata, tetapi suasana kondusif di mana siswa merasa dia berada di tempat yang disukainya. Perlu diciptakan suasana komunikasi yang hangat antara siswa dan guru, sehingga siswa menganggap guru tidak hanya seb agai orang tua, tetapi juga sekaligus sahabat.
Di pihak lain, orang tua juga perlu memperhatikan siswanya di rumah, peka terhadap keluhan-keluhan yang dilontarkan oleh siswa, serta mau menjadi pendengar yang baik bagi anak-anaknya. Orang tua tidak langsung menyalahkan pihak sekolah bila ada hal yang menurutnya tidak sesuai, juga tidak bisa men”stigma”  siswa , sehingga menyebabkan siswa semakin tertekan. Orang tua bisa berkomunikasi dengan pihak sekolah untuk memecahkan berbagai masalah yang berhubungan dengan kemajuan siswanya di sekolah. Bila perlu, orang tua  mendapat informasi apapun yang berhubungan dengan aktivitas sekolah, sehingga  terjadi saling pengertian.
Ujung tombak pendidikan adalah guru. Di sinilah pentingnya guru mampu menciptakan kegiatan belajar mengajar yang menarik dan menantang. Di samping harus menciptakan metode pembelajaran yang bervariasi dan menarik, sedapat mungkin juga guru menghindari tugas-tugas yang bisa memberikan beban bagi siswa, seperti memberi  PR yang memberatkan, memberikan tugas tambahan yang menyulitkan. Kalaupun harus member tugas dipilih tugas yang menantang kreativitas siswa.


Iwan Ardhie Prieyana, Guru SMPN 1 Nagreg dan SMP YP 17 Nagreg Kab. Bandung

Senin, 04 Juni 2012


Membebaskan Siswa dari “Penjara” Kelas

Ketika berada di dalam kelas , seorang guru mengkondisikan  kelas agar nyaman  dengan cara menginstruksikan siswa duduk dengan tenang di bangkunya, tidak mengeluarkan gerakan maupun suara. Mengapa? Karena suara dan gerakan akan dipersepsikan sebagai gangguan yang akan menyebabkan “kerja otak” terganggu, sehingga tujuan belajar tidak tercapai.  Kondisi pembalajaran dalam kelas seperti itu tampaknya telah menjadi  satu formula dalam kegiatan pembelajaran baik di tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah. Walhasil,  kegiatan belajar mengajar dalam kelas menjadi monoton dan tidak menggairahkan sehingga lebih mirip “penjara” bagi siswa.
Proses belajar sesungguhnya merupakan  proses yang melibatkan kerja otak. Penelitian dan studi tentang otak sebagaimana di tulis oleh Jalauldin Rakmat lewat buku “Belajar  Cerdas , Belajar Berbasiskan Otak”, bisa mengubah persepsi dan pandangan kita tentang belajar. Berbagai eksperimen yang telah dilakukan  untuk mengetahui bagaimana kerja otak, menunjukkan bahwa  otak bekerja dengan baik bila disertai dengan gerakan serta di beri tantangan. Pendeknya,  budaya belajar yang monoton ternyata menyebabkan pekerjaan otak kurang berkembang. Untuk itu , guru perlu m elepaskan “kepercayaan “ tentang konsep belajar yang monoton menjadi kegiatan yang penuh gerakan dan tantangan, dan pada batas-batas tertentu toleransi pada kegaduhan. “Tikus-tikus pada usia berapapun dapat meningkatkan kecerdasannya jika diberi pengalaman belajar baru yang menantang dan berulangkali “ tuis Jalaludin Rakhmat mengutip Eric Jensen.
Lalu, bagaimanakah proses belajar mengajar yang dapat merangsang kerja otak? Tak ada salahnya  saran-saran David Saousa di bawah ini  dapat dijadikan referensi  berharga bagi para guru, dalam menciptakan suasana kelas yang menggairahkan, dan penuh tantangan.
Humor , humor di  dalam kelas  banyak memberikan keuntungan positif.  Berkaitan dengan saran ini Guru perlu menguji kembali anggapan bahwa humor bisa menurunkan wibawa guru.
Pergerakan. Ketika kita duduk diam selama lebih dari dua puluh menit, darah dalam tubuh terkumpul di pantat  serta di kaki kita. Dengan bangkit dan bergerak, kita melancarkan aliran darah. Dalam satu menit saja, kita akan memiliki 15 persen lebih banyak darah dalam otak. Kita benar-benar bisa berpikir lebih jernih sambil berdiri daripada sambil duduk.
Berapa jam kah pata siswa berada di sekolah? Khususny di dalam kelas ? Kurang lebih 4 jam  dikurangi waktu istirahat dua puluh menit  setiap hari, mereka ada di dalam kelas.  Kita bisa membayangan sebeku apa darah mereka. Guru dapat berupaya membuat siswa bangkit dan bergerak, terutama saat mereka harus berlatih secara verbal apa yang baru saja mereka pelajari.
Pengarahan multi-indrawi. Anak-anak masa kini sudah terbiasa dengan lingkungan yang multi-indrawi(melibatkan seluruh indera). Mereka akan lebih tertarik untuk memperhatikan pelajaran jika terjadi objek visual yang menarik serta berwarna-warni, serta jika mereka bisa berjalan-jalan di sekeliling kelas dan nembicarakan pelajaran yang mereka dapat.
Sudah saatnya guru tidak hanya mengunakan kapur berwarn putih saja, tetapi bisa memanfaatkan kapur berwana-warni, disertai dengan gambar dalam bentuk lingkaran kotak atau pun dalam bentuk visual.
Kuis dan Permainan. Mintalah murid-murid untuk membuat sebuah kuis atau permainan untuk saling menguji kemampuan mereka tentang konsep-konsep yang telah diajarkan. Ini merupakan startegi umum  yang sering diterapkan di kelas-kelas dasar, tetapi jarang digunakan di sekolah-sekolah menengah. Selain menyenangkan, permainan serta kuis memiliki nilai tambah, dalam arti mengharuskan murid-murid untuk berlatih dan mengerti sebuah konsep sebelum mereka bisa membuat pertanyaan-pertanyaan kuis beserta jawabannya..
Untuk menciptakan kuis, guru dapat saja memodifikasi dan mengadopsi  berbagai kuis di televise sesuai dengan kondisi dan tujuan yang ingin dicapai.
Musik. Meskipun penelitian ini masih tidak memiliki bukti-bukti lengkap, terdapat beberapa keuntungan jika kita memainkan musik di dalam kelas pada waktu-waktu tertentu  selama pelajaran
Pada umumnya, siswa dan guru menyenangi musik, musik menimbulkan kenikmatan dan kesenangan. Namun, memang bermain musik di dalam kelas , diluar pelajaran kesenian memang sesuatu yang aneh, tapi tak ada salahnya dicoba.
(Penulis guru SMPN 1 Nagreg, SMP YP 17 Nagreg dan Pengelola Bapinger Education Cicalengka)



Hipnotis Masuk Sekolah? Siapa takut !



Melalaui salah satu acara di TV, Uya Kuya berhasil menghipnosis masyarakat bahwa hionosis itu adalah upaya menelanjangi atau membongkar aib orang lain. Tak terlalu mengherankan bila kemudian masyarakat alergi terhadap hypnosis. Apalagi banyak modus kejahatan dengan modus “hipnotis”. Lengkaplah sudah stigma masyarakat terhadap hypnosis sebagai sesuatu yang mesti diwaspadai, atau bila perlu dianggap sebagai “kelakuan sesat”.
Dibalik semua kesesatan yang dimilikinya, hypnosis sebenarnya merupakan kajian ilmiah. Bahkan perkembangan hypnosis yang demikian pesat pun sudah mulai membidik wilayah pendidikan. Kemudian munculah hipnoteaching. Dengan kata lain, hipnoteaching adalah pendekatan pembelajaran untuk menggali potensi siswa dan mengefektifkan proses pembelajaran, dengan menerapkan teknik  hipnotis.
Berdasarka asumsi itulah, saya mencoba memasyarakatkan hipnoteaching di sekolah. Gairah saya semakin bertambah besar saat sahabat baik saya Prof. Suherli ( guru besar di Universitas Galuh Ciamis), menulis komentar di akun fecebook saya  “metode Sugestopedia yang dikembangkan Gategno, yaitu sebuah metode yang mengangkat potensi bawah sadar seseorang untuk merambah dan terlibat di dunia imaji yang dimanipulasi melalui audio. Selamat mengembangkan metode tersebut!”. Saya penasaran ingin menggali sugestopedia dari beberapa sumber. Ternyata, sebelumnya suda ada juga yang men coba melakukan penelitian penggunaan metode sugestopedia ini.
Metode ini (sugestopedia) ditemukan oleh seorang psikiater Bulgaria, Dr. Georgi Lozanov. Bermula ketika Lozanov menganalisis pasien-pasien kejiwaan dengan musik baroque yang menenangkan dan memberi mereka sugesti positif mengenai kesembuhan mereka. Ternyata banyak pasien mengalami kemajuan besar.
Lozanov merasa bahwa metode ini juga dapat diterapkan pada pendidikan. Menurut Lozanov, “suggestology” adalah sebuah pengkondisian kegiatan belajar-mengajar yang memungkinkan para pembelajar untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan dengan upaya yang normal, dan dibarengi kegembiraan.

Intinya antara hipnoteaching dengan metode sugestopedia ini memang memliki tujuan dan prinsip yang sama. Yang menggembirakan adalah bahwa hipnoteaching adalah kajian ilmiah dan sangat bermanfaat bila diterapkan dalam dunia pendidikan. Jadi tak ada alasan untuk menolak hinpteaching di dalam dunia pendidikan. Hipnoteaching atau sugetopedia, tentu tidak sama dengan Uya Kuya. Hinponisi di sekolah? Siapa Takut.
(Artikel  ini sebagai bahan saya untuk artikel di harian Galamedia)

Mungkinkah Pelajar kita Mengidap “Nekrofillia” ?



Oleh Iwan Ardhie Priyana

Fenomena kekerasan dan kebrutalan yang dilakukan para pelajar belakangan ini, tampaknya memiliki kecenderungan mengalami kenaikan baik dari sisi kualitas ,maupun kuantitas. Maraknya fenomena kekerasan, anarkisme, serta kenakalan pelajar yang cenderung overdosis, dan di luar takaran kepatutan itu, oleh kalangan sosiolog ditengarai sebagai mulai berjangkitnya nekrofilia.
Nekrofilia adalah bentuk perlaku destruktif dengan mengeploitasi dan merusak orang lain atau benda-benda serta lingkungan. Gejala nekrofilia ditunjukkan dengan berbagai bentuk perilaku sadis, seperti tertarik dan berpenampilan pada segala bentuk kematian, senang berbicara penyiksaan, kamatian dan penguburan. Mereka yang diindikasikan gejala nekrofilia memilki kecenderungan untuk terikat dengan kekuasaan, dan menyelesaikan persoalan dengan menggunakan kekerasan.

Faham orang bermental nekrofilia selalu memandang orang-orang di sekitarnya sebagai objek yang harus ditaklukan. Dalam paradigma seperti ini jelas tidak mungkin bagi pribadi seperti ini mengakui eksistensi yang lain, selain berusaha menghancurkannya dengan berbagai cara.
Menurut Form, sebagaimana dikutip Mubiar Agustin dalam tulisanya “Kecenderungan Nekrophilia pada Pelajar” nekrofilia , merupakan sebuah penyakit yang ditularkan oleh sistem sisio-kultural di masyarakat. Pendapat senada dikemukakan oleh Sosiolog dari Universitas Diponegoro, Semarang, Triyono Lukmantoro bahwa nekrofilia ditentukan situasi-situasi sosial yang melingkupi kehidupan individual. Lenyapnya cinta terhadap sesama adalah salah satu pendorong kemunculan nekrofilia. Sistem kehidupan yang terarah pada relasi yang saling mengasingkan merupakan pemicu merebaknya masyarakat nekrofilia.

Model-model perilaku nekrofilia dapat dengan mudah dijumpai melalui berita media massa. Para pelajar kita disuguhi adegan tawuran politikus dalam sidang parlemen, saling hujat antara satu kelompok dengan kelompok yang lain, bentrokan fisik antara satu ormas dengan ormas yang lain, demontrasi yang selalu berujung ricuh, penggusuran PKL dan eksekusi rumah yang dibumbui adegan saling pukul, protes pilkada dengan membakar fasilitas umum, kasus pembunuhan dengan cara mutilasi yang menjadi “tren” -untuk menyebut beberapa contoh- telah menjadikan metode pembelajaran yang efektif atas fenomena kekerasan yang dipertontonkan tanpa filter dan sangat telanjang di depan mata para pelajar kita.

Gejala nekrofilia sesungguhnya dapat ditangkal, apabila semua komponen di masyarakat baik yang terkecil yakni individu serta keluarga sampai dengan negara dan bangsa harus secara aktif mengubah nilai ke arah yang positif. Form menyadari, bahwa masyarakat narsistik dan ekploitatif tidak akan eksis, Form pun meyakini bahwa masyarakat akan senang hidup dalam kooperasi dan harmoni, masyarakat yang sehat akan menciptakan individu yang sehat.
Akan tetapi, kita menyadari bahwa, menciptakan model kehidupan masyarakat seperti yang digambarkan Katon Bagaskara “ dimana kedamaian menjadi istananya” tidaklah mudah. Masyarakat yang demikian itu akan terwujud jika ada kesadaran kolektif bangsa ini menciptakan harmoni dan kedamaian melalui sikap toleran, saling menghargai, saling membutuhkan, mengedepankan kepentingan bangsa di atas kepentingan partai, kekuasaan dan kelompok. Keteladanan (sesuatu yang sudah mulai langka belakangan ini) perlu ditumbuhkan baik di level bawah, seperti guru, orang tua , sampai dengan pejabat dan pengambil keputusan seperti pejabat pemerintah, politisi, dan elit-elit parpol.

Sikap legawa untuk mau menerima kekalahan dengan gentlemen (tidak hanya sekedar ikrar belaka), demokrasi yang menjunjung tinggi sportifitas, dapat menjadi prasyarat untuk mereduksi konflik-konflik yang bernuansa kekerasan, sehinga tidak menjelma menjadi sebuah tontonan yang dapat memancing kebencian. Benar memang kata Form bahwa individu yang sehat akan dari masyarakat yang sehat.
Upaya yang sungguh-sungguh untuk menata kembali bangsa ini melalui komitmen berbagai komponen bangsa; meniscayakan lahirnya sebuah masyarakat yang sehat tempat para remaja dan pelajar kita sebagai penerus masa depan meniti kehidupannya dengan penuh rasa aman, damai dan penuh optimisme. 

Akualisasi Nilai Kepahlawanan dalam Pendidikan



Oleh Iwan A.Priyana

Selama tiga abad lebih tanah air kita dibelenggu oleh penjajah, berkat jasa dan perjuangan para pahlawan belenggu itu berhasil dilepaskan. Oleh sebab itu , benarlah kata pepatah bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang meghargai pahlawannya. Sebaliknya, hanya bangsa yang kerdilah yang tidak mau menghargai jasa para pahlawan yang telah mengorbankan harta dan raganya untuk mencapai kemerdekaan. Meski secara fisik perjuangan para pahlawan telah usai seiring dengan lahirnya kemerdekaan, akan tetapi sesungguhnya semangat serta nilai-nilai kepahlawanan harus tetap dikorbankan dan diaktulisasikan oleh generasi berikutnya. Atkualisasi nilai-nilai kepahlawanan tersebut dapat diimplemesikan dalam dunia pendidikan.

Setidaknya, ada tiga nilai kepahlawanan yang  perlu diaktulisasikan dalam dunia pendidikan, yakni : 1) berjuang untuk tujuan mulia, 2) rela berkorban dan 3) semangat pantang menyerah. 

Berjuang untuk tujuan mulia.  Kemerdekaan agar  bebas dari segala macam bentuk pejajahan adalah tujuan mulia yang senantiasa menjadi spirit perjuangan para pahlawan. Dalam konteks pendidikan, siswa yang belajar pada dasarnya ingin mencapai tujuan mulia, yakni mencapai cita-cita , serta menjadi manusia yang berguna. Inilah nilai yang perlu kembali di tanamkan pada siswa. Saat ini makna pendidikan sering kali direduksi hanya sekedar memperoleh ijazah, mendapat gelar, atau bahkan lebih sempit lagi hanya sekedar lulus  ujian. Pendangkalan tujuan pendidikan ini yang menyebabkan para siswa kehilangan semangat dan gairah belajar, menjadi apatis, dan bahkan mungkin kehilangan arah dan tujuan . Harapan untuk mencapai tujuan mulia itulah hal penting yang perlu terus menerus ditanamkan pada para siswa agar mereka menjadi manusia yang memiliki visi ke depan.

Para pejuang kita dahulu berjuang untuk mencapai kemerdekaan tersebut dengan mengorbankan, harta dan nyawa. Pepatah mengatakan “ Jer besuki mawa bea”, tiada perjuangan tanpa pengorbanan. Seseorang yang sudah berniat ingin berjuang tentu harus memikul resiko untuk mau berkorban. Mustahil sebuah perjuangan dapat direbut hanya dengan berpangku tangan, atau sekedar mengharap durian runtuh. Demikian juga dalam pendidikan. Pendidikan sebagai sebuah perjungan memerlukan pengorbanan, baik berupa finansial, waktu dan tenaga. Bahwa tujuan yang ingin dicapai haruslah melalui perjuangan yang berat, penuh tantangan dan hambatan. Para siswa perlu memahami hal ini agar mereka bersungguh-sungguh dalam menempuh pendidikan.

Seorang pahlawan memilki semangat pantang menyerah. Para pahlawan kita dikenal sebagai para pejuang yang gagah berani, meskipun mereka hanya bermodal bambu runcing , atau senjata rakitan. Tetapi semangat pantang menyerah yang dimiliki para pejuang bangsa inilah yang mampu mengalahkan senjata modern para penjajah. Saat ini, semangat itu perlu kembali di tanamkan dalam dunia pendidikan. Dewasa ini banyak siswa yang terpaksa drop out atau tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi dengan alasan ekonomi. Angka partisipasi sekolah serta  angka rata-rata melanjutkan sekolah di beberapa daerah berada pada level rendah. Anak-anak yang berusia sekolah banyak yang terpaksa menjadi anak jalanan , pengamen , pemulung dsb, dengan alasan  biaya, meski pemerintah sudah  berupaya keras dengan berbagai program , seperti bea siswa untuk siswa miskin, bantuan Biaya Operasional Sekolah (BOS), serta  berbagai program untuk rakyat miskin lainnya. Ini salah satunya disebabkan karena mental yang lemah sehingga mudah menyerah dengan keadaan.

Kemiskinan sebenarnya bukan hambatan untuk mencapai cita-cita. Justru dengan segala keterbatasanlah yang menyebabkan siswa harus berjuang keras demi mencapai tujuan. Sejarah membuktikan bahwa , riwayat hidup orang-orang besar itu bukan dari keluarga kaya atau berkecukupan.
Penulis guru SMPN 1 Nagreg dan SMP YP 17 Nagreg Kab. Bandung


Implikasi Pendidikan dalam pembentukan konsep Diri



Oleh Iwan Ardhie Priyena
Apa yang anda pikirkan tentang diri Anda? Apakah anda orang yang selalu optimis dalam mengahadapi berbagai persoalan hidup? Apakah Anda siap menghadapi resiko atas setiap keputusan yang Anda lakukan? Apakah Anda merasa orang-orang yang ada di sekeliling Anda adalah orang-orang yang menyenangkan sehingga Anda merasa nyaman berhubungan dengan mereka? Atau Anda merasakan bahwa setiap orang memusuhi Anda, dan Anda selalu merasa bodoh atas segala tindakan dan keputusan yang Anda ambil, serta  Anda merasa bahwa  hidup ini begitu tidak menyenangkan karena banyak sekali persoalan yang sulit Anda hadapi? Atau kah Anda selalu berimajinasi  bahwa hal-hal buruk akan menimpa Anda sautu saat nanti?
Jika Anda memikirkan apa "yang Anda suka", hidup Anda akan dipenuhi oleh hal itu. Dan sebaliknya , jika Anda selalu memikirkan hal-hal "yang tidak Anda suka" maka yang terjadi dalam hiudp Anda pun akan mencerminkan itu. Demikian satu pernyataan dari buku “Quantum Ikhlas” yang mungkin bisa menggugah kesadaran  kita  untuk mengolah konten pikiran Anda. Artinya betapa dahsyatnya pengaruh pikiran kita dalam kehidupan sehari-hari. Pengaruh pikiran tersebut juga dapat mencerminkan konsep diri seseorang.
Konsep diri  adalah  keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya. Ada dua macam konsep diri, yakni konsep diri negative dan konsep diri positif. Pertanyaan-pertanyaan di atas bisa mendeteksi apakah kita  termasuk kelompok orang yang memiliki konsep diri negatif atau positif.
Brooks dan Emmert (dalam Rahmat, 1996), mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan karakteristik antara orang yang meiliki  konsep diri positif dan seseorang dengan konsep diri negatif. Perbedaan tersebut dapat ditunjukkan melalui beberapa indikator yakni : orang yang memiliki konsep diri positif
 memiliki  keyakinan  akan kemampuan dalam mengatasi masalah; merasa setara atau sederajat dengan orang lain; menerima pujian tanpa rasa malu; menyadari bahwa setiap orang memilki berbagai perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak seluruhnya dapat diterima oleh masyarakat;  memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri sendiri; memiliki kesanggupan dalam mengungkapkan aspek yang tidak disenangi dan berusaha untuk mengubahnya.

Sedangkan orang yang memiliki  konsep diri negatif,  ditunjukkan melalui perilaku antara lain : peka terhadap kritik, namun di persespi  sebagai upaya orang lain untuk menjatuhkan harga dirinya; cenderung menghindari dialog yang terbuka;  selalu mempertahankan pendapat dengan berbagai logika yang keliru;   sangat respek terhadap berbagai pujian yang ditujukan pada dirinya dan segala atribut atau embel-embel yang menunjang harga dirinya menjadi pusat perhatiannya;  memiliki kecenderungan bersikap hiperkritis terhadap orang lain; jarang bahkan tidak pernah mengungkapkan penghargaan atau pengakuan terhadap kelebihan orang lain; memiliki perasaan mudah marah, cenderung mengeluh dan meremehkan orang lain;  merasa tidak disenangi dan tidak diperhatikan oleh orang banyak, karena itulah cenderung bereaksi untuk menciptakan permusuhan;  tidak mau menyalahkan diri sendiri namun selalu memandang dirinya sebagai korban dari sistem sosial yang tidak benar; pesimis terhadap segala yang bersifat kompetitif, enggan bersaing dan berprestasi, serta tidak berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya.(http://duniapsikoligi.dagdigdug.com)

Konsep diri yang di miliki oleh seseorang  bukanlah bersifat genetic atau pembawaan yang diturunkan dari orang tuanya. Dengan kata lain, konsep diri yang dimiliki seseorang baik yang negative atau yang positif bukan bakat atau karakter bawaan. Konsep diri lebih banyak ditentukan oleh fakor lingkungan sekitar, seperti keluarga, pergaulan dan pendidikan di masa kecil. Harus diingat pula, bahwa konsep diri ini tidak bersifat permanen. Sebab, bias saja seseorang mengubah konsep dirinya dari negtatif ke positif atau sebaliknya  seiring muncul keadaran baru tentang dirinya. Yang diharapkan tentu adalah perubahan dari konsep diri negative ke konsep diri positif dan bukan sebaliknya. Sebab, konsep diri negative memang dapat merugikan pribadi yang bersangkutan, terutama dalam hubungan dengan proses sosialiasasi  maupun dalam karir dan pekerjaan.
Faktor-faktor yang berperan dalam pembentukan konsep diri adalah, pola asuh orangtuanya, kegagalan, serta depresi. Orang tua tanpa disadari  sering mengeluarkan stigma ,seperti “segini aja kamu ini ngga bias…bodoh amat sih kamu”, “kamu ini memang pemalas…” “kamu memang nggak punya bakat maju” dsb. Bila stigma itu  sering dikemukakan oleh orang tua, maka dalam waktu lama, terbentuklah dalam diri sang anak konsep dirinya sebagai orang yang “bodoh” “malas” dan “gagal”. Ini lah mengapa pentingnya orang tua berhati-hati dalam mengeluarkan penilaian pada anaknya.
Lingkungan keluarga dan lingkungan seseorang sekitarnya  di masa kecil memiliki kontribusi yang signifikan terhadap pembentukan konsep diri. Lewat sajaknya yang terkenal Dorte Law Nolte menggambarkan dengan gamblang : jika anak hidup dengan kecaman, ia belajar untuk menyalahkan ,jika anak hidup dengan permusuhan, ia belajar untuk berkelahi  ,jika anak hidup dengan ejekan, ia belajar untuk jadi pemalu , jika anak hidup dengan rasa malu, ia belajar untuk merasa bersalah , jika anak hidup dengan toleransi, ia belajar untuk menjadi penyabar, jika anak hidup dengan dorongan, ia belajar untuk percaya diri, jika anak hidup dengan pujian, ia belajar untuk menghargai , jika anak hidup dengan kejujuran, ia belajar untuk bersikap adil,  jika anak hidup dengan perlindungan, ia belajar untuk memiliki keadilan, jika anak hidup dengan restu, ia belajar untuk menyukai diri sendiri Jika anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan, ia belajar menemukancinta di dunia
Konsep diri positif berperan penting dalam mencapai kemajuan bagi seseorang. Hasil penelitian yang dilakukan di Amerika oleh Dr. Eli Ginzberg beserta timnya menemukan satu hasil yang mencengangkan. Penelitian ini melibatkan 342 subyek penelitian yang merupakan lulusan dari berbagai disiplin ilmu. Para subyek penelitian ini adalah mahasiswa yang berhasil mendapatkan bea siswa dari Colombia University. Dr. Ginzberg dan timnya meneliti seberapa sukses 342 mahasiswa itu dalam hidup mereka, lima belas tahun setelah mereka menyelesaikan studi mereka. Hasil penelitian yang benar-benar mengejutan para peneliti itu adalah: Mereka yang lulus dengan mendapat penghargaan (predikat memuaskan, cum laude atau summa cum laude), mereka yang mendapatkan penghargaan atas prestasi akademiknya, mereka yang berhasil masuk dalam Phi Beta Kappa ternyata lebih cenderung berprestasi biasa-biasa. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa tidak ada hubungan langsung antara keberhasilan akademik dan keberhasilan hidup. Lalu faktor apa yang menjadi kunci keberhasilan hidup manusia ?  Kunci keberhasilan hidup adalah konsep diri positip (adi@adiwgunawan.com)
Pemahaman orang tua terhadap pentingnya konsep diri bagi anak-anak, tentunya membawa implikasi dalam model pendidikan yang diterapkan di rumahnya. Sehingga, orang tua dituntut untuk menerapkan pola pendidikan yang mengarahkan pada pembentukan konsep diri positif bagi anak-anaknya. Pemahaman tentang konsep diri bagi anak juga penting diketahui oleh para guru di sekolah, terutama di sekolah dasar, Proses pembentukan konsep diri dimulai sejak anak masih kecil. Masa kritis pembentukan konsep diri adalah saat anak masuk di sekolah dasar. Glasser, seorang pakar pendidikan dari Amerika, menyatakan bahwa lima tahun pertama di SD akan menentukan “nasib” anak selanjutnya. Sering kali proses pendidikan yang salah, saat di SD, berakibat pada rusaknya konsep diri anak.
(Penulis guru SMPN 1 Nagreg,  SMP YP 17 Nagreg, dan pengelola Bapinger Education Cicalengka)


Menyoal Pendidikan Antikorupsi di Sekolah



Oleh: Iwan Ardhie Priyana

KEMENDIKNAS berencana memasukkan kurikulum antikorupsi di sekolah tahun depan. Pendidikan antikorupsi tersebut bukan dalam bentuk mata pelajaran, "Yang pasti, materi antikorupsi ini mirip oksigen. Tidak bisa dilihat mata, tetapi dibutuhkan. Di semua mata pelajaran, materi ini ada, baik matematika, sejarah, fisika, biologi, PPKN, dan pelajaran lain," kata Menteri Pendidikan Nasional, Muhammad Nuh di Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (3/10) sebagaimana di kutip sebuah harian. Nuh mengatakan, korupsi disebabkan dua faktor, salah satu di antaranya manusia. Ihwal mengapa dipilih sekolah, Nuh mencontohkan bentuk korupsi dalam bentuk mencontek yang sudah jadi kultur di sekolah.

Wacana tentang pendidikan antikorupsi awalnya sayup-sayup pernah diwacanakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), beberapa waktu yang lalu. Boleh jadi gagasan ini merupakan satu terobosan untuk memutus mata rantai korupsi hingga ke akar-akarnya. Sebab, selama ini pemberantasan korupsi telah menjadi agenda besar bangsa ini, yang harus segera dituntaskan. Oleh karena itu, diperlukan partisipasi aktif semua elemen masyarakat, terutama di bidang pendidikan. Karena, pendidikan memiliki posisi strategis sebagai pembentuk karakter bangsa, sekaligus penanaman nilai-nilai kejujuran yang kelak akan mencegah perilaku korup.

Berbeda dengan KPK dan Kemendiknas yang begitu optimis dengan gagasan ini, reaksi sebaliknya bermunculan dari pengamat pendidikan dan LSM yang selama ini gigih memberantas korupsi. Argumen yang diajukan adalah, bagaimana mungkin bisa menerapkan pendidikan antikorupsi di sekolah, sementara sekolah sendiri adalah lembaga yang tidak steril dengan korupsi. Kendati menuai kontroversi, Kemendiknas tampaknya tetap akan melaksanakan progam ini. Oleh sebab itu, masyarakat hendaknya tidak perlu apriori dan suuzan dalam menilai langkah ini. Bagaimanapun, berbagai upaya tetap perlu dilakukan secara sungguh-sungguh guna memerangi "musuh bangsa nomor satu" ini.

Yang perlu mendapat perhatian pemerintah, apabila progam ini dilaksanakan, adalah diperlukan sikap konsistensi dan sosialisasi. Konsistensi menyangkut keberlangsungan program ini ke depan. Selama ini, lembaga pendidikan sering dijadikan kelinci percobaan oleh pemerintah untuk memasukkan program tertentu di sekolah. Setelah dijalankan, pemerintah tidak sungguh-sungguh mengawalnya, sehingga akhirnya berbagai program tersebut tak jelas ujung pangkalnya. Padahal tidak sedikit waktu dan biaya yang telah dikorbankan. Hal ini dikhawatirkan semakin mempertegas stigma yang telah melekat di masyarakat pada dunia pendidikan yang senang dengan bongkar pasang kurikulum.

Program ini akan berjalan sesuai dengan rencana yang diharapkan, bila diawali dengan sosialisasi kepada stake holder di sekolah, baik pada guru, siswa, maupun orangtua siswa. Guru menjadi orang yang berada di garis paling depan untuk menunjang keberhasilan program ini. Sampai saat ini guru belum memahami benar bagaimana sebenarnya kurikulum antikorupsi tersebut. Bahkan mungkin tidak sedikit yang belum mengetahui program ini. Sosialisasi diperlukan untuk memberikan persepsi dan pemahaman yang sama dari berbagai pihak yang terlibat. Sehingga, akan terjadi kesamaan visi dalam hal korupsi sebagai musuh yang harus dihancurkan karena akan menghancurkan kehidupan masyarakat.

Di atas semua itu, yang perlu disadari adalah pendidikan merupakan proses penanaman nilai-nilai dan sikap yang berlangsung secara sadar dan terencana. Proses penanaman nilai tersebut akan sangat efektif bila dilakukan melalui keteladanan. Apalagi ini menyangkut moralitas yang diperlukan adalah contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari yang dapat dijadikan panutan. Kenyataan dewasa ini, nilai-nilai keteladanan itu sudah mulai tereliminasi dalam keseharian kita, termasuk juga di lingkup pendidikan. Dengan kata lain, kunci keberhasilan program ini bergantung pada prilaku, guru, masyarakat dan pejabat, dan penegak hokum. Dilihat dari sisi ini, maka institusi pendidikan memang harus membersihkan sendiri korupsi yang ada dalam dirinya. Jika tidak, maka akan timbul konflik dan kesenjangan anatara yang diajarkan dengan kenyataan yang terjadi.

Semua pihak tentu berharap kurikulum antikorupsi tersebut bukan berisi "kata-kata mutiara" atau sejumlah instruksi dan larangan yang harus ditaati dan dipatuhi siswa. Jika ini terjadi, maka kurikulum antikorupsi akan menjadi hafalan semata. Ini pernah terjadi pada penataran P4 yang gencar dilakukan pada zaman Orde Baru, di mana siswa dituntut memahami butir-butir pemahaman Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara. Rangkaian kata-kata itu tidak memiliki makna apa pun, sebab memang dalam praktiknya menanamkan moral tidak semudah menyusun kata-kata. (Penulis, guru SMPN 1 Nagreg, SMP YP 17 Nagreg, dan pengelola Bapinger Education Cicalengka)**

Lorem

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Labels

Labels

Labels