Senin, 04 Juni 2012

Implikasi Pendidikan dalam pembentukan konsep Diri



Oleh Iwan Ardhie Priyena
Apa yang anda pikirkan tentang diri Anda? Apakah anda orang yang selalu optimis dalam mengahadapi berbagai persoalan hidup? Apakah Anda siap menghadapi resiko atas setiap keputusan yang Anda lakukan? Apakah Anda merasa orang-orang yang ada di sekeliling Anda adalah orang-orang yang menyenangkan sehingga Anda merasa nyaman berhubungan dengan mereka? Atau Anda merasakan bahwa setiap orang memusuhi Anda, dan Anda selalu merasa bodoh atas segala tindakan dan keputusan yang Anda ambil, serta  Anda merasa bahwa  hidup ini begitu tidak menyenangkan karena banyak sekali persoalan yang sulit Anda hadapi? Atau kah Anda selalu berimajinasi  bahwa hal-hal buruk akan menimpa Anda sautu saat nanti?
Jika Anda memikirkan apa "yang Anda suka", hidup Anda akan dipenuhi oleh hal itu. Dan sebaliknya , jika Anda selalu memikirkan hal-hal "yang tidak Anda suka" maka yang terjadi dalam hiudp Anda pun akan mencerminkan itu. Demikian satu pernyataan dari buku “Quantum Ikhlas” yang mungkin bisa menggugah kesadaran  kita  untuk mengolah konten pikiran Anda. Artinya betapa dahsyatnya pengaruh pikiran kita dalam kehidupan sehari-hari. Pengaruh pikiran tersebut juga dapat mencerminkan konsep diri seseorang.
Konsep diri  adalah  keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya. Ada dua macam konsep diri, yakni konsep diri negative dan konsep diri positif. Pertanyaan-pertanyaan di atas bisa mendeteksi apakah kita  termasuk kelompok orang yang memiliki konsep diri negatif atau positif.
Brooks dan Emmert (dalam Rahmat, 1996), mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan karakteristik antara orang yang meiliki  konsep diri positif dan seseorang dengan konsep diri negatif. Perbedaan tersebut dapat ditunjukkan melalui beberapa indikator yakni : orang yang memiliki konsep diri positif
 memiliki  keyakinan  akan kemampuan dalam mengatasi masalah; merasa setara atau sederajat dengan orang lain; menerima pujian tanpa rasa malu; menyadari bahwa setiap orang memilki berbagai perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak seluruhnya dapat diterima oleh masyarakat;  memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri sendiri; memiliki kesanggupan dalam mengungkapkan aspek yang tidak disenangi dan berusaha untuk mengubahnya.

Sedangkan orang yang memiliki  konsep diri negatif,  ditunjukkan melalui perilaku antara lain : peka terhadap kritik, namun di persespi  sebagai upaya orang lain untuk menjatuhkan harga dirinya; cenderung menghindari dialog yang terbuka;  selalu mempertahankan pendapat dengan berbagai logika yang keliru;   sangat respek terhadap berbagai pujian yang ditujukan pada dirinya dan segala atribut atau embel-embel yang menunjang harga dirinya menjadi pusat perhatiannya;  memiliki kecenderungan bersikap hiperkritis terhadap orang lain; jarang bahkan tidak pernah mengungkapkan penghargaan atau pengakuan terhadap kelebihan orang lain; memiliki perasaan mudah marah, cenderung mengeluh dan meremehkan orang lain;  merasa tidak disenangi dan tidak diperhatikan oleh orang banyak, karena itulah cenderung bereaksi untuk menciptakan permusuhan;  tidak mau menyalahkan diri sendiri namun selalu memandang dirinya sebagai korban dari sistem sosial yang tidak benar; pesimis terhadap segala yang bersifat kompetitif, enggan bersaing dan berprestasi, serta tidak berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya.(http://duniapsikoligi.dagdigdug.com)

Konsep diri yang di miliki oleh seseorang  bukanlah bersifat genetic atau pembawaan yang diturunkan dari orang tuanya. Dengan kata lain, konsep diri yang dimiliki seseorang baik yang negative atau yang positif bukan bakat atau karakter bawaan. Konsep diri lebih banyak ditentukan oleh fakor lingkungan sekitar, seperti keluarga, pergaulan dan pendidikan di masa kecil. Harus diingat pula, bahwa konsep diri ini tidak bersifat permanen. Sebab, bias saja seseorang mengubah konsep dirinya dari negtatif ke positif atau sebaliknya  seiring muncul keadaran baru tentang dirinya. Yang diharapkan tentu adalah perubahan dari konsep diri negative ke konsep diri positif dan bukan sebaliknya. Sebab, konsep diri negative memang dapat merugikan pribadi yang bersangkutan, terutama dalam hubungan dengan proses sosialiasasi  maupun dalam karir dan pekerjaan.
Faktor-faktor yang berperan dalam pembentukan konsep diri adalah, pola asuh orangtuanya, kegagalan, serta depresi. Orang tua tanpa disadari  sering mengeluarkan stigma ,seperti “segini aja kamu ini ngga bias…bodoh amat sih kamu”, “kamu ini memang pemalas…” “kamu memang nggak punya bakat maju” dsb. Bila stigma itu  sering dikemukakan oleh orang tua, maka dalam waktu lama, terbentuklah dalam diri sang anak konsep dirinya sebagai orang yang “bodoh” “malas” dan “gagal”. Ini lah mengapa pentingnya orang tua berhati-hati dalam mengeluarkan penilaian pada anaknya.
Lingkungan keluarga dan lingkungan seseorang sekitarnya  di masa kecil memiliki kontribusi yang signifikan terhadap pembentukan konsep diri. Lewat sajaknya yang terkenal Dorte Law Nolte menggambarkan dengan gamblang : jika anak hidup dengan kecaman, ia belajar untuk menyalahkan ,jika anak hidup dengan permusuhan, ia belajar untuk berkelahi  ,jika anak hidup dengan ejekan, ia belajar untuk jadi pemalu , jika anak hidup dengan rasa malu, ia belajar untuk merasa bersalah , jika anak hidup dengan toleransi, ia belajar untuk menjadi penyabar, jika anak hidup dengan dorongan, ia belajar untuk percaya diri, jika anak hidup dengan pujian, ia belajar untuk menghargai , jika anak hidup dengan kejujuran, ia belajar untuk bersikap adil,  jika anak hidup dengan perlindungan, ia belajar untuk memiliki keadilan, jika anak hidup dengan restu, ia belajar untuk menyukai diri sendiri Jika anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan, ia belajar menemukancinta di dunia
Konsep diri positif berperan penting dalam mencapai kemajuan bagi seseorang. Hasil penelitian yang dilakukan di Amerika oleh Dr. Eli Ginzberg beserta timnya menemukan satu hasil yang mencengangkan. Penelitian ini melibatkan 342 subyek penelitian yang merupakan lulusan dari berbagai disiplin ilmu. Para subyek penelitian ini adalah mahasiswa yang berhasil mendapatkan bea siswa dari Colombia University. Dr. Ginzberg dan timnya meneliti seberapa sukses 342 mahasiswa itu dalam hidup mereka, lima belas tahun setelah mereka menyelesaikan studi mereka. Hasil penelitian yang benar-benar mengejutan para peneliti itu adalah: Mereka yang lulus dengan mendapat penghargaan (predikat memuaskan, cum laude atau summa cum laude), mereka yang mendapatkan penghargaan atas prestasi akademiknya, mereka yang berhasil masuk dalam Phi Beta Kappa ternyata lebih cenderung berprestasi biasa-biasa. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa tidak ada hubungan langsung antara keberhasilan akademik dan keberhasilan hidup. Lalu faktor apa yang menjadi kunci keberhasilan hidup manusia ?  Kunci keberhasilan hidup adalah konsep diri positip (adi@adiwgunawan.com)
Pemahaman orang tua terhadap pentingnya konsep diri bagi anak-anak, tentunya membawa implikasi dalam model pendidikan yang diterapkan di rumahnya. Sehingga, orang tua dituntut untuk menerapkan pola pendidikan yang mengarahkan pada pembentukan konsep diri positif bagi anak-anaknya. Pemahaman tentang konsep diri bagi anak juga penting diketahui oleh para guru di sekolah, terutama di sekolah dasar, Proses pembentukan konsep diri dimulai sejak anak masih kecil. Masa kritis pembentukan konsep diri adalah saat anak masuk di sekolah dasar. Glasser, seorang pakar pendidikan dari Amerika, menyatakan bahwa lima tahun pertama di SD akan menentukan “nasib” anak selanjutnya. Sering kali proses pendidikan yang salah, saat di SD, berakibat pada rusaknya konsep diri anak.
(Penulis guru SMPN 1 Nagreg,  SMP YP 17 Nagreg, dan pengelola Bapinger Education Cicalengka)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Text widget

About

Senin, 04 Juni 2012

Implikasi Pendidikan dalam pembentukan konsep Diri



Oleh Iwan Ardhie Priyena
Apa yang anda pikirkan tentang diri Anda? Apakah anda orang yang selalu optimis dalam mengahadapi berbagai persoalan hidup? Apakah Anda siap menghadapi resiko atas setiap keputusan yang Anda lakukan? Apakah Anda merasa orang-orang yang ada di sekeliling Anda adalah orang-orang yang menyenangkan sehingga Anda merasa nyaman berhubungan dengan mereka? Atau Anda merasakan bahwa setiap orang memusuhi Anda, dan Anda selalu merasa bodoh atas segala tindakan dan keputusan yang Anda ambil, serta  Anda merasa bahwa  hidup ini begitu tidak menyenangkan karena banyak sekali persoalan yang sulit Anda hadapi? Atau kah Anda selalu berimajinasi  bahwa hal-hal buruk akan menimpa Anda sautu saat nanti?
Jika Anda memikirkan apa "yang Anda suka", hidup Anda akan dipenuhi oleh hal itu. Dan sebaliknya , jika Anda selalu memikirkan hal-hal "yang tidak Anda suka" maka yang terjadi dalam hiudp Anda pun akan mencerminkan itu. Demikian satu pernyataan dari buku “Quantum Ikhlas” yang mungkin bisa menggugah kesadaran  kita  untuk mengolah konten pikiran Anda. Artinya betapa dahsyatnya pengaruh pikiran kita dalam kehidupan sehari-hari. Pengaruh pikiran tersebut juga dapat mencerminkan konsep diri seseorang.
Konsep diri  adalah  keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya. Ada dua macam konsep diri, yakni konsep diri negative dan konsep diri positif. Pertanyaan-pertanyaan di atas bisa mendeteksi apakah kita  termasuk kelompok orang yang memiliki konsep diri negatif atau positif.
Brooks dan Emmert (dalam Rahmat, 1996), mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan karakteristik antara orang yang meiliki  konsep diri positif dan seseorang dengan konsep diri negatif. Perbedaan tersebut dapat ditunjukkan melalui beberapa indikator yakni : orang yang memiliki konsep diri positif
 memiliki  keyakinan  akan kemampuan dalam mengatasi masalah; merasa setara atau sederajat dengan orang lain; menerima pujian tanpa rasa malu; menyadari bahwa setiap orang memilki berbagai perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak seluruhnya dapat diterima oleh masyarakat;  memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri sendiri; memiliki kesanggupan dalam mengungkapkan aspek yang tidak disenangi dan berusaha untuk mengubahnya.

Sedangkan orang yang memiliki  konsep diri negatif,  ditunjukkan melalui perilaku antara lain : peka terhadap kritik, namun di persespi  sebagai upaya orang lain untuk menjatuhkan harga dirinya; cenderung menghindari dialog yang terbuka;  selalu mempertahankan pendapat dengan berbagai logika yang keliru;   sangat respek terhadap berbagai pujian yang ditujukan pada dirinya dan segala atribut atau embel-embel yang menunjang harga dirinya menjadi pusat perhatiannya;  memiliki kecenderungan bersikap hiperkritis terhadap orang lain; jarang bahkan tidak pernah mengungkapkan penghargaan atau pengakuan terhadap kelebihan orang lain; memiliki perasaan mudah marah, cenderung mengeluh dan meremehkan orang lain;  merasa tidak disenangi dan tidak diperhatikan oleh orang banyak, karena itulah cenderung bereaksi untuk menciptakan permusuhan;  tidak mau menyalahkan diri sendiri namun selalu memandang dirinya sebagai korban dari sistem sosial yang tidak benar; pesimis terhadap segala yang bersifat kompetitif, enggan bersaing dan berprestasi, serta tidak berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya.(http://duniapsikoligi.dagdigdug.com)

Konsep diri yang di miliki oleh seseorang  bukanlah bersifat genetic atau pembawaan yang diturunkan dari orang tuanya. Dengan kata lain, konsep diri yang dimiliki seseorang baik yang negative atau yang positif bukan bakat atau karakter bawaan. Konsep diri lebih banyak ditentukan oleh fakor lingkungan sekitar, seperti keluarga, pergaulan dan pendidikan di masa kecil. Harus diingat pula, bahwa konsep diri ini tidak bersifat permanen. Sebab, bias saja seseorang mengubah konsep dirinya dari negtatif ke positif atau sebaliknya  seiring muncul keadaran baru tentang dirinya. Yang diharapkan tentu adalah perubahan dari konsep diri negative ke konsep diri positif dan bukan sebaliknya. Sebab, konsep diri negative memang dapat merugikan pribadi yang bersangkutan, terutama dalam hubungan dengan proses sosialiasasi  maupun dalam karir dan pekerjaan.
Faktor-faktor yang berperan dalam pembentukan konsep diri adalah, pola asuh orangtuanya, kegagalan, serta depresi. Orang tua tanpa disadari  sering mengeluarkan stigma ,seperti “segini aja kamu ini ngga bias…bodoh amat sih kamu”, “kamu ini memang pemalas…” “kamu memang nggak punya bakat maju” dsb. Bila stigma itu  sering dikemukakan oleh orang tua, maka dalam waktu lama, terbentuklah dalam diri sang anak konsep dirinya sebagai orang yang “bodoh” “malas” dan “gagal”. Ini lah mengapa pentingnya orang tua berhati-hati dalam mengeluarkan penilaian pada anaknya.
Lingkungan keluarga dan lingkungan seseorang sekitarnya  di masa kecil memiliki kontribusi yang signifikan terhadap pembentukan konsep diri. Lewat sajaknya yang terkenal Dorte Law Nolte menggambarkan dengan gamblang : jika anak hidup dengan kecaman, ia belajar untuk menyalahkan ,jika anak hidup dengan permusuhan, ia belajar untuk berkelahi  ,jika anak hidup dengan ejekan, ia belajar untuk jadi pemalu , jika anak hidup dengan rasa malu, ia belajar untuk merasa bersalah , jika anak hidup dengan toleransi, ia belajar untuk menjadi penyabar, jika anak hidup dengan dorongan, ia belajar untuk percaya diri, jika anak hidup dengan pujian, ia belajar untuk menghargai , jika anak hidup dengan kejujuran, ia belajar untuk bersikap adil,  jika anak hidup dengan perlindungan, ia belajar untuk memiliki keadilan, jika anak hidup dengan restu, ia belajar untuk menyukai diri sendiri Jika anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan, ia belajar menemukancinta di dunia
Konsep diri positif berperan penting dalam mencapai kemajuan bagi seseorang. Hasil penelitian yang dilakukan di Amerika oleh Dr. Eli Ginzberg beserta timnya menemukan satu hasil yang mencengangkan. Penelitian ini melibatkan 342 subyek penelitian yang merupakan lulusan dari berbagai disiplin ilmu. Para subyek penelitian ini adalah mahasiswa yang berhasil mendapatkan bea siswa dari Colombia University. Dr. Ginzberg dan timnya meneliti seberapa sukses 342 mahasiswa itu dalam hidup mereka, lima belas tahun setelah mereka menyelesaikan studi mereka. Hasil penelitian yang benar-benar mengejutan para peneliti itu adalah: Mereka yang lulus dengan mendapat penghargaan (predikat memuaskan, cum laude atau summa cum laude), mereka yang mendapatkan penghargaan atas prestasi akademiknya, mereka yang berhasil masuk dalam Phi Beta Kappa ternyata lebih cenderung berprestasi biasa-biasa. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa tidak ada hubungan langsung antara keberhasilan akademik dan keberhasilan hidup. Lalu faktor apa yang menjadi kunci keberhasilan hidup manusia ?  Kunci keberhasilan hidup adalah konsep diri positip (adi@adiwgunawan.com)
Pemahaman orang tua terhadap pentingnya konsep diri bagi anak-anak, tentunya membawa implikasi dalam model pendidikan yang diterapkan di rumahnya. Sehingga, orang tua dituntut untuk menerapkan pola pendidikan yang mengarahkan pada pembentukan konsep diri positif bagi anak-anaknya. Pemahaman tentang konsep diri bagi anak juga penting diketahui oleh para guru di sekolah, terutama di sekolah dasar, Proses pembentukan konsep diri dimulai sejak anak masih kecil. Masa kritis pembentukan konsep diri adalah saat anak masuk di sekolah dasar. Glasser, seorang pakar pendidikan dari Amerika, menyatakan bahwa lima tahun pertama di SD akan menentukan “nasib” anak selanjutnya. Sering kali proses pendidikan yang salah, saat di SD, berakibat pada rusaknya konsep diri anak.
(Penulis guru SMPN 1 Nagreg,  SMP YP 17 Nagreg, dan pengelola Bapinger Education Cicalengka)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.