Oleh Iwan Ardhie Priyena
Apa yang anda pikirkan tentang diri Anda? Apakah anda orang
yang selalu optimis dalam mengahadapi berbagai persoalan hidup? Apakah Anda
siap menghadapi resiko atas setiap keputusan yang Anda lakukan? Apakah Anda
merasa orang-orang yang ada di sekeliling Anda adalah orang-orang yang
menyenangkan sehingga Anda merasa nyaman berhubungan dengan mereka? Atau Anda
merasakan bahwa setiap orang memusuhi Anda, dan Anda selalu merasa bodoh atas
segala tindakan dan keputusan yang Anda ambil, serta Anda merasa bahwa hidup ini begitu tidak menyenangkan karena
banyak sekali persoalan yang sulit Anda hadapi? Atau kah Anda selalu
berimajinasi bahwa hal-hal buruk akan
menimpa Anda sautu saat nanti?
Jika Anda
memikirkan apa "yang Anda suka", hidup Anda akan dipenuhi oleh hal
itu. Dan sebaliknya , jika Anda selalu memikirkan hal-hal "yang tidak Anda
suka" maka yang terjadi dalam hiudp Anda pun akan mencerminkan itu. Demikian
satu pernyataan dari buku “Quantum Ikhlas” yang mungkin bisa menggugah
kesadaran kita untuk mengolah konten pikiran Anda. Artinya
betapa dahsyatnya pengaruh pikiran kita dalam kehidupan sehari-hari. Pengaruh
pikiran tersebut juga dapat mencerminkan konsep diri seseorang.
Konsep diri adalah keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang
terhadap dirinya. Ada dua macam konsep diri, yakni konsep diri negative dan
konsep diri positif. Pertanyaan-pertanyaan di atas bisa mendeteksi apakah kita termasuk kelompok orang yang memiliki konsep
diri negatif atau positif.
Brooks dan Emmert (dalam Rahmat,
1996), mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan karakteristik antara orang yang
meiliki konsep diri positif dan
seseorang dengan konsep diri negatif. Perbedaan tersebut dapat ditunjukkan
melalui beberapa indikator yakni : orang yang memiliki konsep diri positif
memiliki keyakinan akan kemampuan dalam mengatasi masalah; merasa setara atau sederajat dengan orang lain; menerima pujian tanpa rasa malu; menyadari bahwa setiap orang memilki berbagai perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak seluruhnya dapat diterima oleh masyarakat; memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri sendiri; memiliki kesanggupan dalam mengungkapkan aspek yang tidak disenangi dan berusaha untuk mengubahnya.
memiliki keyakinan akan kemampuan dalam mengatasi masalah; merasa setara atau sederajat dengan orang lain; menerima pujian tanpa rasa malu; menyadari bahwa setiap orang memilki berbagai perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak seluruhnya dapat diterima oleh masyarakat; memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri sendiri; memiliki kesanggupan dalam mengungkapkan aspek yang tidak disenangi dan berusaha untuk mengubahnya.
Sedangkan orang yang memiliki konsep diri negatif, ditunjukkan melalui perilaku antara lain : peka
terhadap kritik, namun di persespi sebagai upaya orang lain untuk menjatuhkan
harga dirinya; cenderung menghindari dialog yang terbuka; selalu mempertahankan pendapat dengan berbagai
logika yang keliru; sangat respek terhadap berbagai pujian yang
ditujukan pada dirinya dan segala atribut atau embel-embel yang menunjang harga
dirinya menjadi pusat perhatiannya; memiliki
kecenderungan bersikap hiperkritis terhadap orang lain; jarang bahkan tidak
pernah mengungkapkan penghargaan atau pengakuan terhadap kelebihan orang lain;
memiliki perasaan mudah marah, cenderung mengeluh dan meremehkan orang
lain; merasa tidak disenangi dan tidak
diperhatikan oleh orang banyak, karena itulah cenderung bereaksi untuk
menciptakan permusuhan; tidak mau
menyalahkan diri sendiri namun selalu memandang dirinya sebagai korban dari
sistem sosial yang tidak benar; pesimis terhadap segala yang bersifat
kompetitif, enggan bersaing dan berprestasi, serta tidak berdaya melawan
persaingan yang merugikan dirinya.(http://duniapsikoligi.dagdigdug.com)
Konsep diri yang di miliki oleh seseorang bukanlah bersifat genetic atau pembawaan yang
diturunkan dari orang tuanya. Dengan kata lain, konsep diri yang dimiliki
seseorang baik yang negative atau yang positif bukan bakat atau karakter
bawaan. Konsep diri lebih banyak ditentukan oleh fakor lingkungan sekitar,
seperti keluarga, pergaulan dan pendidikan di masa kecil. Harus diingat pula,
bahwa konsep diri ini tidak bersifat permanen. Sebab, bias saja seseorang
mengubah konsep dirinya dari negtatif ke positif atau sebaliknya seiring muncul keadaran baru tentang dirinya.
Yang diharapkan tentu adalah perubahan dari konsep diri negative ke konsep diri
positif dan bukan sebaliknya. Sebab, konsep diri negative memang dapat
merugikan pribadi yang bersangkutan, terutama dalam hubungan dengan proses
sosialiasasi maupun dalam karir dan
pekerjaan.
Faktor-faktor yang berperan dalam
pembentukan konsep diri adalah, pola asuh orangtuanya, kegagalan, serta
depresi. Orang tua tanpa disadari sering
mengeluarkan stigma ,seperti “segini aja kamu ini ngga bias…bodoh amat sih
kamu”, “kamu ini memang pemalas…” “kamu memang nggak punya bakat maju” dsb.
Bila stigma itu sering dikemukakan oleh
orang tua, maka dalam waktu lama, terbentuklah dalam diri sang anak konsep
dirinya sebagai orang yang “bodoh” “malas” dan “gagal”. Ini lah mengapa pentingnya
orang tua berhati-hati dalam mengeluarkan penilaian pada anaknya.
Lingkungan keluarga dan
lingkungan seseorang sekitarnya di masa
kecil memiliki kontribusi yang signifikan terhadap pembentukan konsep diri.
Lewat sajaknya yang terkenal Dorte Law Nolte menggambarkan dengan gamblang : jika
anak hidup dengan kecaman, ia belajar untuk menyalahkan ,jika anak hidup dengan
permusuhan, ia belajar untuk berkelahi ,jika
anak hidup dengan ejekan, ia belajar untuk jadi pemalu , jika anak hidup dengan
rasa malu, ia belajar untuk merasa bersalah , jika anak hidup dengan toleransi,
ia belajar untuk menjadi penyabar, jika anak hidup dengan dorongan, ia belajar
untuk percaya diri, jika anak hidup dengan pujian, ia belajar untuk menghargai ,
jika anak hidup dengan kejujuran, ia belajar untuk bersikap adil, jika anak hidup dengan perlindungan, ia
belajar untuk memiliki keadilan, jika anak hidup dengan restu, ia belajar untuk
menyukai diri sendiri Jika anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan, ia
belajar menemukancinta di dunia
Konsep
diri positif berperan penting dalam mencapai kemajuan bagi seseorang. Hasil penelitian yang dilakukan di
Amerika oleh Dr. Eli Ginzberg beserta timnya menemukan satu hasil yang
mencengangkan. Penelitian ini melibatkan 342 subyek penelitian yang merupakan
lulusan dari berbagai disiplin ilmu. Para subyek penelitian ini adalah
mahasiswa yang berhasil mendapatkan bea siswa dari Colombia University. Dr.
Ginzberg dan timnya meneliti seberapa sukses 342 mahasiswa itu dalam hidup
mereka, lima belas tahun setelah mereka menyelesaikan studi mereka. Hasil
penelitian yang benar-benar mengejutan para peneliti itu adalah: Mereka yang
lulus dengan mendapat penghargaan (predikat memuaskan, cum laude atau summa cum
laude), mereka yang mendapatkan penghargaan atas prestasi akademiknya, mereka
yang berhasil masuk dalam Phi Beta Kappa ternyata lebih cenderung berprestasi
biasa-biasa. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa tidak ada hubungan langsung
antara keberhasilan akademik dan keberhasilan hidup. Lalu faktor apa yang
menjadi kunci keberhasilan hidup manusia ? Kunci keberhasilan hidup
adalah konsep diri positip (adi@adiwgunawan.com)
Pemahaman orang tua terhadap pentingnya konsep diri bagi
anak-anak, tentunya membawa implikasi dalam model pendidikan yang diterapkan di
rumahnya. Sehingga, orang tua dituntut untuk menerapkan pola pendidikan yang
mengarahkan pada pembentukan konsep diri positif bagi anak-anaknya. Pemahaman
tentang konsep diri bagi anak juga penting diketahui oleh para guru di sekolah,
terutama di sekolah dasar, Proses pembentukan konsep diri dimulai sejak anak
masih kecil. Masa kritis pembentukan konsep diri adalah saat anak masuk di
sekolah dasar. Glasser, seorang pakar pendidikan dari Amerika, menyatakan bahwa
lima tahun pertama di SD akan menentukan “nasib” anak selanjutnya. Sering kali
proses pendidikan yang salah, saat di SD, berakibat pada rusaknya konsep diri
anak.
(Penulis guru SMPN 1 Nagreg, SMP YP 17 Nagreg, dan pengelola Bapinger
Education Cicalengka)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar