Senin, 04 Juni 2012

Tak ada yang perlu dikeluhkan Anakku




Tak ada yang perlu dikeluhkan anakku,
Gas sudah mulai langka,
Harga beras naiknya setinggi pohon kelapa
biaya hidup semakin menggila
kejujuran tak  ada  lagi harganya
kesombongan berserak di mana-mana
mereka yang mengeluh adalah yang kalah
kau harus menjadi pemenang, ayo bangkit dan berjuanglah

Fikmin #Robot Spiderman#



Geus meh sajam Wawan ngajanteng hareupeun toko, nyerangkeun robot Spiderman dina kaca. Sabot kitu leungeuna ngodok saku, pasti moal pimahieun pikeun meuli robot spiderman. Ladang nyemir sapatu tara aya sesana, kabeh di bikeun ka indungna. Sesana paling di pake jajan. Saban manehna ngaliwat ka toko cocoan di lebah pengkolan, pasti manehna nangtung dina hareupeun kaca toko. Harita, basa manehna ngaliwat robot the euweuh. Sabot ngalieuk ka jero, budak lalaki pantar manehna keur nanangkeup robot Spiderman bangun nu agul jeung bungah. Ti harita mun pareng Wawan ngaliwat ka toko cocoan lebah pengkolan mun pareng ngalieuk ka lebah kaca, hatena sok ngadadak nyeredet .

Anak didik kita, adalah cermin kita



Kita tidak bisa membuat siswa  termotivasi belajar saat kita  tampak memiliki kehilangan motivasi dalam mengajar
Kita tidak bis a membuat anak-anak semangat belajar saat kita tampak  kurang  bergairah dalam mengajar
Kita tidak bisa membuat anak-anak kita  siap belajar, saat kita tampak  asal-asalan  saat  mengajar
Kita tidak bisa membuat siswa nyaman di dalam kelas, saat kita juga tampak gelisah di dalam kelas
Kita tidak bisa berharap siswa tersenyum pada kita saat kita sendiri tampak berwajah kusam
Kita tidak bisa  menciptakan anak yang senang membaca saat kita pun tak pernah akrab dengan bacaan
Kita tidak bisa membuat siswa bersungguh sungguh untuk mecapai cita-citanya saat kitapun tak memiliki kesungguhan atas apa yang saat ini kita miliki
Kita tidak bisa membuat anak-anak kita berpikir saat pikiran kita tidak focus pada  mereka
Kita tidak bisa berharap perhatian dari anak-anal kita saat kitapun jarang memperhatikan mereka
Kita tidak bisa berharap mereka  memiliki antuasis saat kita pun seakan tidak begitu antuasias terhadap apa yang menjadi tugas kita
Kita tidak bisa berharap siswa kita memiliki hal-hal baru saat kita pun tidak pernah melakukan perubahan apapun saat mengajar
Kita tidak   bisa berharap mereka akrab pada kita saat kita selalu menjauh dari mereka
Kita tidak bisa berharap agar mereka jujur saat kitapun  sering tidak terbuka  pada mereka
Dan kita pun tidak bisa berharap mereka hormat pada kita saat kita pun tidak menghargai mereka


Anak didik kita, adalah cermin kita





Kita tidak bisa membuat siswa termotivasi belajar saat kita tampak memiliki kehilangan motivasi dalam mengajar


Kita tidak bis a membuat anak-anak semangat belajar saat kita tampak kurang bergairah dalam mengajar


Kita tidak bisa membuat anak-anak kita siap belajar, saat kita tampak asal-asalan saat mengajar


Kita tidak bisa membuat siswa nyaman di dalam kelas, saat kita juga tampak gelisah di dalam kelas


Kita tidak bisa berharap siswa tersenyum pada kita saat kita sendiri tampak berwajah kusam


Kita tidak bisa menciptakan anak yang senang membaca saat kita pun tak pernah akrab dengan bacaan


Kita tidak bisa membuat siswa bersungguh sungguh untuk mecapai cita-citanya saat kitapun tak memiliki kesungguhan atas apa yang saat ini kita miliki


Kita tidak bisa membuat anak-anak kita berpikir saat pikiran kita tidak focus pada mereka


Kita tidak bisa berharap perhatian dari anak-anal kita saat kitapun jarang memperhatikan mereka


Kita tidak bisa berharap mereka memiliki antuasis saat kita pun seakan tidak begitu antuasias terhadap apa yang menjadi tugas kita


Kita tidak bisa berharap siswa kita memiliki hal-hal baru saat kita pun tidak pernah melakukan perubahan apapun saat mengajar


Kita tidak bisa berharap mereka akrab pada kita saat kita selalu menjauh dari mereka


Kita tidak bisa berharap agar mereka jujur saat kitapun sering tidak terbuka pada mereka


Dan kita pun tidak bisa berharap mereka hormat pada kita saat kita pun tidak menghargai mereka


Hati-hati dengan Riya dalam beribadah



Syetan melakukan tugas menggoda dan menjerumuskan manusia dengan segala cara tanpa pandang bulu, mulai dari anak-anak, orang dewasa, orang tua, laki-laki, perempuan, orang yang sedikit beribadah, sampai orang yang tekun beribadah kepada Allah SWT. Semuanya mendapat giliran. Salah satu cara syetan menghadapi orang yang banyak beribadah adalah dengan cara menanamkan rasa ujub dan riya ke dalam hati orang itu sehingga amalannya menjadi sia-sia dan bahkan menjerumuskannya ke neraka.
Di antara syarat diterimanya amal shaleh adalah bersih dari riya’ dan sesuai dengan sunnah. Orang yang melakukan ibadah dengan maksud agar dilihat oleh orang lain, maka ia telah terjerumus kepada perbuatan syirik kecil, dan amalnya menjadi sia-sia belaka. Misalnya melaksanakan shalat agar dilihat orang lain.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan Allah. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. (Q.S; An Nisaa’: 142).
Demikian pula jika ia melakukan suatu amalan dengan tujuan agar diberitakan dan didengar oleh orang lain, maka ia termasuk syirik kecil. Rasulullah Shallallahu’alaihi wassala memberikan peringatan kepada mereka dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu:
“Barangsiapa melakukan perbuatan sum’ah (ingin didengar oleh orang lain), niscaya Allah akan menyebarkan aibnya, dan barang siapa melakukan perbuatan riya’, niscaya Allah akan menyebarkan aibnya”. (Hadits riwayat Muslim, 4/ 2289.)
Berkaitan dengan kata “agar diberitakan” oleh orang lain seperti yang terse but dalam pernyataan di atas, timbullah pertanyaan, bagaimana dengan status atau postingan yang sering tampak dalam facebook  yang seakan “mengabarkan” kegiatan ibadah seperti berikut :
“Alhamdulillah, baru saja melaksanakan shalat tajahud dengan suami….”
“Alangkah sejuknya malam ini sehabis melaksanakan shalat tahajud..”
“ Sedang mengajarkan anakku mengaji malam ini, agar cepat khatam”
“Menunggu maghrib tiba, menu apa untuk buka ya?”
“Oh senangnya setelah melaksanakan shalat berjamaah….”
“Lagi melaksanakan puasa sunnah…semoga tidak ada godaan”
Dan masih banyak lagi status-status yang bernada seakan-akan memberitahukan bahwa orang yang menulis status itu tengah melaksanakan ibadah.
Pertanyaannya apakah status itu termasuk sebagai ketegori ria dalam beribadah? Wallahu alam bissawab, hati kecil kita lah yang menjawabnya.
Marilah kita renungkan sabda Rasulullah berikut ini :
 Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa, besar hati lagi merahasiakan ibadahnya“


Kota yang berdarah



(untuk negeriku yang sedang gelisah)
Ribuan tangan mengepal mengabarkan amarah
Kilatan parang berseliweran menawarkan darah
“siapa berani, ayo tunjukan nyali, ini medan sejati”
Satu –satu satu rubuh, darah mengalir di seluruh penjuru kota
Anak-anak meronta dan ibu ibu ratapi nasibnya jadi janda
Ribuah tangan mengepal mengabarkan amarah
Kilatan pedang menebarkan aroma darah
Kota jadi gelisah, dan langit memerah
“siapa berani, ayo tunjukan nyali, ini pertarungan sampai mati”
Satu satu ambruk,  dan rebah
Ah, kota ku semerah darah

Fikmin #Bangke Anjing Hareupeun Istana#


Fikmin #Bangke Anjing Hareupeun Istana#


Geus rek saminggu eta budak lalaki nu kira-kira umurna  dua welas taun nangtung hareupeun Istana Presiden. Bajuna keuleuheu awakna rudin, beungeutna oge katembong kanyos. “Jang, keur nanaon di dieu “ ceuk Paspampres 
“Kuring  rek nepungan presiden” tembalna.
“Presidenna ge euweuh keur ka luar nagri”…. Na rek naon kitu ka presiden?” .
“Kuring rek nanyakeun naha bengsin rek naek?”
“Enya…” tembal Paspampres.
“Euh mun kitu mah nya kumaha nasib kuring, adi-adi kuring jeung  indung kuring . Ayeuna ge kuring jeung kulawarga  pan susah kacida” ceuk eta budak.
“Jig we atuh tepikeun  ka DPR, tuh belah ditu…tah   ieu ongkos keur naek Kopaja, sesana mah pake dahar we”
Dua poe ti harita di hareupeun Istana gujrud bari nutupan irung. “Bangke anjing bangke anjing !” cenah bari nunjuk bangke nu ngalumuk di hareupeun istana. Salah saurang Paspamres geuwat neangan karung tuluy nyampeurkeun bangke nu di tutupan ku koran. Barang di buka eta Pasamres teh ngahuleng, ningali  budak lalaki umur dua  welas taun  , dina saku katembong aya duit sapuluh rebu. 

Fikmin #Ulama Kahot#




Lembur kuring katelah Kota Santri. Bubuhan di lembur teh aya ulama kahot anu kawentar ka mana-mana. Nu pang onjoyna teh dina widang qiroat. Ti mamana, loba  nu ngadon tolab elmu di lembur kuring seja neuleuman elmu qiroat. Sabada jaman repormasi, aya perobahan nu tumiba ka ulama ahli qiroat tea. Ti ditu ti dieu jul jol nu  ngadeukeutan sangkan  ulama kahot teh daek ancrub kana widang politik. Nu di palar sangkan katokohan eta ulama bisa  ngaronjatkeun sora eta parpol. Ti harita eta ulama mindeng  gunta ganti parpol, ti parpol A tuluy ka parpol B, tuluy ka parpol C. Kadieunakeun mah katingali pamor eta ulama teh geus mimiti  surem nu antukna nepi ka teu kacaturkeun deui aya di parpol mana. Saprak asup ka parpol pasantren teu ka urus. Dina ka urusna ge ngan ukur dijadikan ajang kampanyeu. Minggu kamari di lembur gujrud sabada manggih beja, aya jajaka nu katewak  ku razia Satpol PP di hiji hotel, si horeng eta jajaka teh anak bungsuna  ulama kahot.

Sandi Rokok dan Orang Tua



Oleh Iwan Ardhie Priyana

Sandi, bocah 4 tahun asal kota Malang itu mendadak terkenal bak selebritis. Tingkah lakunya yang tidak lazim untuk manusia seusianya mengudang perhatian media massa ,terutama media massa eletronik. Banyak pihak yang merasa prihatin atas kebiasaan buruknya yang suka merokok, berkata-kata cabul dan suka meminum minuman keras. Kak Seto dari Komisi Perlindungan Anak (KPA) memberikan perhatian penuh atas kasus Sandi ini. Tidak hanya Kak Seto, Wakil gubernur Jawa Timur, serta LSM pun turut prihatin dan memberikan bantuan pelayanan terapi untuk sang bocah  tersebut.
Kebiasaan merokok Sandi di usia nya yang masih tergolong balita memang sangat berisiko terhadap kesehatan fisiknya. Di dalam sebatang rokok, sekurangnya terkandung 4000 zat yang bias “membunuh” seorang manusia secara tidak sadar. Setiap kali mengisap rokok, seseorang mengkonsumsi  nikotin ke dalam parunya lalu ke otaknya. Penelitian telah membuktikan bahwa nikotin dapat mengakibatkan ketagihan, sama seperti heroin dan kokain. Nikotin juga dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Pembuluh darah yang sempit membuat darah menjadi lebih sulit mengalir ke seluruh tubuh. Organ-organ tubuh menjadi kekurangan oksigen karena aliran darah tidak lancar. Hal ini membuat jantung dipaksa bekerja lebih keras memompa darah. Akibatnya, tekanan darah menjadi tinggi dan jantung menjadi lebih cepat rusak atau terkena penyakit.    Zat-zat pembunuh lainnya tak kalah dahsyatnya seperti :  amonia (bahan pembersih lantai), naftalen (zat kapur barus), hidrogen sianida (racun yang digunakan untuk pelaksanaan hukuman mati), aseton (penghapus cat kuku), toluen (pelarut), metanol (bahan bakar roket), arsenik (racun semut), butan (bahan bakar korek api), kadmium (bahan aki mobil), DDT (racun serangga), vinil klorida (bahan plastik) dan lain-lain.
Mengingat betapa banyaknya kandungan zat yang berbahaya bagi tubuh, pertanyaannya adalah , sadarkan Sandi akan bahaya yang ditimbulkan dari asap rokok tersebut? Bagaimana sebenarnya “proses pembelajaran” yang dialami oleh Sandi sehingga ia menjelma menjadi seorang “manusia dewasa” diusaia yang masih balita? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita memahami apa yang disebut dengan teori pikiran.
 Menurut beberapa teori tentang pikiran, manusia memilki dua jenis pikiran, yakni pikiran sadar  dan pikiran bawah sadar yang keduanya memilki fungsinya masing-masing, akan tetapi bekerja secara simultan. Pikiran sadar memiliki empat fungsi utama, yakni , mengidentifikasi informasi yang masuk, memba ndingkan, menganalisis, dan memutuskan. Sementara itu, pikiran sadar memiliki fungsi yang sangat luas, meliputi : kebiasaan baik, buruk dan reflek, “menyimpan “ emosi, gudang penyimpanan emosi jangka pan jang , kepribadian, intuisi, kreatifitas, persepsi serta belief (kepercayaan) dan value (nilai-nilai). Pikiran bawah sadar  bekerja secara terus menerus dan mulai hadir lebih dahulu dibandingkan dengan pikiran sadar.
Pada saat anak-anak, manusia lebih banyak bekerja pada tataran bawah sadar, daripada pikiran sadarnya.  Sedangkan pada orang dewasa, pikiran sadar lebih banyak “ bekerja”. Misalnya seorang dewasa melakukan proeses identifikasi serta menganalisis informasi yang diterimanya. Setelah melalui proses mengidentifikasi tersebut, lalu seorang dewasa memutusakan sesuatu. Bagi orang dewasa, kebiasaan merokok dan meminum minuman keras tentu dihindari karena pikiran sadarnya memberitahukan bahwa rokok dan minuman keras membahayakan tubuhnya, sehingga ia memutuskan untuk tidak merokok dan meminum minuman keras. Dengan kata lain, sebuah ide, atau sebuah informasi yang masuk sebelum disimpan di bawa sadarnya akan melalui tahap penyeleksian terlebih dahulu.
Berbeda dengan orang dewasa, sebagaimana dikatakan Adi W Gunawan seoranr pakar Hypnoterapi, ana-anak lebih banyak berhubungan dengan atau menggunakan pikiran bawah sadar. Semua informasi masuk ke dalam bawah sadar  tanpa penilaian apakah itu baik atau buruk. Dengan kata lain, proses pemihan serta identifikasi terhadap ide yang masuk tidak berjalan seperti pada orang dewasa. Dengan menggunakan logka seperti ini maka tidak mengherankan jika seorang Sandi , tidak bias memutuskankan apakah merokok itu berbahaya atau tidak. Celakanya, ide yang masuk bila dilakukan secara terus menerus dilakukan dan diulang-ulang (repetisi) akan menjadi belief (kepercayaan ) yang tertanam dan sangat sulit untuk dihilangkan.
Kebiasan merokok Sandi tidak tumbuh dengan sendirinya, tetapi melalui proses “pembelajaran” yang dilakukan secara tidak sadar melalui orang-orang dewasa sekelilingnya. Hal ini dketahui karena  Sandi setiap hari bergaul dengan orang-orang dewasa yang memiliki kebiasaan merokok, berkata cabul dan meminum-minuman keras. Pengalaman-pengalaman kesehariaan itulah yang dilakukan secara kosnsisten dan terus menerus yang diserap oleh pikiran bawah sadarnya, yang lambat laun akan mempe ngaruhi prilaku dan kepribadiannya. Menurut Adi W Gunawan, orang tua dan lingkungan anak adalah “programmer” yang  paling bertanggung jawab terhadap program mental sang anak.
Pikiran manusia sebernya mirip cara bekerja program computer. Pikiran bawah sadar dapat diinstall untuk menghapus atau mengganti program yang baru. Oleh sebab itu, untuk mengindari kebiasaan dan prilaku b uruk yang tersimpan dalam pikiran bawah sadar dapat di delet, dengan bantuan terapi, dan konsultasi psikologis. Namun yang paling penting dilakukan adalah sikap orang dewasa serta masyarakat sekelilingnya lah yang memiliki kontribusi terhadap perilaku Sandi yang harus diubah.
Berkaca pada kasus Sandi, orang tua serta masyarakat harus menyadari apa akibat merokok, tidak hanya bagi kesehatan fisik dirinya dan orang-orangs sekitarnya, juga bagi perkembangan mental anak-anak. Bagi orang tua yang suka merokok, dan kebetulan memiliki anak-anak, tentu dapat mengambil hikmah dari peristsitiwa Sandi.  Seorang anak yang lahir pada dasarnya putih bersih, orang tunyanya yang akan mendidikan apakah ia akan menjadi Yahudi, majusi atau Nasran , demikian kata Rasul. Artinya kebiasan, karakter seorang anak dibentuk oleh  orang tuanya,  yang dimaksud tidak hanya orang tua dalam pengertian orang tua biologis, tetapi termasuk orang dewasa yang  berada di lingkungan sekitarnya.

 

Seekor unta bernama “Habibi”


Diikisahkan, di salah satu tempat di Arab terdapat sebuah  makam yang dianggap keramat dan men jadi tempat berziarah banyak orang. Tentang siapa yang dimakamkan di sana, tidak banyak yang tahu persis. Hanya memang menurut yang menjaga makam itu, di tempat itu dimakamkan seorang soleh. Para peziarah  yang datang ke tempat itu banyak memperoleh barokah. Sehingga makam itu ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai pelosok.
Sang penjaga makan keramat memiliki seorang  anak laki-laki yang sudah beranjak dewasa. Suatu hari, Sang Anak meminta izin pada ayahnya untuk pergi meninggalkan tempa itu untuk mengembara. Sang penjaga makam sebenarnya keberatan, mengingat anak itu satu-satunya harapan untuk menggantikannya menjaga makam itu bila ia meninggal. Namun, ia tidak bisa menghalangi kepergian anaknya tersebut. Saat berpisah dengan anaknya, diberikanlah untuk anaknya  “si habibi” seekor unta   kesayangan yang selama ini dipeliharanya.
Sang anak itu pun akhirnya pergi dengan ditemani si habibi. Entah sudah berapa lama waktu berjalan dan sudah berapa jarak yang ditempuh oleh sang anak itu. Perjalanan jauh itu rupanya menyebabkan si habibi tak kuat lagi. SI habibi ,menderta sakit, dan tak lama kemudian mati. Tentu saja kematian si habibi meninggalkan luka dan kesedihan yang dalam. Sebagai bukti rasa sayangya pada si habibi, maka  di makamkam lah dengan segala penghormatan dalam sebuah lubang kubur. Di atas kuburan itulah sang anak terus-menerus menangis mengenang jasa-jasa yang pernah diberikan habibi kepadanya.
Kuburan si habibi terletak di sebuah jalan dimana banyak para pedagang yang lalu lintas ke tempat itu. Banyak pedagang yang menyaksikan  ada seseorang yang menangis di sebuah makam. Tentu ini makam seseorang saleh atau makam seorang yang banyak ilmunya. Demikian pikir orang-orang yang kebetulan lewat ke tempat itu. Sehingga banyak juga orang yang berdoa dan melakukan ziarah di tempat itu. Konon, setelah rang-orang yang berdoa ketempat itu banyak yang memperoleh barokah, sehingga makan tersebut  menjadi terkenal, dan tentunya  semakin mengundang banyak peziarah lainnya.
Kemashuran makam  yang dianggap keramat itu  menyebabkan orang-orang mempercayai bahwa di tempat itu benar-benar dimakamkan seorang sech yan saleh. Tentang rahasia sebenarnya, tentu hanya penjaga makam lah yang mengetahuinya. Membongkar rahasia makam kemarat yang kini dijaganya berarti menghilangkan banyak keuntungan yang selama ini telah dinikmatinya. Kalaupun nanti orang tahu siapa kah yang dimakankan di sana  sebenarnya, orang-orang yang datang ke tempat itu tentu tidak akan mau  percaya.
Rupanya kemashuran makam keramat tersebut telah sampai ke telinga ayahnya. Mendengar ada  tempat berziarah yang terkenal, mendorong sang ayah untuk mengunjunginya. Ia pun pergi meningglkan makam yang selama ini dijaganya. Ketika sampai di makam itu, amatlah terkejut dan terharu ketika ia tahu kalau anaknya yang selama ini pergi rupanya menjadi penjaga di makam itu. Pertemuan ayah dan anak itu  digunakan untuk saling melepas rindu setelah berapa lama mereka berpisah.  Saat keduanya berbincang, berkatalah sang ayah “ Nak, dari sejak ayah datang ke sini, ayah tidak melihat si habibi, sehatkah ia?” .
Untuk beberapa sat sang anak tertegun, lalu dengan perlahan ia becerita  pada ayahnya bahwa si habibi adalah unta yang berjasa dan telah banyak membantunya. Ia telah merawat dan mengurus s habibi dengan penuh kasih sayang . “Namun, sayang habibi harus meninggalkan dirinya untuk selamanya ” demikian kata anaknya.
Mendengar itu, tampaklah kesedihan dari sang ayah. Keduanya  sesaat kemudian terdiam dalam suasana keharuan.
“ Apakah bangkainya kau buang, seperti binatang lain, atau kah kau urus dia sebagai bukti bahwa kau menaruh sayang padanya?” Tanya sang ayah. “Tidak, si habibi ku makam kan dengan segala penghormatan” jawab anaknya.
“Dapatlah kau tunjukkan di mana makamnya?”
“Itu “ kata sang anak sambil menunjuk makam yang tengah di kelilingi banyak orang yang sedang berdoa. Sesaat kemudian ayahnya tertegun.
Setelah beberapa lama terdiam, ayahnya mulai berkata lagi. “Nak, mungkin sudah saatnya aku mengatakan suatu rahasia kepadamu, rahasia yang sudah lama ayah simpam..”
“Maksud ayah?” Tanya anaknya sambil memandang wajaha ayahnya.
“Sudah lama kita membohongi orang-orang yang datang ke makam ayah atau pun ke makam mu di sini, engkau  sendiri tak pernah  tahu dan tak pernah  bertanya  kepada ayah, makam siapa sebenarnya yang ayah jaga itu bukan?”.
Anaknya mengangguk.
“Bukankah di makam  yang ayah jaga itu , makam seorang syech dan dia orang yang soleh sehingga banyak orang yang ziarah untuk mendapat barokah?” Tanya sang anak.
“Bukan, di makan itu bukan syeh atau bukan orang yang soleh….” Jawab ayahnya.
“Lalu, makan siapa sebenarnya?”
“Makam itu tak lain dan tak bukan adalah makam induk  si habibi”. Jawab ayahnya.


Diolah dan diterjemahkan dari  cerita – cerita Moh. Ambri.

Minggu, 03 Juni 2012

Setasiun Nagreg suatu Ketika




Namamu mengingatkanku pada suatu hari
Ketika senja merayapi dinding ruang tunggu yang lusuh
Sementara deretan kursi yang lenggang mengabarkan sebuah kereta
Baru saja ditelan gelap kea rah barat.
Lalu aku masih berdiri di sini dengan keyakinan
Bahwa sebuah kereta akan tiba dari timur
Membawa mimpi
Tapi kau menggodaku dengan menyembunyikan bulan separuh
Dibalik tiang sinyal
Aku masih setia, menghitung saat demi saat
Yang berlalu tanpa pamit, kecuali meninggalkan gelisah
Diam-diam aku  mulai ragu, ketika  bulan kembali
 ke tempatnya semula, dan dengung yang mengalun
bukan peluit kereta, tapi  serombongan nyamuk yang menari
meningkahi sepi


Lagu Kemarau

Denting-denting nyaring
Dari dawai musim
Mengusik mentari separuh baya
Pohonan meronta, digelitik debu
Dan rumput-rumput kering tengadah pada langit
Menanti burung-burung hinggap
Lalu mati

Dari kumpulan puisi lawat yang pernah di muat di PIkiran Rakyat

Bila Keadilan ada di Tangan “Kera”




Dua ekor binatang sedang bertengkar karena memperebutkan buah semangka yang baru ditemukannya. Keduanya merasa berhak atas temuannya, sehingga  masing-masing ingin memiliki semangka itu seutuhnya. Tak ada saksi lain di tempat itu, yang bisa menunjukkan siapa sebenarnya penemu pertama yang berhak memiliki semangka itu sepenuhnya. Pada saat pertengkaran itu sudah akan mencapai puncaknya, tiba-tiba melintaslah seekor kera k e TKP.
“Hai, sobat, kelihatannya ada keributan di sini “ sapa sang kera.
“Benar, apakah kamu mau bantu kami?” Tanya salah satu binatang itu.
“Oh, iya kenapa tidak,” kata sang kera. Lalu diceritakanlah kronologi peristiwanya. Katakanlah semacam rekonstruksi begitu. Selesai sala satu binatang itu bercerita, kera  berkata “ Kalau begini caranya tidak akan selesai, bagaimana kalau buah semangka  ini kita bagi dua saja yang sama beratnya,  dan masing-masing akan mendapat separuhnya, ini  lebih adil, bagaimana?”
Mula-mula keduanya tidak menerima saran sang kera. Namun kera membujuk lagi. “Ya, kalau begitu, terserah kalian…selamat berantem saja” kata kera sambil mau berlalu. “Tunggu, baik kami terima usul itu, kamulah sekarang yang menimbang buah itu sehingga kami peroleh setengah bagian saja”
Lalu kera membelah semangka itu menjadi dua bagian, satu bagian di pegang di tangan kiri dan satu bagian lagi di tangan kanan kanan “Lihat baik-baik, semangka di tangan kiriku lebih berat daripada yang disebelah kanan ini artinya yang kiri harus ku makan sedikit agar seimbang” kata kera sambil memakan potongan semangka di sebelah kiri.
Setelah itu, tangan sebelah kanan diturunkan oleh sang kera sehingga seakan-akan  yang sebelah kanan lebih berat dari sebelah kiri. “Oh rupanya, belum seimbang juga, coba kalian lihat, nah makanya yang sebelah kanan harus ku makan sedikit agar seimbang” kata kera sambil memakan potongan semangka yang sebelah kanan. Demikianlah kera melakukan itu seterusnya dengan alas an “keadilan” sehingga potongan semangka yang di sebelah kiri atau kanan itu tidak tersisa. Dan sesaat kemudian kera kabur dari tempat itu meninggalkan  kedua binatang itu yang kini tak memiliki apa-apa dan menyesal mengapa mereka telah memilih kera sebagai “hakim “  untuk memutuskan perkara mereka.
***
Entah alasan apa banyak sekali fable-fabel yang pernah kita  baca atau kita dengar dari nenek atau orang tua kita menokohkan kera sebagai tokoh antagonis.  Dalam beberapa cerita, dapat diidentifikasi kera  sebagai tokoh yang licik, tidak berperasaan,  dan serakah. Tak ada sisi kebakaikan yang ditonjolkan lewat karakter ini. Padahal   menurut pendapat para ahli zoology kera dikenal sebagai primate yang cerdas. Darwin bahkan berani berpendapat kera ini sebagai nenek moyang ras manusia. Kita boleh membantah pendapat itu, meski memang secara bentuk fisik dari berbagai binatang yang pernah kumelendang di jagat  raya ini , kera “mirip” manusia. Paling tidak, karakter –karaker kera di atas, hampir semua ada dalam diri manusia., yang hidup di zaman primitive sampai sampai saat ini.
Cerita di atas, memiliki pesan moral yang jelas, bahwa keadilan tidak akan terwujud apabila hakim (dalam hal ini penegak hukum dalam arti yang lebih luas), memiliki mental kera. Apa saja itu? Pertama , memihak pada perutnya, kedua menghukum bukan atas keadilan tapi karena pertimbangan nafsunya, ketiga ya…. gabungan dari keduanya itu. Pesan moral yang berkutnya, adalah bila seorang bukan ahlinya lalu ditunjuk untuk menyelesaikan perkara, maka tunggulah saat kehancurannya.
Saat ini institusi di Negara ini yang paling terpuruk adalah lembaga peradilan. Munculnya mafia hukum, lalu ada juga kasus markus, memperlihatkan betapa carut marutnya dunia hukum kita. Institusi yang seharusnya menjad benteng bagi penegakan hukum dan perwujduan keadilan masyarakat itu telah menjelma menjadi lembaga tempat bersarangnya penjahat-penjahat hukum. Ini mengenaskan.
Sebagai bahan renungan  ada sebuah peristiwa  di jaman Ali bin  Abi Thalib. Dalam peperangan  Shiffin Ali bin ABi Talib  kehilangan  baju besinya. Setelah menjadi khalifah  beliau melihat baju besi itu ditangan seorang  Yahudi. Sedangkan orang Yahudi bersikeras baju besi itu adalah miliknya.  Untuk menyelesaikan perkara ini, di bawalah ke persidangan yang dipimpin hakim Syuraih. Dalam persidangan kedunya tetap bersikukuh pada pendapat  masing-masing bahwa baju besi itu miliknya. Saat itu, hakim bertanya kepada Khalifah Ali “ Wahai amirul mukminin, adakah bukti yang menunjukkan bahwa baju besi itu milik baginda?”
“Ada, saksinya adalah putra saya. Putra saya  betul bahwa baju besi tu kepunyaan saya sendiri” jawab Khalifah Ali. “Menurut hukum, kesaksian anak dalam perkara ayahnya sendiri tidak dapat diterma” jawab hakim Syuriah. Akhirnya hakim Syuriah menjatuh vonis bahwa baju besi  itu milik Yahudi dengan alas an Khalifah tidak dapat menunjukkan kesaksian kecuali dari anaknya yang tidak sah menurut UU di Negara tersebut.
Khalifah, yang notabene seorang presiden itu, menerima keputusan itu dengan lapang dada, tidak melakukan banding atau kasasi atau tidak menuntut PK. Kalau mau, karena posisinya seperti itu, bisa saja Amirul Mukminin menekan lembaga pengadilan  untuk memenangkan perkaranya.
Andai saja, para hakim itu memilki sifat dan keberanian seperti hakim Syuraih, tentu lembaga pengadilan adalah yang akan menjadi benteng penegakan hukum. Dan markus dengan segala antek-anteknya tidak bisa bebas begerak. Sayang, itu hanya terjadi di zaman Khalifah Ali, sungguh kita merindukan saat itu terjadi, sehingga tidak ada lagi hakim berwatak kera.

(Penulis Guru SMPN 1 Nagreg, SMP YP 17 Nagreg dan pengelola Bapinger Education Cicalengka)

Nama itu berarti bagimu Nak !




Salah satu kebiasaan anak-anak sekolah serta anak remaja saat ini adalah member julukan di belakang nama aslinya. Julukan atau nama-nama itu dimaksudkan untuk member kekhasan atau semacam label agar lebih jelas di kenal. Sayangnya memang julukan itu cenderung pada hal-hal yang bersifat negatif atau sesuatu yang berkonotasi negatif. Seperti “si hideung” untuk anak yang berkult hitam. “Si cuek,” “Si tomboy” , “si colay” dan sebagainya. Malah tidak sedikit dari julukan itu yang menyeraman, seperti “si copet” “ si ucing gering” dan si “Jablay”.
Sekilas , memang julukan itu sebagai kegiatan iseng, atau sekedar menunukkan keakraban. Namun, bila dicermati, julukan negatif tersebut merupakan “label” yang dapat menyebabkan si empunya julukan memliki konsep diri negatif. Sebab julukan, biasanya berkaitan dengan pribadi dan karakter seseorang. Apa yang terbayang pada seseorang bila ia memiliki julukan “si copet”, “si ucing gering” dan “si jablay”?
Hari ini, saat saya masuk ke kelas, saya menugaskan anak saya untuk memiliki julukannya sendiri. Julukan apapun boleh asal memenuhi syarat sebagai berikut :
-          Memiliki makna yang positif
-          memiliki nilai keindahan
-          pendek dan mudah diingat
-          memotivasi pemiliknya
Selama sepuluh menit, para siswa ditugaskan untuk mencari nama dengan syarat di atas. Setelah ditunggu , lalu saya mengabsenya dan setiap siswa yang dipanggil menyebut nama julukannya untuk diumumkan pada orang lain. Maka munculllah nama julukan : Ahmad si rajin, Ida si cerdas, Rini si penyabar, Tatang si kreatif, Agus is smart, Euis is beautiful Bambang si semangat  dan berbagai julukan yang membanggakan lainnya.
Setelah selesai, maka mereka diaruskan mencantumkan pada buku pelajarannya, agar diingat. Lalu, melalui upacara kecil, saya ajak mereka untuk mulai berjanji bahwa nama itu akan melekat selamanya dan mulai hari ini mereka memiliki nama baru yang akan menjadi kebanggaan dirinya.
Anak-anaku selamat memiliki nama baru. Berbuatlah seperti nama yang kau miliki saat ini. !


Text widget

About

Senin, 04 Juni 2012

Tak ada yang perlu dikeluhkan Anakku




Tak ada yang perlu dikeluhkan anakku,
Gas sudah mulai langka,
Harga beras naiknya setinggi pohon kelapa
biaya hidup semakin menggila
kejujuran tak  ada  lagi harganya
kesombongan berserak di mana-mana
mereka yang mengeluh adalah yang kalah
kau harus menjadi pemenang, ayo bangkit dan berjuanglah

Fikmin #Robot Spiderman#



Geus meh sajam Wawan ngajanteng hareupeun toko, nyerangkeun robot Spiderman dina kaca. Sabot kitu leungeuna ngodok saku, pasti moal pimahieun pikeun meuli robot spiderman. Ladang nyemir sapatu tara aya sesana, kabeh di bikeun ka indungna. Sesana paling di pake jajan. Saban manehna ngaliwat ka toko cocoan di lebah pengkolan, pasti manehna nangtung dina hareupeun kaca toko. Harita, basa manehna ngaliwat robot the euweuh. Sabot ngalieuk ka jero, budak lalaki pantar manehna keur nanangkeup robot Spiderman bangun nu agul jeung bungah. Ti harita mun pareng Wawan ngaliwat ka toko cocoan lebah pengkolan mun pareng ngalieuk ka lebah kaca, hatena sok ngadadak nyeredet .

Anak didik kita, adalah cermin kita



Kita tidak bisa membuat siswa  termotivasi belajar saat kita  tampak memiliki kehilangan motivasi dalam mengajar
Kita tidak bis a membuat anak-anak semangat belajar saat kita tampak  kurang  bergairah dalam mengajar
Kita tidak bisa membuat anak-anak kita  siap belajar, saat kita tampak  asal-asalan  saat  mengajar
Kita tidak bisa membuat siswa nyaman di dalam kelas, saat kita juga tampak gelisah di dalam kelas
Kita tidak bisa berharap siswa tersenyum pada kita saat kita sendiri tampak berwajah kusam
Kita tidak bisa  menciptakan anak yang senang membaca saat kita pun tak pernah akrab dengan bacaan
Kita tidak bisa membuat siswa bersungguh sungguh untuk mecapai cita-citanya saat kitapun tak memiliki kesungguhan atas apa yang saat ini kita miliki
Kita tidak bisa membuat anak-anak kita berpikir saat pikiran kita tidak focus pada  mereka
Kita tidak bisa berharap perhatian dari anak-anal kita saat kitapun jarang memperhatikan mereka
Kita tidak bisa berharap mereka  memiliki antuasis saat kita pun seakan tidak begitu antuasias terhadap apa yang menjadi tugas kita
Kita tidak bisa berharap siswa kita memiliki hal-hal baru saat kita pun tidak pernah melakukan perubahan apapun saat mengajar
Kita tidak   bisa berharap mereka akrab pada kita saat kita selalu menjauh dari mereka
Kita tidak bisa berharap agar mereka jujur saat kitapun  sering tidak terbuka  pada mereka
Dan kita pun tidak bisa berharap mereka hormat pada kita saat kita pun tidak menghargai mereka


Anak didik kita, adalah cermin kita





Kita tidak bisa membuat siswa termotivasi belajar saat kita tampak memiliki kehilangan motivasi dalam mengajar


Kita tidak bis a membuat anak-anak semangat belajar saat kita tampak kurang bergairah dalam mengajar


Kita tidak bisa membuat anak-anak kita siap belajar, saat kita tampak asal-asalan saat mengajar


Kita tidak bisa membuat siswa nyaman di dalam kelas, saat kita juga tampak gelisah di dalam kelas


Kita tidak bisa berharap siswa tersenyum pada kita saat kita sendiri tampak berwajah kusam


Kita tidak bisa menciptakan anak yang senang membaca saat kita pun tak pernah akrab dengan bacaan


Kita tidak bisa membuat siswa bersungguh sungguh untuk mecapai cita-citanya saat kitapun tak memiliki kesungguhan atas apa yang saat ini kita miliki


Kita tidak bisa membuat anak-anak kita berpikir saat pikiran kita tidak focus pada mereka


Kita tidak bisa berharap perhatian dari anak-anal kita saat kitapun jarang memperhatikan mereka


Kita tidak bisa berharap mereka memiliki antuasis saat kita pun seakan tidak begitu antuasias terhadap apa yang menjadi tugas kita


Kita tidak bisa berharap siswa kita memiliki hal-hal baru saat kita pun tidak pernah melakukan perubahan apapun saat mengajar


Kita tidak bisa berharap mereka akrab pada kita saat kita selalu menjauh dari mereka


Kita tidak bisa berharap agar mereka jujur saat kitapun sering tidak terbuka pada mereka


Dan kita pun tidak bisa berharap mereka hormat pada kita saat kita pun tidak menghargai mereka


Hati-hati dengan Riya dalam beribadah



Syetan melakukan tugas menggoda dan menjerumuskan manusia dengan segala cara tanpa pandang bulu, mulai dari anak-anak, orang dewasa, orang tua, laki-laki, perempuan, orang yang sedikit beribadah, sampai orang yang tekun beribadah kepada Allah SWT. Semuanya mendapat giliran. Salah satu cara syetan menghadapi orang yang banyak beribadah adalah dengan cara menanamkan rasa ujub dan riya ke dalam hati orang itu sehingga amalannya menjadi sia-sia dan bahkan menjerumuskannya ke neraka.
Di antara syarat diterimanya amal shaleh adalah bersih dari riya’ dan sesuai dengan sunnah. Orang yang melakukan ibadah dengan maksud agar dilihat oleh orang lain, maka ia telah terjerumus kepada perbuatan syirik kecil, dan amalnya menjadi sia-sia belaka. Misalnya melaksanakan shalat agar dilihat orang lain.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan Allah. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. (Q.S; An Nisaa’: 142).
Demikian pula jika ia melakukan suatu amalan dengan tujuan agar diberitakan dan didengar oleh orang lain, maka ia termasuk syirik kecil. Rasulullah Shallallahu’alaihi wassala memberikan peringatan kepada mereka dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu:
“Barangsiapa melakukan perbuatan sum’ah (ingin didengar oleh orang lain), niscaya Allah akan menyebarkan aibnya, dan barang siapa melakukan perbuatan riya’, niscaya Allah akan menyebarkan aibnya”. (Hadits riwayat Muslim, 4/ 2289.)
Berkaitan dengan kata “agar diberitakan” oleh orang lain seperti yang terse but dalam pernyataan di atas, timbullah pertanyaan, bagaimana dengan status atau postingan yang sering tampak dalam facebook  yang seakan “mengabarkan” kegiatan ibadah seperti berikut :
“Alhamdulillah, baru saja melaksanakan shalat tajahud dengan suami….”
“Alangkah sejuknya malam ini sehabis melaksanakan shalat tahajud..”
“ Sedang mengajarkan anakku mengaji malam ini, agar cepat khatam”
“Menunggu maghrib tiba, menu apa untuk buka ya?”
“Oh senangnya setelah melaksanakan shalat berjamaah….”
“Lagi melaksanakan puasa sunnah…semoga tidak ada godaan”
Dan masih banyak lagi status-status yang bernada seakan-akan memberitahukan bahwa orang yang menulis status itu tengah melaksanakan ibadah.
Pertanyaannya apakah status itu termasuk sebagai ketegori ria dalam beribadah? Wallahu alam bissawab, hati kecil kita lah yang menjawabnya.
Marilah kita renungkan sabda Rasulullah berikut ini :
 Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa, besar hati lagi merahasiakan ibadahnya“


Kota yang berdarah



(untuk negeriku yang sedang gelisah)
Ribuan tangan mengepal mengabarkan amarah
Kilatan parang berseliweran menawarkan darah
“siapa berani, ayo tunjukan nyali, ini medan sejati”
Satu –satu satu rubuh, darah mengalir di seluruh penjuru kota
Anak-anak meronta dan ibu ibu ratapi nasibnya jadi janda
Ribuah tangan mengepal mengabarkan amarah
Kilatan pedang menebarkan aroma darah
Kota jadi gelisah, dan langit memerah
“siapa berani, ayo tunjukan nyali, ini pertarungan sampai mati”
Satu satu ambruk,  dan rebah
Ah, kota ku semerah darah

Fikmin #Bangke Anjing Hareupeun Istana#


Fikmin #Bangke Anjing Hareupeun Istana#


Geus rek saminggu eta budak lalaki nu kira-kira umurna  dua welas taun nangtung hareupeun Istana Presiden. Bajuna keuleuheu awakna rudin, beungeutna oge katembong kanyos. “Jang, keur nanaon di dieu “ ceuk Paspampres 
“Kuring  rek nepungan presiden” tembalna.
“Presidenna ge euweuh keur ka luar nagri”…. Na rek naon kitu ka presiden?” .
“Kuring rek nanyakeun naha bengsin rek naek?”
“Enya…” tembal Paspampres.
“Euh mun kitu mah nya kumaha nasib kuring, adi-adi kuring jeung  indung kuring . Ayeuna ge kuring jeung kulawarga  pan susah kacida” ceuk eta budak.
“Jig we atuh tepikeun  ka DPR, tuh belah ditu…tah   ieu ongkos keur naek Kopaja, sesana mah pake dahar we”
Dua poe ti harita di hareupeun Istana gujrud bari nutupan irung. “Bangke anjing bangke anjing !” cenah bari nunjuk bangke nu ngalumuk di hareupeun istana. Salah saurang Paspamres geuwat neangan karung tuluy nyampeurkeun bangke nu di tutupan ku koran. Barang di buka eta Pasamres teh ngahuleng, ningali  budak lalaki umur dua  welas taun  , dina saku katembong aya duit sapuluh rebu. 

Fikmin #Ulama Kahot#




Lembur kuring katelah Kota Santri. Bubuhan di lembur teh aya ulama kahot anu kawentar ka mana-mana. Nu pang onjoyna teh dina widang qiroat. Ti mamana, loba  nu ngadon tolab elmu di lembur kuring seja neuleuman elmu qiroat. Sabada jaman repormasi, aya perobahan nu tumiba ka ulama ahli qiroat tea. Ti ditu ti dieu jul jol nu  ngadeukeutan sangkan  ulama kahot teh daek ancrub kana widang politik. Nu di palar sangkan katokohan eta ulama bisa  ngaronjatkeun sora eta parpol. Ti harita eta ulama mindeng  gunta ganti parpol, ti parpol A tuluy ka parpol B, tuluy ka parpol C. Kadieunakeun mah katingali pamor eta ulama teh geus mimiti  surem nu antukna nepi ka teu kacaturkeun deui aya di parpol mana. Saprak asup ka parpol pasantren teu ka urus. Dina ka urusna ge ngan ukur dijadikan ajang kampanyeu. Minggu kamari di lembur gujrud sabada manggih beja, aya jajaka nu katewak  ku razia Satpol PP di hiji hotel, si horeng eta jajaka teh anak bungsuna  ulama kahot.

Sandi Rokok dan Orang Tua



Oleh Iwan Ardhie Priyana

Sandi, bocah 4 tahun asal kota Malang itu mendadak terkenal bak selebritis. Tingkah lakunya yang tidak lazim untuk manusia seusianya mengudang perhatian media massa ,terutama media massa eletronik. Banyak pihak yang merasa prihatin atas kebiasaan buruknya yang suka merokok, berkata-kata cabul dan suka meminum minuman keras. Kak Seto dari Komisi Perlindungan Anak (KPA) memberikan perhatian penuh atas kasus Sandi ini. Tidak hanya Kak Seto, Wakil gubernur Jawa Timur, serta LSM pun turut prihatin dan memberikan bantuan pelayanan terapi untuk sang bocah  tersebut.
Kebiasaan merokok Sandi di usia nya yang masih tergolong balita memang sangat berisiko terhadap kesehatan fisiknya. Di dalam sebatang rokok, sekurangnya terkandung 4000 zat yang bias “membunuh” seorang manusia secara tidak sadar. Setiap kali mengisap rokok, seseorang mengkonsumsi  nikotin ke dalam parunya lalu ke otaknya. Penelitian telah membuktikan bahwa nikotin dapat mengakibatkan ketagihan, sama seperti heroin dan kokain. Nikotin juga dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Pembuluh darah yang sempit membuat darah menjadi lebih sulit mengalir ke seluruh tubuh. Organ-organ tubuh menjadi kekurangan oksigen karena aliran darah tidak lancar. Hal ini membuat jantung dipaksa bekerja lebih keras memompa darah. Akibatnya, tekanan darah menjadi tinggi dan jantung menjadi lebih cepat rusak atau terkena penyakit.    Zat-zat pembunuh lainnya tak kalah dahsyatnya seperti :  amonia (bahan pembersih lantai), naftalen (zat kapur barus), hidrogen sianida (racun yang digunakan untuk pelaksanaan hukuman mati), aseton (penghapus cat kuku), toluen (pelarut), metanol (bahan bakar roket), arsenik (racun semut), butan (bahan bakar korek api), kadmium (bahan aki mobil), DDT (racun serangga), vinil klorida (bahan plastik) dan lain-lain.
Mengingat betapa banyaknya kandungan zat yang berbahaya bagi tubuh, pertanyaannya adalah , sadarkan Sandi akan bahaya yang ditimbulkan dari asap rokok tersebut? Bagaimana sebenarnya “proses pembelajaran” yang dialami oleh Sandi sehingga ia menjelma menjadi seorang “manusia dewasa” diusaia yang masih balita? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita memahami apa yang disebut dengan teori pikiran.
 Menurut beberapa teori tentang pikiran, manusia memilki dua jenis pikiran, yakni pikiran sadar  dan pikiran bawah sadar yang keduanya memilki fungsinya masing-masing, akan tetapi bekerja secara simultan. Pikiran sadar memiliki empat fungsi utama, yakni , mengidentifikasi informasi yang masuk, memba ndingkan, menganalisis, dan memutuskan. Sementara itu, pikiran sadar memiliki fungsi yang sangat luas, meliputi : kebiasaan baik, buruk dan reflek, “menyimpan “ emosi, gudang penyimpanan emosi jangka pan jang , kepribadian, intuisi, kreatifitas, persepsi serta belief (kepercayaan) dan value (nilai-nilai). Pikiran bawah sadar  bekerja secara terus menerus dan mulai hadir lebih dahulu dibandingkan dengan pikiran sadar.
Pada saat anak-anak, manusia lebih banyak bekerja pada tataran bawah sadar, daripada pikiran sadarnya.  Sedangkan pada orang dewasa, pikiran sadar lebih banyak “ bekerja”. Misalnya seorang dewasa melakukan proeses identifikasi serta menganalisis informasi yang diterimanya. Setelah melalui proses mengidentifikasi tersebut, lalu seorang dewasa memutusakan sesuatu. Bagi orang dewasa, kebiasaan merokok dan meminum minuman keras tentu dihindari karena pikiran sadarnya memberitahukan bahwa rokok dan minuman keras membahayakan tubuhnya, sehingga ia memutuskan untuk tidak merokok dan meminum minuman keras. Dengan kata lain, sebuah ide, atau sebuah informasi yang masuk sebelum disimpan di bawa sadarnya akan melalui tahap penyeleksian terlebih dahulu.
Berbeda dengan orang dewasa, sebagaimana dikatakan Adi W Gunawan seoranr pakar Hypnoterapi, ana-anak lebih banyak berhubungan dengan atau menggunakan pikiran bawah sadar. Semua informasi masuk ke dalam bawah sadar  tanpa penilaian apakah itu baik atau buruk. Dengan kata lain, proses pemihan serta identifikasi terhadap ide yang masuk tidak berjalan seperti pada orang dewasa. Dengan menggunakan logka seperti ini maka tidak mengherankan jika seorang Sandi , tidak bias memutuskankan apakah merokok itu berbahaya atau tidak. Celakanya, ide yang masuk bila dilakukan secara terus menerus dilakukan dan diulang-ulang (repetisi) akan menjadi belief (kepercayaan ) yang tertanam dan sangat sulit untuk dihilangkan.
Kebiasan merokok Sandi tidak tumbuh dengan sendirinya, tetapi melalui proses “pembelajaran” yang dilakukan secara tidak sadar melalui orang-orang dewasa sekelilingnya. Hal ini dketahui karena  Sandi setiap hari bergaul dengan orang-orang dewasa yang memiliki kebiasaan merokok, berkata cabul dan meminum-minuman keras. Pengalaman-pengalaman kesehariaan itulah yang dilakukan secara kosnsisten dan terus menerus yang diserap oleh pikiran bawah sadarnya, yang lambat laun akan mempe ngaruhi prilaku dan kepribadiannya. Menurut Adi W Gunawan, orang tua dan lingkungan anak adalah “programmer” yang  paling bertanggung jawab terhadap program mental sang anak.
Pikiran manusia sebernya mirip cara bekerja program computer. Pikiran bawah sadar dapat diinstall untuk menghapus atau mengganti program yang baru. Oleh sebab itu, untuk mengindari kebiasaan dan prilaku b uruk yang tersimpan dalam pikiran bawah sadar dapat di delet, dengan bantuan terapi, dan konsultasi psikologis. Namun yang paling penting dilakukan adalah sikap orang dewasa serta masyarakat sekelilingnya lah yang memiliki kontribusi terhadap perilaku Sandi yang harus diubah.
Berkaca pada kasus Sandi, orang tua serta masyarakat harus menyadari apa akibat merokok, tidak hanya bagi kesehatan fisik dirinya dan orang-orangs sekitarnya, juga bagi perkembangan mental anak-anak. Bagi orang tua yang suka merokok, dan kebetulan memiliki anak-anak, tentu dapat mengambil hikmah dari peristsitiwa Sandi.  Seorang anak yang lahir pada dasarnya putih bersih, orang tunyanya yang akan mendidikan apakah ia akan menjadi Yahudi, majusi atau Nasran , demikian kata Rasul. Artinya kebiasan, karakter seorang anak dibentuk oleh  orang tuanya,  yang dimaksud tidak hanya orang tua dalam pengertian orang tua biologis, tetapi termasuk orang dewasa yang  berada di lingkungan sekitarnya.

 

Seekor unta bernama “Habibi”


Diikisahkan, di salah satu tempat di Arab terdapat sebuah  makam yang dianggap keramat dan men jadi tempat berziarah banyak orang. Tentang siapa yang dimakamkan di sana, tidak banyak yang tahu persis. Hanya memang menurut yang menjaga makam itu, di tempat itu dimakamkan seorang soleh. Para peziarah  yang datang ke tempat itu banyak memperoleh barokah. Sehingga makam itu ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai pelosok.
Sang penjaga makan keramat memiliki seorang  anak laki-laki yang sudah beranjak dewasa. Suatu hari, Sang Anak meminta izin pada ayahnya untuk pergi meninggalkan tempa itu untuk mengembara. Sang penjaga makam sebenarnya keberatan, mengingat anak itu satu-satunya harapan untuk menggantikannya menjaga makam itu bila ia meninggal. Namun, ia tidak bisa menghalangi kepergian anaknya tersebut. Saat berpisah dengan anaknya, diberikanlah untuk anaknya  “si habibi” seekor unta   kesayangan yang selama ini dipeliharanya.
Sang anak itu pun akhirnya pergi dengan ditemani si habibi. Entah sudah berapa lama waktu berjalan dan sudah berapa jarak yang ditempuh oleh sang anak itu. Perjalanan jauh itu rupanya menyebabkan si habibi tak kuat lagi. SI habibi ,menderta sakit, dan tak lama kemudian mati. Tentu saja kematian si habibi meninggalkan luka dan kesedihan yang dalam. Sebagai bukti rasa sayangya pada si habibi, maka  di makamkam lah dengan segala penghormatan dalam sebuah lubang kubur. Di atas kuburan itulah sang anak terus-menerus menangis mengenang jasa-jasa yang pernah diberikan habibi kepadanya.
Kuburan si habibi terletak di sebuah jalan dimana banyak para pedagang yang lalu lintas ke tempat itu. Banyak pedagang yang menyaksikan  ada seseorang yang menangis di sebuah makam. Tentu ini makam seseorang saleh atau makam seorang yang banyak ilmunya. Demikian pikir orang-orang yang kebetulan lewat ke tempat itu. Sehingga banyak juga orang yang berdoa dan melakukan ziarah di tempat itu. Konon, setelah rang-orang yang berdoa ketempat itu banyak yang memperoleh barokah, sehingga makan tersebut  menjadi terkenal, dan tentunya  semakin mengundang banyak peziarah lainnya.
Kemashuran makam  yang dianggap keramat itu  menyebabkan orang-orang mempercayai bahwa di tempat itu benar-benar dimakamkan seorang sech yan saleh. Tentang rahasia sebenarnya, tentu hanya penjaga makam lah yang mengetahuinya. Membongkar rahasia makam kemarat yang kini dijaganya berarti menghilangkan banyak keuntungan yang selama ini telah dinikmatinya. Kalaupun nanti orang tahu siapa kah yang dimakankan di sana  sebenarnya, orang-orang yang datang ke tempat itu tentu tidak akan mau  percaya.
Rupanya kemashuran makam keramat tersebut telah sampai ke telinga ayahnya. Mendengar ada  tempat berziarah yang terkenal, mendorong sang ayah untuk mengunjunginya. Ia pun pergi meningglkan makam yang selama ini dijaganya. Ketika sampai di makam itu, amatlah terkejut dan terharu ketika ia tahu kalau anaknya yang selama ini pergi rupanya menjadi penjaga di makam itu. Pertemuan ayah dan anak itu  digunakan untuk saling melepas rindu setelah berapa lama mereka berpisah.  Saat keduanya berbincang, berkatalah sang ayah “ Nak, dari sejak ayah datang ke sini, ayah tidak melihat si habibi, sehatkah ia?” .
Untuk beberapa sat sang anak tertegun, lalu dengan perlahan ia becerita  pada ayahnya bahwa si habibi adalah unta yang berjasa dan telah banyak membantunya. Ia telah merawat dan mengurus s habibi dengan penuh kasih sayang . “Namun, sayang habibi harus meninggalkan dirinya untuk selamanya ” demikian kata anaknya.
Mendengar itu, tampaklah kesedihan dari sang ayah. Keduanya  sesaat kemudian terdiam dalam suasana keharuan.
“ Apakah bangkainya kau buang, seperti binatang lain, atau kah kau urus dia sebagai bukti bahwa kau menaruh sayang padanya?” Tanya sang ayah. “Tidak, si habibi ku makam kan dengan segala penghormatan” jawab anaknya.
“Dapatlah kau tunjukkan di mana makamnya?”
“Itu “ kata sang anak sambil menunjuk makam yang tengah di kelilingi banyak orang yang sedang berdoa. Sesaat kemudian ayahnya tertegun.
Setelah beberapa lama terdiam, ayahnya mulai berkata lagi. “Nak, mungkin sudah saatnya aku mengatakan suatu rahasia kepadamu, rahasia yang sudah lama ayah simpam..”
“Maksud ayah?” Tanya anaknya sambil memandang wajaha ayahnya.
“Sudah lama kita membohongi orang-orang yang datang ke makam ayah atau pun ke makam mu di sini, engkau  sendiri tak pernah  tahu dan tak pernah  bertanya  kepada ayah, makam siapa sebenarnya yang ayah jaga itu bukan?”.
Anaknya mengangguk.
“Bukankah di makam  yang ayah jaga itu , makam seorang syech dan dia orang yang soleh sehingga banyak orang yang ziarah untuk mendapat barokah?” Tanya sang anak.
“Bukan, di makan itu bukan syeh atau bukan orang yang soleh….” Jawab ayahnya.
“Lalu, makan siapa sebenarnya?”
“Makam itu tak lain dan tak bukan adalah makam induk  si habibi”. Jawab ayahnya.


Diolah dan diterjemahkan dari  cerita – cerita Moh. Ambri.

Minggu, 03 Juni 2012

Setasiun Nagreg suatu Ketika




Namamu mengingatkanku pada suatu hari
Ketika senja merayapi dinding ruang tunggu yang lusuh
Sementara deretan kursi yang lenggang mengabarkan sebuah kereta
Baru saja ditelan gelap kea rah barat.
Lalu aku masih berdiri di sini dengan keyakinan
Bahwa sebuah kereta akan tiba dari timur
Membawa mimpi
Tapi kau menggodaku dengan menyembunyikan bulan separuh
Dibalik tiang sinyal
Aku masih setia, menghitung saat demi saat
Yang berlalu tanpa pamit, kecuali meninggalkan gelisah
Diam-diam aku  mulai ragu, ketika  bulan kembali
 ke tempatnya semula, dan dengung yang mengalun
bukan peluit kereta, tapi  serombongan nyamuk yang menari
meningkahi sepi


Lagu Kemarau

Denting-denting nyaring
Dari dawai musim
Mengusik mentari separuh baya
Pohonan meronta, digelitik debu
Dan rumput-rumput kering tengadah pada langit
Menanti burung-burung hinggap
Lalu mati

Dari kumpulan puisi lawat yang pernah di muat di PIkiran Rakyat

Bila Keadilan ada di Tangan “Kera”




Dua ekor binatang sedang bertengkar karena memperebutkan buah semangka yang baru ditemukannya. Keduanya merasa berhak atas temuannya, sehingga  masing-masing ingin memiliki semangka itu seutuhnya. Tak ada saksi lain di tempat itu, yang bisa menunjukkan siapa sebenarnya penemu pertama yang berhak memiliki semangka itu sepenuhnya. Pada saat pertengkaran itu sudah akan mencapai puncaknya, tiba-tiba melintaslah seekor kera k e TKP.
“Hai, sobat, kelihatannya ada keributan di sini “ sapa sang kera.
“Benar, apakah kamu mau bantu kami?” Tanya salah satu binatang itu.
“Oh, iya kenapa tidak,” kata sang kera. Lalu diceritakanlah kronologi peristiwanya. Katakanlah semacam rekonstruksi begitu. Selesai sala satu binatang itu bercerita, kera  berkata “ Kalau begini caranya tidak akan selesai, bagaimana kalau buah semangka  ini kita bagi dua saja yang sama beratnya,  dan masing-masing akan mendapat separuhnya, ini  lebih adil, bagaimana?”
Mula-mula keduanya tidak menerima saran sang kera. Namun kera membujuk lagi. “Ya, kalau begitu, terserah kalian…selamat berantem saja” kata kera sambil mau berlalu. “Tunggu, baik kami terima usul itu, kamulah sekarang yang menimbang buah itu sehingga kami peroleh setengah bagian saja”
Lalu kera membelah semangka itu menjadi dua bagian, satu bagian di pegang di tangan kiri dan satu bagian lagi di tangan kanan kanan “Lihat baik-baik, semangka di tangan kiriku lebih berat daripada yang disebelah kanan ini artinya yang kiri harus ku makan sedikit agar seimbang” kata kera sambil memakan potongan semangka di sebelah kiri.
Setelah itu, tangan sebelah kanan diturunkan oleh sang kera sehingga seakan-akan  yang sebelah kanan lebih berat dari sebelah kiri. “Oh rupanya, belum seimbang juga, coba kalian lihat, nah makanya yang sebelah kanan harus ku makan sedikit agar seimbang” kata kera sambil memakan potongan semangka yang sebelah kanan. Demikianlah kera melakukan itu seterusnya dengan alas an “keadilan” sehingga potongan semangka yang di sebelah kiri atau kanan itu tidak tersisa. Dan sesaat kemudian kera kabur dari tempat itu meninggalkan  kedua binatang itu yang kini tak memiliki apa-apa dan menyesal mengapa mereka telah memilih kera sebagai “hakim “  untuk memutuskan perkara mereka.
***
Entah alasan apa banyak sekali fable-fabel yang pernah kita  baca atau kita dengar dari nenek atau orang tua kita menokohkan kera sebagai tokoh antagonis.  Dalam beberapa cerita, dapat diidentifikasi kera  sebagai tokoh yang licik, tidak berperasaan,  dan serakah. Tak ada sisi kebakaikan yang ditonjolkan lewat karakter ini. Padahal   menurut pendapat para ahli zoology kera dikenal sebagai primate yang cerdas. Darwin bahkan berani berpendapat kera ini sebagai nenek moyang ras manusia. Kita boleh membantah pendapat itu, meski memang secara bentuk fisik dari berbagai binatang yang pernah kumelendang di jagat  raya ini , kera “mirip” manusia. Paling tidak, karakter –karaker kera di atas, hampir semua ada dalam diri manusia., yang hidup di zaman primitive sampai sampai saat ini.
Cerita di atas, memiliki pesan moral yang jelas, bahwa keadilan tidak akan terwujud apabila hakim (dalam hal ini penegak hukum dalam arti yang lebih luas), memiliki mental kera. Apa saja itu? Pertama , memihak pada perutnya, kedua menghukum bukan atas keadilan tapi karena pertimbangan nafsunya, ketiga ya…. gabungan dari keduanya itu. Pesan moral yang berkutnya, adalah bila seorang bukan ahlinya lalu ditunjuk untuk menyelesaikan perkara, maka tunggulah saat kehancurannya.
Saat ini institusi di Negara ini yang paling terpuruk adalah lembaga peradilan. Munculnya mafia hukum, lalu ada juga kasus markus, memperlihatkan betapa carut marutnya dunia hukum kita. Institusi yang seharusnya menjad benteng bagi penegakan hukum dan perwujduan keadilan masyarakat itu telah menjelma menjadi lembaga tempat bersarangnya penjahat-penjahat hukum. Ini mengenaskan.
Sebagai bahan renungan  ada sebuah peristiwa  di jaman Ali bin  Abi Thalib. Dalam peperangan  Shiffin Ali bin ABi Talib  kehilangan  baju besinya. Setelah menjadi khalifah  beliau melihat baju besi itu ditangan seorang  Yahudi. Sedangkan orang Yahudi bersikeras baju besi itu adalah miliknya.  Untuk menyelesaikan perkara ini, di bawalah ke persidangan yang dipimpin hakim Syuraih. Dalam persidangan kedunya tetap bersikukuh pada pendapat  masing-masing bahwa baju besi itu miliknya. Saat itu, hakim bertanya kepada Khalifah Ali “ Wahai amirul mukminin, adakah bukti yang menunjukkan bahwa baju besi itu milik baginda?”
“Ada, saksinya adalah putra saya. Putra saya  betul bahwa baju besi tu kepunyaan saya sendiri” jawab Khalifah Ali. “Menurut hukum, kesaksian anak dalam perkara ayahnya sendiri tidak dapat diterma” jawab hakim Syuriah. Akhirnya hakim Syuriah menjatuh vonis bahwa baju besi  itu milik Yahudi dengan alas an Khalifah tidak dapat menunjukkan kesaksian kecuali dari anaknya yang tidak sah menurut UU di Negara tersebut.
Khalifah, yang notabene seorang presiden itu, menerima keputusan itu dengan lapang dada, tidak melakukan banding atau kasasi atau tidak menuntut PK. Kalau mau, karena posisinya seperti itu, bisa saja Amirul Mukminin menekan lembaga pengadilan  untuk memenangkan perkaranya.
Andai saja, para hakim itu memilki sifat dan keberanian seperti hakim Syuraih, tentu lembaga pengadilan adalah yang akan menjadi benteng penegakan hukum. Dan markus dengan segala antek-anteknya tidak bisa bebas begerak. Sayang, itu hanya terjadi di zaman Khalifah Ali, sungguh kita merindukan saat itu terjadi, sehingga tidak ada lagi hakim berwatak kera.

(Penulis Guru SMPN 1 Nagreg, SMP YP 17 Nagreg dan pengelola Bapinger Education Cicalengka)

Nama itu berarti bagimu Nak !




Salah satu kebiasaan anak-anak sekolah serta anak remaja saat ini adalah member julukan di belakang nama aslinya. Julukan atau nama-nama itu dimaksudkan untuk member kekhasan atau semacam label agar lebih jelas di kenal. Sayangnya memang julukan itu cenderung pada hal-hal yang bersifat negatif atau sesuatu yang berkonotasi negatif. Seperti “si hideung” untuk anak yang berkult hitam. “Si cuek,” “Si tomboy” , “si colay” dan sebagainya. Malah tidak sedikit dari julukan itu yang menyeraman, seperti “si copet” “ si ucing gering” dan si “Jablay”.
Sekilas , memang julukan itu sebagai kegiatan iseng, atau sekedar menunukkan keakraban. Namun, bila dicermati, julukan negatif tersebut merupakan “label” yang dapat menyebabkan si empunya julukan memliki konsep diri negatif. Sebab julukan, biasanya berkaitan dengan pribadi dan karakter seseorang. Apa yang terbayang pada seseorang bila ia memiliki julukan “si copet”, “si ucing gering” dan “si jablay”?
Hari ini, saat saya masuk ke kelas, saya menugaskan anak saya untuk memiliki julukannya sendiri. Julukan apapun boleh asal memenuhi syarat sebagai berikut :
-          Memiliki makna yang positif
-          memiliki nilai keindahan
-          pendek dan mudah diingat
-          memotivasi pemiliknya
Selama sepuluh menit, para siswa ditugaskan untuk mencari nama dengan syarat di atas. Setelah ditunggu , lalu saya mengabsenya dan setiap siswa yang dipanggil menyebut nama julukannya untuk diumumkan pada orang lain. Maka munculllah nama julukan : Ahmad si rajin, Ida si cerdas, Rini si penyabar, Tatang si kreatif, Agus is smart, Euis is beautiful Bambang si semangat  dan berbagai julukan yang membanggakan lainnya.
Setelah selesai, maka mereka diaruskan mencantumkan pada buku pelajarannya, agar diingat. Lalu, melalui upacara kecil, saya ajak mereka untuk mulai berjanji bahwa nama itu akan melekat selamanya dan mulai hari ini mereka memiliki nama baru yang akan menjadi kebanggaan dirinya.
Anak-anaku selamat memiliki nama baru. Berbuatlah seperti nama yang kau miliki saat ini. !


Diberdayakan oleh Blogger.