Senin, 11 Juni 2012
Minggu, 10 Juni 2012
Pastikan Kita Tetap Bahagia
Dalam otak kita ada sejenis zat kimia yang disebut
serotonin. Zat kimia ini mengatur apa saja yang kita lakukan , pikirkan dan
rasakan. Banyaknya serotonin yang tersedia bagi otak menentukan tingkat energy,
motivasi, nafsu seks, kemampuan mengingat, kemampuan berkonsentrasi pada
pelajaran di sekolah atauj olah raga. Tingkat serotonin juga mengontrol tingkat
kebahagiaan yang Anda rasakan. Pendeknya, zat kimia yang namanya serotonin ini
bisa disebut sebagai “kimia kebahagiaan”.
Jika persediaan zat kimia ini berkurang, efeknya adalah
timbul rasa malas, depresi , putus asa, dipenuhi rasa bersalah, kesepian,
mengkritik diri sendiri atau orang lain, menarik diri dari pergaulan atau bisa
yang paling patal adalah niat untuk
pamit dari kehidupan ini alis ingin bunuh diri
Fikmin #Reuni#
Ret deui manehna kana arloji. Geus liwat satengah jam tinu
waktu nu dijangjikeun. Telepon deui kitu? Teu kudu lah, da tadi ge Si Mamih
sakitu jentrena, jam dalapan cenah. “Pokona
nu ieu mah mantab we Bos, Janda
Kembang…dijamin serpis memuaskan” kitu ceuk si Mamih teh. Nyebut janda kembang
teh ras ka anakna nu cikal S Erni, geus sataun cenah rarandaan lantaran
salakina ngancrud. Geus meh tilu taun manehna teu panggih jeung anakana
sabada ngilu jeung pamajikanana nu geus dipirak lan taran
kapanggih salingkuh jeung anak buahna. Teu kungsi lila aya nu ngetrok kana
panto hotel bari dituturkeun ku sora halimpu “Selamat malam. Om” bari bray panto muka, belenyeh
awewe sampulur make baju ngepas pulas buereum. Ngan sajorelat eta imut awewe
sampulur the ngoceak . “Papihhhhh……”
cenah bari ngagabrug. Manehna olohok bari istigfar. “Erni…!!.” Les kapiuhan.
Guru Bermaian Sulap ? Kenapa tidak !
Banyak cara yang dilakukan guru untuk menciptakan suasana belajar yang
menarik dan menyenangkan. Salah satunya adalah bermain sulap. Bermain sulap ?
Ya , benar. Semua orang pasti senang melihat pertun jukan sulap , demikian juga
para siswa. Sulap yang dilakukan oleh guru bukan hanya sekedar terampil
“mengelabui “ siswa, namun sebenarnya di balik permainan itu terselip sisi
edukasi. Yakni sulap yang digunakan tersebut berfungsi menanamkan sugesti pada
siswa.
Contoh sulap yang saya gunakan saat di kelas adalah
membengkokan sendok, seperti yang dilakukan beberapa pesulap professional yang
sering ditampilkan di layar televise. Sendok yang saya pegang di tangan kanan
saya goyang-goyangkan dengan menggerakkan tangan, saat itulah saya katakan “
Sendok ini sangat keras dan kaku, tetapi bila kalian punya kesungguhan dan mau
berusaha untuk mencobanya, maka sendok ini menjadi bengkok”. Setelah itu sendok
yang sudah bengkok saya perlihatkan pada siswa. Sesaat kemudian para siswa bertepuk
tangan sambil tertawa.
Sekali lagi, di sini yang ditonjolkan sebenarnya adalah
menanamkan sugesti bahwa : bila kalian punya kesungguhan dan mau berusaha untuk
mencobanya, maka sendok ini menjadi bengkok”. Di samping itu, tentu saja unsur hiburan bagi siswa tetap penting.
Terima kasih untuk mas Fadli yang telah mengajarka trik
sulap yang sederhana tapi memikat. Ada yang mau belajar main sulap?
Fikmin #Boneka#
“Mun uih nyanadak boneka kanggo
Ima nya , Pa !”. Bapana nyampeurkeun, tuluy ngusapan buukna. Geus kitu mah
bapana indit , norobos simpena peuting. Ti harita Ima remen nanyakeun ka
indungna, iraha bapana balik, manehna hayang geura boga boneka, manehna hayang
geura sare di barengan ku boneka. “Sabar …nya” kitu jawaban indungna. Teuing
geus sabaraha puluh kali saban nanyakeun bapana jeung boneka ukur di jawab
sabar. Bapana euweuh bejana, can karuhhan iraha datangna. Nu aya teh dua urang
lalaki turun tina mobil tuluy ngobrol jeung indungna. Ti saprak kadatangan tamu eta, saban ditanyakeun iraha
bapa balik indungna kalah ceurik bari ngusapann buukna. Kadieu nakeun Ima
kakaranya nyaho yen cenah nu datang teh
pulisi. Nya ti harita bapana teu datang deui. Harepan yen bapana bakal datang
mawa boneka tetep aya dina implengan
Ima.
Apa yang terjadi jika marah sambil berdiri?
(inilah jawaban kedokteran)
“Jika salah seorang dari kalian
marah dalam keadaan berdiri, maka
sebaiknya ia duduk. Jika kemarahan telah hilang (maka cukupkanlah ia dengan
duduk itu). Jika dengan duduk ini kemarahannya belum hilang, maka sebaiknya ia
berbaring “ (HR Ahmad dan Abu Dawud)”
Ilmu kedokteran moden telah
menemukan bahwa ada sejumlah perubahan
dalam tubuh manusia yang disebabkan kemarahan. Pada saat marah, gumpalan lemak
yang ada di atas ginjal mengeluarkan dua
jenis hormon, yaitu hormon adrenalin dan non-adrenalin. Hormon adrenalin keluar
sebagai bentuk respon terhadap salah satu jenis emosi maupun tekanan jiwa,
seperti rasa takut dan kemarahan. Hormon ini dikeluarkan untuk mengurangi kadar
gula dalam darah. Dan biasanya kedua jenis hormon ini tidak dikeluarkan dalam
waktu bersamaan.
99 Langkah Menuju Kesempurnaan Iman
Tulisan ini saya copy dari sahabat saya Facebook saya, Abi Cheeka Chev. Semoga beliau tidak ngambek kalau tulisannya saya copy. Yang jelas tulisan ini memang bermanfaat. Nuhun Abi...Meski banyak yang berkomentar, kenapa hanya 99, tidak seratus? Ataw koq banyak amat sih. Ya, selamat menikmati lah.
01. Bersyukur apabila mendapat nikmat;
02. Sabar apabila mendapat kesulitan;
03. Tawakal apabila mempunyai rencana/program;
04. Ikhlas dalam segala amal perbuatan;
05. Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan;
06. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan;
07. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan;
08. Jangan usil dengan kekayaan orang;
09. Jangan hasad dan iri atas kesuksessan orang
01. Bersyukur apabila mendapat nikmat;
02. Sabar apabila mendapat kesulitan;
03. Tawakal apabila mempunyai rencana/program;
04. Ikhlas dalam segala amal perbuatan;
05. Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan;
06. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan;
07. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan;
08. Jangan usil dengan kekayaan orang;
09. Jangan hasad dan iri atas kesuksessan orang
Melakukan Hypnosys sederhana pada siswa.
Mau mencoba “memasukkan “ sugesti
pemberdayaan diri bagi siswa? Saran di bawah ini boleh di coba.
Pertama, bawalah siswa ke ruangan
yang sejuk, hening dengan suasana yang lebih nyaman, (boleh di mushola sekolah)
Kedua, bangunlah dan ciptakan
suasana keakraban ( rapport) hal ini penting agar siswa merasa nyaman dan
percaya pada guru.
Berikan penjelasan bagi siswa
pentingnya mereka memiliki sugesti positif dalam diri mereka serta apa
manfaatnya bagi mereka.
Berikan kesempatan siswa untu
menuliskan dalam secarik kertas sugesti diri mereka sesuai dengan tujuan dan
apa yang mereka harapkan.
(Misalnya : saya adalah siswa
terbaik dan saya yakin akan kemampuan saya, saya selalu berusaha dengan segala
kemampuan saya untuk mencapai cita-cita saya. Bagi saya semuanya menjadi
mudah…dst)
Mintalah siswa untuk duduk dengan
dengan rilek, punggung tegak , tangannya di letakkan pada kedua paha mereka.
Mintalah siswa untuk memfokuskan
perhatian pada benda yang ada di hadapan mereka (misalnya pada dinding ruangan)
Perintahkah siswa agar menarik
nafas lalu mengeluarkannya dengan lembut, lakukan beberapa kali
Berikutnya, mintalah siswa untuk
memejamkan matanya agar lebih rileks, lalu perintahkan agar focus perhatian
pada nafas yang keluar melalui hidung.
Katakan pada mereka “Saat ini
anda dalam keadaan rileks, saya akan meghitung satu sampai tiga dan setiap kali
saya menghitung anda semakin rileks. “(Guru menghitung dengan suara datar dan
tenang dan jarang antara hitungan beberapa detik.jangan terlalu cepat)
Setelah siswa tampak rileks guru
berkata “ Saat ini Anda benar-benar dalam keadaan rileks. Anda adalah pelajar
yang baik pelajar yang memliliki citacita mulia dan luhur. Untuk menuju
keberhasilan mencapai cita-cita diperlukan usaha yang sungguh-sungguh.
Percayalah dengan kekuatan dan kemampuan yang ada pada Anda, cita-cita Anda
akan tercapai..”
“Saat ini munculkan kembali
sugesti Anda yang tela di tulis, bayangkan bahwa hari ini saa ini dan detik
ini…kata-kata yang telah Anda tulis sedang anda masukkan ke dalam diri Anda.
Bayangkan saat ini kata-kata teresebut tertanam dalam jantung Anda dan mengalir
dalam darah Anda”
Hening sejenak, saat ini biarkan
siswa sedang memasukkan kata-kata tersebut dalam dirinya. Beri waktu beberapa
menit
“Baik, saat ini, imajinasikan
bahwa Andan sedang merayakan keberhasilan yang telah anda perjuangkan..”
Berikan waktu beberapa menit dan
perhatkan oleh guru bagaimana ekspresi siswa.
Setelah terasa cukup , ajaklah
siswa berdoa agar dalam usaha mencapai keberhasilan itu mendapat ridlo Allah
SWT.
Berikutnta..”Saya akan menghitung
satu sampai tiga…dan saat hitungan ketiga Anda membuka mata dan badan Anda
terasa segar dan bersemangat…..tunjukkanlah senyum terbaik Anda saat anda membuka mata..”
“Satu…..dua….tiga…..”
Catatan :
Pada saat guru member sugesti,
nada suara guru harus tenang dan datar. Dalam melakukan kegiatan ini efektif
atau tidaknya tergantung seberapa PD Anda melakukkannya. Selamat mencoba.
Jumat, 08 Juni 2012
Bisa jadi ini adalah hal yang “remeh”
“Motivasi belajar siswa sebenarnya bergantung dari motivasi mengajar
guru”
Saat Masuk Ke kelas.
Tatap muka seluruh sisiwa dengan
menebarkan senyuman. (apapun kondisinya, senyum menjadi sangat mutlak)
Berikan pujian untuk hal-hal berikut
:
Suasana dan lingkungan kelas yang
bersih
Kesiapan siswa dalam mengikuti
pelajaran waktu itu
Berikan pujian secara personal pada siswa tertentu.
Katakan hal berikut :
Merasa senang mengajar di kelas
tersebut
Mintaa maaf bila Anda terlambat masuk
kelas atau pada hari yang lalu Anda tidak masuk dan berikan alas an.
Saat KBM berlangsung
Bila Anda memberikan tugas yang harus
di kerjakan, sebaiknya lakukan hal berikut :
Perintah untuk melaksanakan tugas
diberikan secara terinci, dan pastikan siswa mengerti apa yang harus
dikerjakan.
Pastikan bahwa perlengkapan mereka
sudah siap, seperti LKS, buku paket, serta alat tulis.
Tentukan waktu untuk mengerjakan,
tanyakan pada siswa berapa menita waktu yang mereka perlukan untuk mengerjakan
tugas tersebut.
Berkelilinglah pada setiap siswa
selama mengerjakan tugas, dan
katakan Anda sangat senang dan siap
membantu bila siswa menemukan kesulitan.
Saat
Anda kegiatan KBM berakhir.
Berikan pujian atas partisipasi
seluruh siswa dalam mengikuti KBM.
Berikan pujian secara personal bagi
siswa yang menonjol waktu itu.
Bagi guru yang mengajar pada jam
terakhir sebelum siswa meninggalkn kelas, bisa melakukan hal berikut :
Menyarankan agar hati-hati di jalan
Amanatkan agar belajar di rumah.
Berikan afirmasi misalnya : Kalian
pasti sukses. Kalian adalah anak-anak terbaik.
Catatan :
Lakukan hal di atas dengan
keikhlasan, bila dilakukan dengan terpkasa dan penuh kepura-puraan, bahasa
tubuh Anda akan mudah di “baca” oleh siswa.
Hal-hal yang disebutkan di atas boleh
jadi hal yang sederhana dan sudah “sangat klise” tapi percayalah jika kita
melaksanakan secara konsisten, berkesinambungam, dilakukan dengan penuh
kesedaran oleh seluruh guru di sekolah, efeknya isnya Allah akan terasa. Bila
Anda melakukan dengan ikhlas, Anda telah mengeluarkan energy positif di dalam
kelas. Hal-hal postif lah yang kelak akan Anda terima.
Bila Anda menemukan siswa atau
suasana kelas yang menjengkelkan, Anda tidak perlu memuntahkannya di depan
teman-teman guru, akan lebih baik anda tuangkan di catatan harian ini. Ini adalah cara terbaik untuk
mengeluarkan energy negative yang bermanfaat.
Di rimbun kemboja
(mengenang almarhum ayah)
Angin senja melantunkan
wangi kemboja, pada deret-deret nisan yang mengabur
Langit yang
temaram memantulkan cahaya, dari awan
yang tersisa
Lamat-lamat
menjelamakan sebua wajah wajah teduh , seperti dari sorga datangnya
“apa khabarmu anakku?”
katanya dengan suara berat seakan-akan sudah berabad lamanya
Tak ada kata yang
terucap kecuali air mata yang basah
menandakan kerinduan ini
seperti deretan batu
pemakaman yang mebisu, ah mengapa perjumpaan ini hanya sesaat,
seperti sangkuriang
yang bergegas membuat perahu karena mentari telah terlanjur tiba,
Wajah yang teduh itu
tak berkata apa-apa, kecuali dari kelopak mata itu memancar
air mata kasih saying
tentang berjuta cerita yang terjalin dalam irama suka dan duka
megapa senja ini
terlalu cepat bergegas? dan sosok itu
kini hanyalah setitik cahaya di kejauhan
Sebelum air mata ini
mengering dan pipi basah, hanya inilah
yang sempat berujar
“suatu saat,kita akan
dipertamukan lagi, dalam satu keluarga, di sorga-Nya, Nak”
Sesaat kemudian
rimbunan kemboja itu semakin sunyi, hanya dengus nafas yang mengalir perlahan
Setelah itu Angin senja
melantunkan wangi kemboja, pada deret-deret nisan yang mengabur, dan semakin
mengabur
Ada apa di Balik Wudhu Kita ?
Sebelum seorang mukmin
melaksanakan shalat, ia diwajibkan berwudu. Tidak sah shalat seseorang bila
tidak memiliki wudhu. Dalam keadaan tertentu, seperti misalnya sakit, atau
tiada air, dapat menggunakan debu yang disebut dengan tayaamum. Selama ini,
tentu kita sering melaksanakan wudhu, dan kita memahaminya sebagai aktivitas
rutin menjelan shalat. Yang kita tahu, wudhu adalah mebersihkan bagian anggota
badan tertentu, (kaki, tangan, wajah serta kepala) dengan menggunakan air.
Namun, dibalik aktivitas pemebersihkan tersebut, tidak banyak yang tahu
nilai-nilai dan hikmah di balik aktivitas itu.
Bila dikaji, ternyata dibalik
aktivitas membersihkan anggota badan tersebut terkandung lambang-lambang
pemebersihan diri. Apa saja lambing pemebersihan diri itu? Uraian berikut yang
saya kutip dari tulisan sahabat saya , menyadarkan kita betapa pentingnya wudhu
tersebut bagi kesehatan Jiwa kita.
Ditinjau dari segi kesehatan, wudlu merupakan unsur mendidik agar kebersihan tetap dijaga dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada alat panca indra.
Setiap muslim selain mandi, dalam sehari semalam lima kali mencuci bagian tubuhnya. Hal ini sangat bermanfaat untuk mencegah penyakit. Segi kejiwaan wudlu merupakan anjuran, bahwa kita harus bisa menjaga diri dari hal-hal yang dilarang Allah. Sebagai contoh mata, mulut, telinga, tangan dan kaki harus suci agar tidak digunakan untuk hal-hal yang maksiat.
Mata merupakan salah satu alat panca indra yang mempunyai arti dan fungsi sangat penting artinya. Kenikmatan yang telah Allah berikan lantaran mata, tentunya kita tidak dapat menghitungnya. Di antaranya dengan dikaruniai mata kita dapat melihat berbagai keindahan alam yang telah diciptakan Allah. Tetapi mata juga merupakan pangkal dari setiap fitnah ataupun kemaksiatan, maka harus dijaga baik-baik.
Mulut merupakan organ tubuh yang sangat penting, misalnya untuk makan dan berbicara. Namun di sisi lain ibadah akan menjadi rusak atau batal kesemuanya hanya disebabkan mulut. Karenanya apabila kita hendak melakukan ibadah secara baik, maka hendaklah meninggalkan pembicaraan-pembicaraan yang tidak bermanfaat dan tidak ada artinya.
Telinga secara lahiriah harus bersih dari sumber penyakit dan secara kejiwaan telinga harus dijaga agar tidak digunakan untuk mendengarkan hal-hal yang tidak baik (dilarang Allah). Demikian juga dengan tangan dan kaki, janganlah digunakan untuk sesuatu yang bertentangan dengan
Menuju Zona Ikhlas
Manusia diciptakan oleh Allah SWT
dalam wujud yang sempurna (ahsanniitaqwim). Salah satu kesempurnaannya adalah
intrumen yang di miliki oleh manusia sebagai system navigasi. Sistem navigasi
ini adalah “intrumen” canggih yang di
miliki manusia seperti yang terdapat dalam pesawat modern. Kita mengagumi system navigasi yang dimiliki
pesawat modern, tetapi kadang lupa dengan system navigasi yang ada dalam diri
kita sendiri.
Sistem nevigasi tersebut adalah
perasaan di hati Sitem navigasi ini secara cepat akan menuntut sebarap jauh
kita menuju sumber “keberkahan” Sang Pencipta. Ketika perasaan kita postif atau
ikhlas , posisi kita reatif dekat dengan
“pintu keberkahan”, dan ketika perasaan kita negative atau nafsu maka saat itu
kita berada jauh dari pintu “berkah” untuk mencapai tujuan itu.
Melalaui “instrument” navigasi
ini, kita dapat mengetahui bahwa di dalam diri kita terdapat dua zona, yakni
zona nafsu dan zona ikhlas. Zona nafsu adalah wilayah hati yang dipenuhi
berbagai keinginan, namun terasa menyesakkan dada. Zona ini diselimuti
oleh energi rendah karena yang ada di
dalamnya adalah perasaan negative , cemas, takut , keluh kesah, dan amarah.
Sedangkan zona ikhlas adalah zona yang bebas hambatan, terasa lapang di hati.
Energi yang menyelimuti zona ikhlas adalah berbagai perasaan positif yang
berenergi tinggi seperti rasa syukur,
sabar, focus, tenang dan happy, ketika kita ikhlas
kitapun merasa penuh tenaga. Sebaliknya saat tidak ikhlas , kita
merasa resah, kacau, tidak bahagia, dan
kehabisan tenaga .
1. Takut
2. Marah
3. Cemas
4. Keluh
kesah
Daftar energy tinggi yang ada dalam zona ikhlas (zona ini berada
pada tataran gelombang alfa)
1. Syukur
2. Sabar
3. Fokus
4. Tenang
5. Bahagia
Tidaklah mungkin bagi kita untuk
mengatur pikiran kita yang jumlahnya mencapai 60.000 setiap hari agar semuanya
positif. Untuk itu ada cara yang lebih smart dan simple.
Yang harus kita lakukan
adalah keterampilan untuk mengakses zona ikhlas setaip saat. Bayangkanlah
analogi gelombang radio ini.
Kita memutar radio pada gelombang AM. Digelombang ini kita akan
menemukan banyak noise, suaranya mono, sehingga kita tidak nyaman mendengarkan
siaran stasiun radio yang mengudara pada gelombang ini. Sebaliknya, coba kita
putar tuning ke frekwensi FM, maka kita akan mendapatkan suara jernih, tajam
dan setero. AM adalah analogi dari zona nafsu sedangkan FM adalah analogi zona
ikhlas.
Berbahagiala mereka yang selalu
berlatih sehingga bisasenantiasa memutar frekwesinya ke zona ikhlas. !
(sumber bacaan : Quntum Ikhlas ,
Teknologi Aktivasi Kekuatan Hati) The Power Of Positif Feeling, Erbe Sentanu)
Saya Ingat Bi Ade
Sudah hamper seminggu badan saya
tidak sehat. Sudah dua kali saya mengunjungi dokter, belum seratus persen
sembuh. Meski obat sudah habis. Lalu, melalui sahabat saya seorang teman yang
berpofesi sebagai dokter, saya minta saran obat yang bias membantu penyakit
saya. Selama saya kurang sehat, saya tetap melakukan aktivitas mengajar atau
kegiatan lain seperti biasa. Sehingga dengan keadaan seperti itu, tetangga saya
yang melihat saya tentu tidak menyangka saya sakit. Selebihnya mereka tidak
tahu keadaan saya, karena memang jarang berjumpa.
Ini yang menyedihkan.Berbeda misalnya saat
saya mengeluh dengan agak sedikit bercanda di status facebook saya. Sesaat
kemudian berbagai komentar yang isinya mendoakan dan mananyakan kesehatan, yang
menghawatirkan kesehatan saya, sampai yang menyarankan saya agar lebih
beristirahat.
Saya jadi ingat Mang Tia yang
rumahnya di sebelah selatan, Bah Alit yang jadi ketua RT, Mang Atang, Bi Ade
dan Mang Ujang yang rumahnya berdempetan dengan rumah saya. Terakhir bertemu
Mang Ujang seminggu yang lalu. Bahkan Bi Ade janda tua yang hidu p sebatang
kara yang rumah biliknya nempel di rumah saya, saya lupa lagi kapan terakhir
saya menyapanya. Lebih parah lagi Mang Tia , seingat saya , berjumpa dan
bersalaman di halaman masjid saat beres shalat Ied. Itu beberapa bulan yang
lalu.
Mereka, yang saya sebutkan tadi
adalah para tetangga dekat, bukan orang jauh. Tiba tiba-tba seakan menjadi
jauh, seakan-akan tidak pernah kenal. Saya jadi ingat seorang tetangga yang
menyindir kebiasaan kita yang begitu hangat dan akrab dengan teman yang jauh,
bahkan sampai berangkulan seakan-akan seabad mereka tak bertemu, tapi tampak
“datar” dan biasa-biasa saja, tanpa kehangatan saat bertemu tetangga dan
kerabat dekat. Saya jadi tersindir.
Saat ini , saya ingat Mang Tia,
Mang Ujang dan Bi Ade. BI Ade saat ini sudah punya beras belum ya? Apakah bulan
ini anaknya yang kerja di Jakarta sudah kirim uang untuk membeli beras yang
harganya makin naik itu? Mudah-mudahan
Kang Enur pemilik warung di depan itu masih mau member kas bon beras, garam,
sabun colek atau supermi.
Apakah Anda Narsis?
Tersebut sebuah kisah ada seorang
pemuda tampan. Pemuda itu hendak menyeberangi sungai, saat ia mau menyeberang
itu ia melihat ke sungai dan tampaklah wajahnya. Sejenak ia mengangumi wajahnya
sendiri di sungai itu dan lama kelamaan ia “jatuh cinta” dengan bayangan
wajahnya sendiri. Pemuda yang kemudian diketahui bernama Narsisius itu sejak
itu selalu mengagumi wajahnya sendiri. Dari situlah kemudian muncul istilah Narsis, yakni seseorang yang menyanangi
atau cinta pada dirinya sendiri.
Narsis atau narsisme tidak hanya
dikenal di rana psikologi, tetapi juga di kenal di dunia kesenian., termasuk
diantaranya dalam dunia kepenulisan . Narsisme gejala seseorang yang kagum
dengan karanganya sendiri. Kekaguman terhadap
karangan sendiri itu pada gilirannya akan melupakan hasratnya untuk
belajar dan menggali ilmu dari orang lain. Selalu menganggap karyanya paling
baik dan menonjol dari yang lain. Sikap ini juga menimbulkan sikap berpuas
diri, sehingga menutup peluangnya untuk belajar kembali dari karya orang lain.
Seorang penulis atau calon
penulis yang ingin maju, hendaknya memang menghindari sikap narsisme tersebut.
Hanya Dua Kata
Franky Raweyai seorang pengusaha
pengeboran minyak lepas pantai yang sukses. Kesuksesan diraih berkat kerja
kerasnya yang dimulai dari seorang
petugas pengecat perahu di Singapura. Tahun 2003, ia mengalami musibah yang yang menyebabkan ia mengalami kelumpuhan. Ia
terjatuh di tangga rumahnya, dan setelah
itu para dokter memvonisnya bahwa kedua kakinya tak bisa berfungsi sedia
kala, dan harus menggunakan kursi roda untuk menopang aktivitasnya.
Pada setiap orang yang
menjenguknya, Franky meminta temannya agar mencari pil yang bisa mengehentikan
kehidupannya, alias kematian. Ia putus asa dan sudah bulat untuk bunuh diri.
Sebelum niatnya kesam paian, ia menemukan kembali cahaya kehidupan saat melihat
anak jalanan pengamen yang meinta-minta di sudut jalan kota Jakarta sesaat
setelah ia melakukan pengobatan alternative di daerah Bekasi. Ia membayangkan
anak-anaknya akan seperti itu jika ia tidka bangkit dari keputusasaannya.
Esoknya ia berniat bekerja lagi.
Berbeda ketika saat ia masih
normal, semua dilakukan secara mandiri. Di rumah, ia merasa paling hebat, ia
merasa paling berkuasa, istri dan anak-anaknya tidak begitu diperhatikannya.
Demikian juga dengan keadaan di kantor, ia begitu berkuasa memarahi anak
buahnya dengan seenaknya bila anak buahnya melakukan kesalahan. Pendeknya ia
memiliki sifat sombong . Demikian ia utarakan hal itu dalam acara Kikc Andi di
Metro TV pecan ini.
Setelah kejadian itu, ternyata ia
berubah. Penuh perhatian pada keluarga, juga kepada bawahannya. Secara jujur ia
mengakui, saat ini dia sering menggunakan kata “tolong” dan “terima kasih”
apabila menyuruh anak buahnya di kantor. Sebelumnya, ia tidak pernah
menggunakan kosa kata itu.
Dua kata itu “tolong” dan “terima
kasih” ditemukan oleh sang pengusaha ketika ia sudah kehilangan kedua kakinya.
Sungguh mahal arti kedua kata itu bagi dirinya.
Cerita sederhana di atas tentu
banyak member hikmah dan pelajaran bagi kita semua. Biarlah setiap orang yang
membaca tulisan di atas menyimpulkan dan menarik hikmah sendiri. Selamat Merenung.
Kami sadalah serigala
Jiwa kami sedang
terbakar amarah
Kami berhadapan saling
menghunus makian
Kepala kami terbakar
dendam
Kami betatapan saling
menebar ancaman
Hati kami bagai para
singa siap melahap sajian
Dari daging dan darah
saudara dan handai taulan
Kami seperti
prajuit negeri tanpa ruh
yang sedang menanti
genderang siap di tabuh
Kami siap saling
menebas tubuh
Duh !
Di ujung hari
Di ujung hari yang basah
Saat bulan Juni terlambat
tiba
Aku ingin menulis surat untuk
Tuhan
Sekedar berterima kasih
Untuk semua anugerah ini
Sebelum segalanya menjadi lupa
Dan Kau menegurku dengan cara-Mu
Si Penambal Ban
Minggu adalah hari untuk
memanjakan istri, meski hanya sekedar mengantarnya ke pasar naik motor. Seperti hari Minggu ini. Hari ini
berbeda, karena begitu motor di naiki berdua, tiba –tiba motor seperti oleng,
pasti ada yang tidak beres. Benar saja, saat di lihat ban belakang gembos.
Terpaksa motor di dorong dan istri menemani di belakang , menyusuri jalan
sekitar pasar untuk mencari tukang tambal ban. Tenu ini bukan suasana yang indah seperti saat dua puluh
tahun yang lalu. Saat di mana pengalaman
seperti ini terasa indah, persis seperti Ratna dan Galih dalam “Gita Cinta dari
SMA”
Di dekat pangkalan ojeg, seorang
tukang ojek menunjuk ke satu arah, me nunjukkan tempat tambal ban, meski saya
belum bertanya, rupanya ia melihat saya memerlukan bantuan dan tak perlu
bertanya dulu. Sampai di tempat yan di tuju, meski di sana ada kompresor besar
yang menandakan di sana tempat tambal ban, tapi saya tak melihat si penambal
ban. Namun, tiba-tiba dari dalam kios itu muncul seorang pemuda kurus, berkurlit
gelap , dan berjaket yang menutupi sebagian kepalanya, dan sebelah tangannya
mengepit jangka untuk menopang satu kakinya yang lebih pendek. Segera ia
mengarahkan tangannya agar saya menaikkan motor ke trotoar. Beberapa saat saya
agak tercengang, saya agak ragu apakah si pemuda tadi bisa menambal ban dalam keadaan seperti itu.
Dugaan saya meleset persen, saya
lihat ia tampak gesit menyetandarkan motor, lalu membuka ban dan pergi menarik
tali kompresor dengan sebelah tangan, semuanya berjalan normal dan tidak tampak
sedikit pun terlihat “berabe” seperti yang saya khawatirkan.
Selama beberapa saat saya
memperhatikan dia menambal ban, saya
merasa kagum dengan “keterbatasan fisik” nya ia tidak menyerah dan tidak
menganggapnya sebagai rintangan. Saya membandingkannya dengan pemuda-pemuda
sebayanya yang lebih senang jadi pengamen meski fisiknya sehat. Kalau saja ia
menjadi pengamen, atau menjadi peminta-minta sekalipun, si penambal ban tadi
tentu akan menarik simpati dan rasa kasihan setiap orang. Tapi itu tidak
dilakukannya. Boleh jadi ia lebih senang bekerja keras meski dalam keadaan
cacat, sebab dengan cara itu ia lebih terhormat dan tentu saja tidak menjadi
beban kasihan orang lain. Saya berpikir , setiap pemuda meski mencotoh dan
menjadikan semangat pemuda si penambal ban tadi sebagai sumber inspirasi.
Jadi, kalau si tambal ban tadi tidak pantang
menyerah, me
Jurus Penjaga Toko
OLeh Iwan Ardhie Priana
“Jangan dulu membuka toko, kalau
belum bisa tersenyum”. Kata sahabat saya, seorang keturunan Cina yang menulis
kalimat itu di dinding Facebooknya. Boleh jadi, itu merupakan rahasia sukses
para pengusaha Cina dalam berdagang, disamping resep lain, seperti keuletan,
gigih dan hemat. Resep yang mudah sebenarnya, bahkan bisa jadi itu bagian dari
bagian dari prosedur tak tertulis dalam upaya meningkatkan pelayanan pada
konsumen. Sudah sering saya dengar dari teman atau dari berbagai buku,
bagaimana orang-orang Cina mampu menjadi pengusaha , jadi pedagang dan
pengelola toko, dengan berbagai jurusnya. Tapi jurus tersenyum itu benar-benar
hal baru.
Begitu hebatkah pengaruh tersenyum
pada konsumen? Tanya saya dalam hati. Tiba-tiba saya jadi teringat secarik
kertas di tempel di dekat meja kassa di sebuah swalayan yang saya
kunjungi. Isinya pendek “Tegurlah karyawan Kami bila tidak tersenyum”.
Ternyata, pertokoan modernpun telah mengadopsi jurus toko Cina.
Peribahasa Cina itu ternyata ikut
menginspirasi saya sehingga saya ikut-ikutan pula mengadopsi kalimat itu
“Jangan dulu masuk ke kelas kalau belum bisa tersenyum”. Benar-benar menjiplak.
Tapi tak apalah, asal untuk kebaikan. Mengapa saya begitu tertarik untuk mengadopsi
pepatah Cina itu ? Karena saya masih sering melihat beberapa teman saya
–yang juga guru- punya persepsi yang keliru dengan senyumnya. Teman saya sering
khawatir senyum itu akan meruntuhkan “wibawanya”. Walhasil, setiap masuk kelas,
ia lebih PD dengan memasang wajah perang. Alih-alih ingin menjaga wibawa dan
disegani murid, ia malah sering mendapat umpatan dan makian siswa, tentu saja
dengan cara diam-diam dan sembunyi-sembunyi.
Saya sendiri agak heran, darimana
teman saya beroleh pengetahuan tentang hubungan senyum dengan wibawa.
Saya malah sering melihat tokoh-tokoh kharismatik dan berwibawa dalam poto
dengan pose sedang tersenyum. Termasuk para tokoh otirter yang pernah ada di
dunia ini, dalam fotonya ingin mencitrakan orang baik dengan tersenyum.
Saat diam-diam saya intip ke
kelasnya, suasana kelas benar-benat sunyi seperti kuburan. Mungkin itulah
suasana yang menurutnya paling cocok untuk memahami pelajarannya. Bahkan anak
yang mencoba untuk mencairkan suasana dengan sedikit menyunggingkan senyumnya
pun sering di hardik.
“Kenapa kamu tersenyum? Meledek
ya?” Ah, malang benar anak terebut.
Saat saya beritahukan pada
teman saya bahwa saya punya motto “jangan dulu masuk kelas kalau belum bisa
terenyum” ia malah mencibir. Bagaimana mau bisa tersenyum jika kepala ini sudah
begitu penuh dengan persoalan hidup juga persoalan rumah tangga? Tanyanya
dengan nada apatis dan pasrah. Namun, ia tidak menjawab ketika saya tanyakan
apakah dengan memasah wajah “garang” itu persoalan di kepalanya menjadi
lebih enteng? Dia tidak menjawab.
Saya jadi teringat cerita yang saya
baca dari sebuah buku tentang seorang guru aneh di suatu sekolah. Pak Guru aneh
ini punya kebiasaan yang unik saat sebelum masuk da n keluar kelas. Sebelum
masuk ke kelas, ia menuju sebuah pohon yang berada tak jauh dari kelasnya. Ia
meloncat dan kedua tangganyya menggapai sebuah batang yang menjulur datar,
seseat kemudian tubuhnya bergelantung ke depan ke belakang beberapa
kali.Selesai mengalantung ia akan masuk kelas. Hal yang sama ia lakukan saat pulang
sekolah. Diam-diam sang Kepala Sekolah ini sering memperhatikan gejala ganjil
sang guru ini, sehingga setelah beberapa hari melihat pemandangan itu, ia
meminta bapak guru mengadap ke kantornya.
“Sudah beberapa hari ini saya
melihat Bapak menggelantung di pohon kayu itu, baik saat mau masuk ke kelas dan
keluar kelas. Boleh saya tahu, apa sebenarnya yang Bapak lakukan?” Tanya kepala
sekolah, setelah keduanya berhadapan.
“Terus terang saja Pak, saya ini
sebelum berangkat ke sekolah, banyak sekali persoalan yang saya hadapi, saya
tak mau persoalan itu menganggu pikiran saya , saat saya berada di depan siswa
saya” jawab sang guru.
“Lalu, apa hubungannya dengan
menggantung di pohon?”
“Saat saya begelayut saya berkata,
hei pohon, aku tak mau persoalan ku ini mengangguku saat aku masuk dan
mengajar, aku titipkan persoalan ini kepadamu, dan saat keluar sekolah pun saya
katakan ‘hei pohon’ kini aku sudah mengajar dan persoalan yang aku titipkan
kepadamu aku ambil kembali” demikian jawab bapak guru tenang.
Cerita yang mungkin tidak lucu ini
sebenarnya menyimpan agar tidak membawa persoalan ke dalam kelas, apapun
caranya.
Untuk sahabat saya yang sering
memasang wajah perang, sebenarnya saya ingin menyarankan padanya agar suatu
waktu nanti, ia duduk di bangku murid. Lalu murid itu semuanya suruh ke luar,
dan setelah itu satu persatu murid itu masuk ke kelas dan setiap murid
melemparkan senyum padanya. Pada saat itu, saya sebenarnya ingin bertanya
padanya, adakah alasan untuk tidak tersenyum?
Kalau orang Cina sukses dengan
prinsip “Jangan dulu membuka toko sebelum tersenyum” saya yakin seorang guru
juga akan sukses dengan moto “Jangan dulu masuk kelas kalau belum bisa
tersenyum”. Sebuah cara yang sederhana untuk sukses dan dicintai murid , sebuah
cara mudah untuk menjadi guru yang bisa membawa kesejukan di dalam
kelas.Sayangnya, kadang-kadang, kita selalu berpikir untuk melakukan
hal-hal spektakuler untuk mengubah keadaan.
Rabu, 06 Juni 2012
Sesuaikan ucapan kita dengan bahasa tubuh
Seseorang datang menghampiri
Anda. Wajahnya merah padam, giginya gemeletuk dan urat-urat di wajahnya
menegang, dan ia berkata “ Sungguh…! Saya tidak marah !”. Percayakah Anda
dengan ucapan orang tersebut ? Saya yakin Anda sebenarnya lebih percaya pada bahasa
non verbalnya, seperi wajah yang memerah dan gigi yang gemeletuk. Artinya
Anda lebih meyakini orang itu sebagai orang yang sedang marah.
Seorang
pemuda mengatakan pada pacarnya “Aku mencintaimu”. Gadis tadi akan melihat raut wajah pemuda tadi, dan melihat matanya, untuk meyakinkan apakah ada kesesuaian antara bahasa verbalnya dengan bahasa nonverbalnya. Dalam komunkasi kita memang tidak hanya menggunakan bahasa verbal, tetapi bahasa
nonverbal. Celakanya, bahasa nonverbal ini memiliki peran sebesar 70 % bagi efektivitas komunikasi Anda. Saat Anda berbi cara dengan orang lain, orang lain secara tidak s adar akan meraba bahasa nonverbal Anda untuk meyakinkan ucapan Anda.
Di kelas, seorang guru ingin meredakan keriuhan dan kegaduan dengan berteriak “Diamm…!!!!”. Anak-anak tidak merespon lalu, pak guru mulai panik , ia memperbesar volumenya dan ditambah dengan memukul papan tulis dengan penghapus berkali-kali…”Diam…..!!!” “Brak…brak…..brak….”
Kenapa anak-anak tidak diam? Jawabannya sederhana. Sebenarnya sang guru bukan sedang menyuruh diam tetapi sedang menyuruh untuk ribut. Perhatikan volume suaranya dan juga kegaduhan yang ditumbulkan oleh suara penghapus. Jadi, wajarlah jika anak-anak kita tidak diam karena secara tidak langsung diperintahkan oleh bahas nonverbal guru. Lalu, apa yang perlu di lakukan? Ya mudah saja, jika anak suruh lah anak diam dengan cara gurunya diam di depan kelas sambil melempakan senyum ke seisi kelas. Di sini memang diperlukan kesabaran. Tapi percayalah, anak-anak akan merespon “bahasa tubuh “ kita. Inilah cara paling mudah membuat suasana kelas tenang tanpa harus menguras banyak energy guru. Selamat mencoba !.
Langganan:
Postingan (Atom)
Text widget
About
Senin, 11 Juni 2012
Yang Palsu di Sekitar Kita
dunia ini penuh kepalsuan Mungkinkah tiada keikhlasan Apakah ini suatu pembalasan Ku sadar kebesaranMu Tuhan(Jani Manismu)Dunia ini memang penuh kepalsuan seperti kutipan lagu “Janjimu di Atas”. Meski agak hiperbolis, namun sebenarnya kita sudah terbiasa dengan hal-hal yang palsu, seperti, rambut palsu, bulu mata palsu, gigi palsu serta uang palsu. Bahkan di negeri ini palsu memalsukan seakan sudah menjadi kenyataan hidup sehari hari, ditengah persaingan yang semakin sulit dan kompetitif. Tidak hanya barang saja yang dengan mudah dipalsukan, tetapi sesuatu yang sangat sacral pun, tidak luput dari kepalsuan. Contohnya, di negeri ini sudah menjadi kewajiban bagi siapapun yang akan menduduki jabatan tertentu untuk di sumpah , yang disebut dengan sumpah jabatan. Esensi dari sumpah itu akan melaksanakan tugas sebaik-baiknya demi kepentingan masyarakat luas dengan mengenyampingkan kepentingan pribadi. Fakta yang terjadi setelah menjabat malah sebaliknya. Sumpah yang pernah dibacakan dibawah Kitab Suci itu seakan-akan menjadi seremonial belaka.Berbagai kepalsuan yang marak terjadi belakangan ini sungguh memprihatinkan. Ada dua peristiwa yang berkaitan dengan pemalsuan, di muat di beberapa Koran local dan nasional pekan ini. Peristiwa pertama adalah pemalsuan ijazah Sarjana ( S 1) dan diploma, yang dilakukan oleh oknum PNS di Limbangan, Garut, Jawa Barat. Puluhan guru tertipu dengan ijazah mereka yang ternyata palsu. Hal itu diketahui setelah Ijazah mereka ditolak dinas pendidikan setempat. Sebelumnya, mereka mengikuti kuliah kelas jauh di sebuah peguruan tinggi swasta. Puluhan guru, yang sebagian guru honor telah mengeluarkan kocek yang relative besar untuk guru honorer demi mendapatkan ijazah bodong tersebut. Disebutkan untuk setingkat sarjana “seharga” lima belas juta, dan diploma senilai Sembilan juta.Walhasil, jika ijazah mereka saja palsu, lantas bagaimana dengan ilmu yang mereka peroleh selama ini? Lalu, bagaimana pula mereka selama ini mengajar di depan kelas dengan mengandalkan ijazah palsu? Saya kira masih banyak pertanyaan yang bisa kita lontarkan pada kasus ini. Jawabannya, tentu saja bisa beragam pula. Supaya tidak pusing, .tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.Berita lain yang boleh jadi sangat menarik adalah pemalsuan data peserta MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran). Seorang peserta kafilah dari Jawa Barat untuk cabang Hifzilquran, Ahmad Basyir di diskulifikasi oleh panitia dengan alasan yang bersangkutan memalsukan umur. Berdasarkan ketentuan peserta untuk cabang tersebut berusia 20 tahun. Di dalam formulir Basyir mengaku lahir tahu 1992, namun berdasarkan data panitia ternyata yang bersangkutan lahir tahun 1980. Hal itu diketahui dari data base panitia, sebab sebelumnya yang bersangkutan pernah ikut lomba serupa , namun yang bersangkutan berasal dari Kalimantan Timur.Yang lebih menarik adalah pengakuan salah seorang Pembina Hifzilquran yang berceloteh bahwa pemalsuan seperti ini sudah menjadi rahasia umum dalam ajang MTQ. Menurtunya, modus pemalsuan dalam bentuk pemalsuan domisili peserta, selain soal usia tadi. Menanggapi peristiwa yang menimpa anggotanya, Pembina berkilah bahwa Basyir “sedang sial” karena pemalsuannya terbongkar panitia. Subhanallah.Musabaqah Tilawatil Quran, adalah kegiatan “lomba” membaca al quran. Kegiatan ini sejatinya bukan semata-mata kompetesi untuk mencari juara. Tetapi lebih dari itu,sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan terhadap Al Quran sebagai wahyu dari Allah SWT. Melalui ajang ini, diharapkan tumbuh motivasi untuk membaca dan memahami isinya. Di samping itu juga, terkandung nilai seni qiroat , bacaan . Sementara itu, bagi ummat Islam membaca quran merupakan satu ibadah. Siapapun yang membaca quran hendaknya bertujuan hanya semata-mata bentuk peribadatan kepada Allah SWT.Sayangnya, makna membaca quran sebagai ibadah melaliui ajang MTQ itu sudah jauh dari tujuan semula, tetapi sudah terkontaminasi oleh kepentingan duniawi, seperti memperoleh hadiah dan bonus, yang jumlahnya jutaan, serta ingin mengangkat gengsi daerah tertentu. Sehingga untuk itu sebagian peserta berani memalsukan data demi tercapainya tujuan di atas. Yang palsu pada akhirnya akan terbongkar juga.
Minggu, 10 Juni 2012
Pastikan Kita Tetap Bahagia
Dalam otak kita ada sejenis zat kimia yang disebut
serotonin. Zat kimia ini mengatur apa saja yang kita lakukan , pikirkan dan
rasakan. Banyaknya serotonin yang tersedia bagi otak menentukan tingkat energy,
motivasi, nafsu seks, kemampuan mengingat, kemampuan berkonsentrasi pada
pelajaran di sekolah atauj olah raga. Tingkat serotonin juga mengontrol tingkat
kebahagiaan yang Anda rasakan. Pendeknya, zat kimia yang namanya serotonin ini
bisa disebut sebagai “kimia kebahagiaan”.
Jika persediaan zat kimia ini berkurang, efeknya adalah
timbul rasa malas, depresi , putus asa, dipenuhi rasa bersalah, kesepian,
mengkritik diri sendiri atau orang lain, menarik diri dari pergaulan atau bisa
yang paling patal adalah niat untuk
pamit dari kehidupan ini alis ingin bunuh diri
Fikmin #Reuni#
Ret deui manehna kana arloji. Geus liwat satengah jam tinu
waktu nu dijangjikeun. Telepon deui kitu? Teu kudu lah, da tadi ge Si Mamih
sakitu jentrena, jam dalapan cenah. “Pokona
nu ieu mah mantab we Bos, Janda
Kembang…dijamin serpis memuaskan” kitu ceuk si Mamih teh. Nyebut janda kembang
teh ras ka anakna nu cikal S Erni, geus sataun cenah rarandaan lantaran
salakina ngancrud. Geus meh tilu taun manehna teu panggih jeung anakana
sabada ngilu jeung pamajikanana nu geus dipirak lan taran
kapanggih salingkuh jeung anak buahna. Teu kungsi lila aya nu ngetrok kana
panto hotel bari dituturkeun ku sora halimpu “Selamat malam. Om” bari bray panto muka, belenyeh
awewe sampulur make baju ngepas pulas buereum. Ngan sajorelat eta imut awewe
sampulur the ngoceak . “Papihhhhh……”
cenah bari ngagabrug. Manehna olohok bari istigfar. “Erni…!!.” Les kapiuhan.
Guru Bermaian Sulap ? Kenapa tidak !
Banyak cara yang dilakukan guru untuk menciptakan suasana belajar yang
menarik dan menyenangkan. Salah satunya adalah bermain sulap. Bermain sulap ?
Ya , benar. Semua orang pasti senang melihat pertun jukan sulap , demikian juga
para siswa. Sulap yang dilakukan oleh guru bukan hanya sekedar terampil
“mengelabui “ siswa, namun sebenarnya di balik permainan itu terselip sisi
edukasi. Yakni sulap yang digunakan tersebut berfungsi menanamkan sugesti pada
siswa.
Contoh sulap yang saya gunakan saat di kelas adalah
membengkokan sendok, seperti yang dilakukan beberapa pesulap professional yang
sering ditampilkan di layar televise. Sendok yang saya pegang di tangan kanan
saya goyang-goyangkan dengan menggerakkan tangan, saat itulah saya katakan “
Sendok ini sangat keras dan kaku, tetapi bila kalian punya kesungguhan dan mau
berusaha untuk mencobanya, maka sendok ini menjadi bengkok”. Setelah itu sendok
yang sudah bengkok saya perlihatkan pada siswa. Sesaat kemudian para siswa bertepuk
tangan sambil tertawa.
Sekali lagi, di sini yang ditonjolkan sebenarnya adalah
menanamkan sugesti bahwa : bila kalian punya kesungguhan dan mau berusaha untuk
mencobanya, maka sendok ini menjadi bengkok”. Di samping itu, tentu saja unsur hiburan bagi siswa tetap penting.
Terima kasih untuk mas Fadli yang telah mengajarka trik
sulap yang sederhana tapi memikat. Ada yang mau belajar main sulap?
Fikmin #Boneka#
“Mun uih nyanadak boneka kanggo
Ima nya , Pa !”. Bapana nyampeurkeun, tuluy ngusapan buukna. Geus kitu mah
bapana indit , norobos simpena peuting. Ti harita Ima remen nanyakeun ka
indungna, iraha bapana balik, manehna hayang geura boga boneka, manehna hayang
geura sare di barengan ku boneka. “Sabar …nya” kitu jawaban indungna. Teuing
geus sabaraha puluh kali saban nanyakeun bapana jeung boneka ukur di jawab
sabar. Bapana euweuh bejana, can karuhhan iraha datangna. Nu aya teh dua urang
lalaki turun tina mobil tuluy ngobrol jeung indungna. Ti saprak kadatangan tamu eta, saban ditanyakeun iraha
bapa balik indungna kalah ceurik bari ngusapann buukna. Kadieu nakeun Ima
kakaranya nyaho yen cenah nu datang teh
pulisi. Nya ti harita bapana teu datang deui. Harepan yen bapana bakal datang
mawa boneka tetep aya dina implengan
Ima.
Apa yang terjadi jika marah sambil berdiri?
(inilah jawaban kedokteran)
“Jika salah seorang dari kalian
marah dalam keadaan berdiri, maka
sebaiknya ia duduk. Jika kemarahan telah hilang (maka cukupkanlah ia dengan
duduk itu). Jika dengan duduk ini kemarahannya belum hilang, maka sebaiknya ia
berbaring “ (HR Ahmad dan Abu Dawud)”
Ilmu kedokteran moden telah
menemukan bahwa ada sejumlah perubahan
dalam tubuh manusia yang disebabkan kemarahan. Pada saat marah, gumpalan lemak
yang ada di atas ginjal mengeluarkan dua
jenis hormon, yaitu hormon adrenalin dan non-adrenalin. Hormon adrenalin keluar
sebagai bentuk respon terhadap salah satu jenis emosi maupun tekanan jiwa,
seperti rasa takut dan kemarahan. Hormon ini dikeluarkan untuk mengurangi kadar
gula dalam darah. Dan biasanya kedua jenis hormon ini tidak dikeluarkan dalam
waktu bersamaan.
99 Langkah Menuju Kesempurnaan Iman
Tulisan ini saya copy dari sahabat saya Facebook saya, Abi Cheeka Chev. Semoga beliau tidak ngambek kalau tulisannya saya copy. Yang jelas tulisan ini memang bermanfaat. Nuhun Abi...Meski banyak yang berkomentar, kenapa hanya 99, tidak seratus? Ataw koq banyak amat sih. Ya, selamat menikmati lah.
01. Bersyukur apabila mendapat nikmat;
02. Sabar apabila mendapat kesulitan;
03. Tawakal apabila mempunyai rencana/program;
04. Ikhlas dalam segala amal perbuatan;
05. Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan;
06. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan;
07. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan;
08. Jangan usil dengan kekayaan orang;
09. Jangan hasad dan iri atas kesuksessan orang
01. Bersyukur apabila mendapat nikmat;
02. Sabar apabila mendapat kesulitan;
03. Tawakal apabila mempunyai rencana/program;
04. Ikhlas dalam segala amal perbuatan;
05. Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan;
06. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan;
07. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan;
08. Jangan usil dengan kekayaan orang;
09. Jangan hasad dan iri atas kesuksessan orang
Melakukan Hypnosys sederhana pada siswa.
Mau mencoba “memasukkan “ sugesti
pemberdayaan diri bagi siswa? Saran di bawah ini boleh di coba.
Pertama, bawalah siswa ke ruangan
yang sejuk, hening dengan suasana yang lebih nyaman, (boleh di mushola sekolah)
Kedua, bangunlah dan ciptakan
suasana keakraban ( rapport) hal ini penting agar siswa merasa nyaman dan
percaya pada guru.
Berikan penjelasan bagi siswa
pentingnya mereka memiliki sugesti positif dalam diri mereka serta apa
manfaatnya bagi mereka.
Berikan kesempatan siswa untu
menuliskan dalam secarik kertas sugesti diri mereka sesuai dengan tujuan dan
apa yang mereka harapkan.
(Misalnya : saya adalah siswa
terbaik dan saya yakin akan kemampuan saya, saya selalu berusaha dengan segala
kemampuan saya untuk mencapai cita-cita saya. Bagi saya semuanya menjadi
mudah…dst)
Mintalah siswa untuk duduk dengan
dengan rilek, punggung tegak , tangannya di letakkan pada kedua paha mereka.
Mintalah siswa untuk memfokuskan
perhatian pada benda yang ada di hadapan mereka (misalnya pada dinding ruangan)
Perintahkah siswa agar menarik
nafas lalu mengeluarkannya dengan lembut, lakukan beberapa kali
Berikutnya, mintalah siswa untuk
memejamkan matanya agar lebih rileks, lalu perintahkan agar focus perhatian
pada nafas yang keluar melalui hidung.
Katakan pada mereka “Saat ini
anda dalam keadaan rileks, saya akan meghitung satu sampai tiga dan setiap kali
saya menghitung anda semakin rileks. “(Guru menghitung dengan suara datar dan
tenang dan jarang antara hitungan beberapa detik.jangan terlalu cepat)
Setelah siswa tampak rileks guru
berkata “ Saat ini Anda benar-benar dalam keadaan rileks. Anda adalah pelajar
yang baik pelajar yang memliliki citacita mulia dan luhur. Untuk menuju
keberhasilan mencapai cita-cita diperlukan usaha yang sungguh-sungguh.
Percayalah dengan kekuatan dan kemampuan yang ada pada Anda, cita-cita Anda
akan tercapai..”
“Saat ini munculkan kembali
sugesti Anda yang tela di tulis, bayangkan bahwa hari ini saa ini dan detik
ini…kata-kata yang telah Anda tulis sedang anda masukkan ke dalam diri Anda.
Bayangkan saat ini kata-kata teresebut tertanam dalam jantung Anda dan mengalir
dalam darah Anda”
Hening sejenak, saat ini biarkan
siswa sedang memasukkan kata-kata tersebut dalam dirinya. Beri waktu beberapa
menit
“Baik, saat ini, imajinasikan
bahwa Andan sedang merayakan keberhasilan yang telah anda perjuangkan..”
Berikan waktu beberapa menit dan
perhatkan oleh guru bagaimana ekspresi siswa.
Setelah terasa cukup , ajaklah
siswa berdoa agar dalam usaha mencapai keberhasilan itu mendapat ridlo Allah
SWT.
Berikutnta..”Saya akan menghitung
satu sampai tiga…dan saat hitungan ketiga Anda membuka mata dan badan Anda
terasa segar dan bersemangat…..tunjukkanlah senyum terbaik Anda saat anda membuka mata..”
“Satu…..dua….tiga…..”
Catatan :
Pada saat guru member sugesti,
nada suara guru harus tenang dan datar. Dalam melakukan kegiatan ini efektif
atau tidaknya tergantung seberapa PD Anda melakukkannya. Selamat mencoba.
Jumat, 08 Juni 2012
Bisa jadi ini adalah hal yang “remeh”
“Motivasi belajar siswa sebenarnya bergantung dari motivasi mengajar
guru”
Saat Masuk Ke kelas.
Tatap muka seluruh sisiwa dengan
menebarkan senyuman. (apapun kondisinya, senyum menjadi sangat mutlak)
Berikan pujian untuk hal-hal berikut
:
Suasana dan lingkungan kelas yang
bersih
Kesiapan siswa dalam mengikuti
pelajaran waktu itu
Berikan pujian secara personal pada siswa tertentu.
Katakan hal berikut :
Merasa senang mengajar di kelas
tersebut
Mintaa maaf bila Anda terlambat masuk
kelas atau pada hari yang lalu Anda tidak masuk dan berikan alas an.
Saat KBM berlangsung
Bila Anda memberikan tugas yang harus
di kerjakan, sebaiknya lakukan hal berikut :
Perintah untuk melaksanakan tugas
diberikan secara terinci, dan pastikan siswa mengerti apa yang harus
dikerjakan.
Pastikan bahwa perlengkapan mereka
sudah siap, seperti LKS, buku paket, serta alat tulis.
Tentukan waktu untuk mengerjakan,
tanyakan pada siswa berapa menita waktu yang mereka perlukan untuk mengerjakan
tugas tersebut.
Berkelilinglah pada setiap siswa
selama mengerjakan tugas, dan
katakan Anda sangat senang dan siap
membantu bila siswa menemukan kesulitan.
Saat
Anda kegiatan KBM berakhir.
Berikan pujian atas partisipasi
seluruh siswa dalam mengikuti KBM.
Berikan pujian secara personal bagi
siswa yang menonjol waktu itu.
Bagi guru yang mengajar pada jam
terakhir sebelum siswa meninggalkn kelas, bisa melakukan hal berikut :
Menyarankan agar hati-hati di jalan
Amanatkan agar belajar di rumah.
Berikan afirmasi misalnya : Kalian
pasti sukses. Kalian adalah anak-anak terbaik.
Catatan :
Lakukan hal di atas dengan
keikhlasan, bila dilakukan dengan terpkasa dan penuh kepura-puraan, bahasa
tubuh Anda akan mudah di “baca” oleh siswa.
Hal-hal yang disebutkan di atas boleh
jadi hal yang sederhana dan sudah “sangat klise” tapi percayalah jika kita
melaksanakan secara konsisten, berkesinambungam, dilakukan dengan penuh
kesedaran oleh seluruh guru di sekolah, efeknya isnya Allah akan terasa. Bila
Anda melakukan dengan ikhlas, Anda telah mengeluarkan energy positif di dalam
kelas. Hal-hal postif lah yang kelak akan Anda terima.
Bila Anda menemukan siswa atau
suasana kelas yang menjengkelkan, Anda tidak perlu memuntahkannya di depan
teman-teman guru, akan lebih baik anda tuangkan di catatan harian ini. Ini adalah cara terbaik untuk
mengeluarkan energy negative yang bermanfaat.
Di rimbun kemboja
(mengenang almarhum ayah)
Angin senja melantunkan
wangi kemboja, pada deret-deret nisan yang mengabur
Langit yang
temaram memantulkan cahaya, dari awan
yang tersisa
Lamat-lamat
menjelamakan sebua wajah wajah teduh , seperti dari sorga datangnya
“apa khabarmu anakku?”
katanya dengan suara berat seakan-akan sudah berabad lamanya
Tak ada kata yang
terucap kecuali air mata yang basah
menandakan kerinduan ini
seperti deretan batu
pemakaman yang mebisu, ah mengapa perjumpaan ini hanya sesaat,
seperti sangkuriang
yang bergegas membuat perahu karena mentari telah terlanjur tiba,
Wajah yang teduh itu
tak berkata apa-apa, kecuali dari kelopak mata itu memancar
air mata kasih saying
tentang berjuta cerita yang terjalin dalam irama suka dan duka
megapa senja ini
terlalu cepat bergegas? dan sosok itu
kini hanyalah setitik cahaya di kejauhan
Sebelum air mata ini
mengering dan pipi basah, hanya inilah
yang sempat berujar
“suatu saat,kita akan
dipertamukan lagi, dalam satu keluarga, di sorga-Nya, Nak”
Sesaat kemudian
rimbunan kemboja itu semakin sunyi, hanya dengus nafas yang mengalir perlahan
Setelah itu Angin senja
melantunkan wangi kemboja, pada deret-deret nisan yang mengabur, dan semakin
mengabur
Ada apa di Balik Wudhu Kita ?
Sebelum seorang mukmin
melaksanakan shalat, ia diwajibkan berwudu. Tidak sah shalat seseorang bila
tidak memiliki wudhu. Dalam keadaan tertentu, seperti misalnya sakit, atau
tiada air, dapat menggunakan debu yang disebut dengan tayaamum. Selama ini,
tentu kita sering melaksanakan wudhu, dan kita memahaminya sebagai aktivitas
rutin menjelan shalat. Yang kita tahu, wudhu adalah mebersihkan bagian anggota
badan tertentu, (kaki, tangan, wajah serta kepala) dengan menggunakan air.
Namun, dibalik aktivitas pemebersihkan tersebut, tidak banyak yang tahu
nilai-nilai dan hikmah di balik aktivitas itu.
Bila dikaji, ternyata dibalik
aktivitas membersihkan anggota badan tersebut terkandung lambang-lambang
pemebersihan diri. Apa saja lambing pemebersihan diri itu? Uraian berikut yang
saya kutip dari tulisan sahabat saya , menyadarkan kita betapa pentingnya wudhu
tersebut bagi kesehatan Jiwa kita.
Ditinjau dari segi kesehatan, wudlu merupakan unsur mendidik agar kebersihan tetap dijaga dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada alat panca indra.
Setiap muslim selain mandi, dalam sehari semalam lima kali mencuci bagian tubuhnya. Hal ini sangat bermanfaat untuk mencegah penyakit. Segi kejiwaan wudlu merupakan anjuran, bahwa kita harus bisa menjaga diri dari hal-hal yang dilarang Allah. Sebagai contoh mata, mulut, telinga, tangan dan kaki harus suci agar tidak digunakan untuk hal-hal yang maksiat.
Mata merupakan salah satu alat panca indra yang mempunyai arti dan fungsi sangat penting artinya. Kenikmatan yang telah Allah berikan lantaran mata, tentunya kita tidak dapat menghitungnya. Di antaranya dengan dikaruniai mata kita dapat melihat berbagai keindahan alam yang telah diciptakan Allah. Tetapi mata juga merupakan pangkal dari setiap fitnah ataupun kemaksiatan, maka harus dijaga baik-baik.
Mulut merupakan organ tubuh yang sangat penting, misalnya untuk makan dan berbicara. Namun di sisi lain ibadah akan menjadi rusak atau batal kesemuanya hanya disebabkan mulut. Karenanya apabila kita hendak melakukan ibadah secara baik, maka hendaklah meninggalkan pembicaraan-pembicaraan yang tidak bermanfaat dan tidak ada artinya.
Telinga secara lahiriah harus bersih dari sumber penyakit dan secara kejiwaan telinga harus dijaga agar tidak digunakan untuk mendengarkan hal-hal yang tidak baik (dilarang Allah). Demikian juga dengan tangan dan kaki, janganlah digunakan untuk sesuatu yang bertentangan dengan
Menuju Zona Ikhlas
Manusia diciptakan oleh Allah SWT
dalam wujud yang sempurna (ahsanniitaqwim). Salah satu kesempurnaannya adalah
intrumen yang di miliki oleh manusia sebagai system navigasi. Sistem navigasi
ini adalah “intrumen” canggih yang di
miliki manusia seperti yang terdapat dalam pesawat modern. Kita mengagumi system navigasi yang dimiliki
pesawat modern, tetapi kadang lupa dengan system navigasi yang ada dalam diri
kita sendiri.
Sistem nevigasi tersebut adalah
perasaan di hati Sitem navigasi ini secara cepat akan menuntut sebarap jauh
kita menuju sumber “keberkahan” Sang Pencipta. Ketika perasaan kita postif atau
ikhlas , posisi kita reatif dekat dengan
“pintu keberkahan”, dan ketika perasaan kita negative atau nafsu maka saat itu
kita berada jauh dari pintu “berkah” untuk mencapai tujuan itu.
Melalaui “instrument” navigasi
ini, kita dapat mengetahui bahwa di dalam diri kita terdapat dua zona, yakni
zona nafsu dan zona ikhlas. Zona nafsu adalah wilayah hati yang dipenuhi
berbagai keinginan, namun terasa menyesakkan dada. Zona ini diselimuti
oleh energi rendah karena yang ada di
dalamnya adalah perasaan negative , cemas, takut , keluh kesah, dan amarah.
Sedangkan zona ikhlas adalah zona yang bebas hambatan, terasa lapang di hati.
Energi yang menyelimuti zona ikhlas adalah berbagai perasaan positif yang
berenergi tinggi seperti rasa syukur,
sabar, focus, tenang dan happy, ketika kita ikhlas
kitapun merasa penuh tenaga. Sebaliknya saat tidak ikhlas , kita
merasa resah, kacau, tidak bahagia, dan
kehabisan tenaga .
1. Takut
2. Marah
3. Cemas
4. Keluh
kesah
Daftar energy tinggi yang ada dalam zona ikhlas (zona ini berada
pada tataran gelombang alfa)
1. Syukur
2. Sabar
3. Fokus
4. Tenang
5. Bahagia
Tidaklah mungkin bagi kita untuk
mengatur pikiran kita yang jumlahnya mencapai 60.000 setiap hari agar semuanya
positif. Untuk itu ada cara yang lebih smart dan simple.
Yang harus kita lakukan
adalah keterampilan untuk mengakses zona ikhlas setaip saat. Bayangkanlah
analogi gelombang radio ini.
Kita memutar radio pada gelombang AM. Digelombang ini kita akan
menemukan banyak noise, suaranya mono, sehingga kita tidak nyaman mendengarkan
siaran stasiun radio yang mengudara pada gelombang ini. Sebaliknya, coba kita
putar tuning ke frekwensi FM, maka kita akan mendapatkan suara jernih, tajam
dan setero. AM adalah analogi dari zona nafsu sedangkan FM adalah analogi zona
ikhlas.
Berbahagiala mereka yang selalu
berlatih sehingga bisasenantiasa memutar frekwesinya ke zona ikhlas. !
(sumber bacaan : Quntum Ikhlas ,
Teknologi Aktivasi Kekuatan Hati) The Power Of Positif Feeling, Erbe Sentanu)
Saya Ingat Bi Ade
Sudah hamper seminggu badan saya
tidak sehat. Sudah dua kali saya mengunjungi dokter, belum seratus persen
sembuh. Meski obat sudah habis. Lalu, melalui sahabat saya seorang teman yang
berpofesi sebagai dokter, saya minta saran obat yang bias membantu penyakit
saya. Selama saya kurang sehat, saya tetap melakukan aktivitas mengajar atau
kegiatan lain seperti biasa. Sehingga dengan keadaan seperti itu, tetangga saya
yang melihat saya tentu tidak menyangka saya sakit. Selebihnya mereka tidak
tahu keadaan saya, karena memang jarang berjumpa.
Ini yang menyedihkan.Berbeda misalnya saat
saya mengeluh dengan agak sedikit bercanda di status facebook saya. Sesaat
kemudian berbagai komentar yang isinya mendoakan dan mananyakan kesehatan, yang
menghawatirkan kesehatan saya, sampai yang menyarankan saya agar lebih
beristirahat.
Saya jadi ingat Mang Tia yang
rumahnya di sebelah selatan, Bah Alit yang jadi ketua RT, Mang Atang, Bi Ade
dan Mang Ujang yang rumahnya berdempetan dengan rumah saya. Terakhir bertemu
Mang Ujang seminggu yang lalu. Bahkan Bi Ade janda tua yang hidu p sebatang
kara yang rumah biliknya nempel di rumah saya, saya lupa lagi kapan terakhir
saya menyapanya. Lebih parah lagi Mang Tia , seingat saya , berjumpa dan
bersalaman di halaman masjid saat beres shalat Ied. Itu beberapa bulan yang
lalu.
Mereka, yang saya sebutkan tadi
adalah para tetangga dekat, bukan orang jauh. Tiba tiba-tba seakan menjadi
jauh, seakan-akan tidak pernah kenal. Saya jadi ingat seorang tetangga yang
menyindir kebiasaan kita yang begitu hangat dan akrab dengan teman yang jauh,
bahkan sampai berangkulan seakan-akan seabad mereka tak bertemu, tapi tampak
“datar” dan biasa-biasa saja, tanpa kehangatan saat bertemu tetangga dan
kerabat dekat. Saya jadi tersindir.
Saat ini , saya ingat Mang Tia,
Mang Ujang dan Bi Ade. BI Ade saat ini sudah punya beras belum ya? Apakah bulan
ini anaknya yang kerja di Jakarta sudah kirim uang untuk membeli beras yang
harganya makin naik itu? Mudah-mudahan
Kang Enur pemilik warung di depan itu masih mau member kas bon beras, garam,
sabun colek atau supermi.
Apakah Anda Narsis?
Tersebut sebuah kisah ada seorang
pemuda tampan. Pemuda itu hendak menyeberangi sungai, saat ia mau menyeberang
itu ia melihat ke sungai dan tampaklah wajahnya. Sejenak ia mengangumi wajahnya
sendiri di sungai itu dan lama kelamaan ia “jatuh cinta” dengan bayangan
wajahnya sendiri. Pemuda yang kemudian diketahui bernama Narsisius itu sejak
itu selalu mengagumi wajahnya sendiri. Dari situlah kemudian muncul istilah Narsis, yakni seseorang yang menyanangi
atau cinta pada dirinya sendiri.
Narsis atau narsisme tidak hanya
dikenal di rana psikologi, tetapi juga di kenal di dunia kesenian., termasuk
diantaranya dalam dunia kepenulisan . Narsisme gejala seseorang yang kagum
dengan karanganya sendiri. Kekaguman terhadap
karangan sendiri itu pada gilirannya akan melupakan hasratnya untuk
belajar dan menggali ilmu dari orang lain. Selalu menganggap karyanya paling
baik dan menonjol dari yang lain. Sikap ini juga menimbulkan sikap berpuas
diri, sehingga menutup peluangnya untuk belajar kembali dari karya orang lain.
Seorang penulis atau calon
penulis yang ingin maju, hendaknya memang menghindari sikap narsisme tersebut.
Hanya Dua Kata
Franky Raweyai seorang pengusaha
pengeboran minyak lepas pantai yang sukses. Kesuksesan diraih berkat kerja
kerasnya yang dimulai dari seorang
petugas pengecat perahu di Singapura. Tahun 2003, ia mengalami musibah yang yang menyebabkan ia mengalami kelumpuhan. Ia
terjatuh di tangga rumahnya, dan setelah
itu para dokter memvonisnya bahwa kedua kakinya tak bisa berfungsi sedia
kala, dan harus menggunakan kursi roda untuk menopang aktivitasnya.
Pada setiap orang yang
menjenguknya, Franky meminta temannya agar mencari pil yang bisa mengehentikan
kehidupannya, alias kematian. Ia putus asa dan sudah bulat untuk bunuh diri.
Sebelum niatnya kesam paian, ia menemukan kembali cahaya kehidupan saat melihat
anak jalanan pengamen yang meinta-minta di sudut jalan kota Jakarta sesaat
setelah ia melakukan pengobatan alternative di daerah Bekasi. Ia membayangkan
anak-anaknya akan seperti itu jika ia tidka bangkit dari keputusasaannya.
Esoknya ia berniat bekerja lagi.
Berbeda ketika saat ia masih
normal, semua dilakukan secara mandiri. Di rumah, ia merasa paling hebat, ia
merasa paling berkuasa, istri dan anak-anaknya tidak begitu diperhatikannya.
Demikian juga dengan keadaan di kantor, ia begitu berkuasa memarahi anak
buahnya dengan seenaknya bila anak buahnya melakukan kesalahan. Pendeknya ia
memiliki sifat sombong . Demikian ia utarakan hal itu dalam acara Kikc Andi di
Metro TV pecan ini.
Setelah kejadian itu, ternyata ia
berubah. Penuh perhatian pada keluarga, juga kepada bawahannya. Secara jujur ia
mengakui, saat ini dia sering menggunakan kata “tolong” dan “terima kasih”
apabila menyuruh anak buahnya di kantor. Sebelumnya, ia tidak pernah
menggunakan kosa kata itu.
Dua kata itu “tolong” dan “terima
kasih” ditemukan oleh sang pengusaha ketika ia sudah kehilangan kedua kakinya.
Sungguh mahal arti kedua kata itu bagi dirinya.
Cerita sederhana di atas tentu
banyak member hikmah dan pelajaran bagi kita semua. Biarlah setiap orang yang
membaca tulisan di atas menyimpulkan dan menarik hikmah sendiri. Selamat Merenung.
Kami sadalah serigala
Jiwa kami sedang
terbakar amarah
Kami berhadapan saling
menghunus makian
Kepala kami terbakar
dendam
Kami betatapan saling
menebar ancaman
Hati kami bagai para
singa siap melahap sajian
Dari daging dan darah
saudara dan handai taulan
Kami seperti
prajuit negeri tanpa ruh
yang sedang menanti
genderang siap di tabuh
Kami siap saling
menebas tubuh
Duh !
Di ujung hari
Di ujung hari yang basah
Saat bulan Juni terlambat
tiba
Aku ingin menulis surat untuk
Tuhan
Sekedar berterima kasih
Untuk semua anugerah ini
Sebelum segalanya menjadi lupa
Dan Kau menegurku dengan cara-Mu
Si Penambal Ban
Minggu adalah hari untuk
memanjakan istri, meski hanya sekedar mengantarnya ke pasar naik motor. Seperti hari Minggu ini. Hari ini
berbeda, karena begitu motor di naiki berdua, tiba –tiba motor seperti oleng,
pasti ada yang tidak beres. Benar saja, saat di lihat ban belakang gembos.
Terpaksa motor di dorong dan istri menemani di belakang , menyusuri jalan
sekitar pasar untuk mencari tukang tambal ban. Tenu ini bukan suasana yang indah seperti saat dua puluh
tahun yang lalu. Saat di mana pengalaman
seperti ini terasa indah, persis seperti Ratna dan Galih dalam “Gita Cinta dari
SMA”
Di dekat pangkalan ojeg, seorang
tukang ojek menunjuk ke satu arah, me nunjukkan tempat tambal ban, meski saya
belum bertanya, rupanya ia melihat saya memerlukan bantuan dan tak perlu
bertanya dulu. Sampai di tempat yan di tuju, meski di sana ada kompresor besar
yang menandakan di sana tempat tambal ban, tapi saya tak melihat si penambal
ban. Namun, tiba-tiba dari dalam kios itu muncul seorang pemuda kurus, berkurlit
gelap , dan berjaket yang menutupi sebagian kepalanya, dan sebelah tangannya
mengepit jangka untuk menopang satu kakinya yang lebih pendek. Segera ia
mengarahkan tangannya agar saya menaikkan motor ke trotoar. Beberapa saat saya
agak tercengang, saya agak ragu apakah si pemuda tadi bisa menambal ban dalam keadaan seperti itu.
Dugaan saya meleset persen, saya
lihat ia tampak gesit menyetandarkan motor, lalu membuka ban dan pergi menarik
tali kompresor dengan sebelah tangan, semuanya berjalan normal dan tidak tampak
sedikit pun terlihat “berabe” seperti yang saya khawatirkan.
Selama beberapa saat saya
memperhatikan dia menambal ban, saya
merasa kagum dengan “keterbatasan fisik” nya ia tidak menyerah dan tidak
menganggapnya sebagai rintangan. Saya membandingkannya dengan pemuda-pemuda
sebayanya yang lebih senang jadi pengamen meski fisiknya sehat. Kalau saja ia
menjadi pengamen, atau menjadi peminta-minta sekalipun, si penambal ban tadi
tentu akan menarik simpati dan rasa kasihan setiap orang. Tapi itu tidak
dilakukannya. Boleh jadi ia lebih senang bekerja keras meski dalam keadaan
cacat, sebab dengan cara itu ia lebih terhormat dan tentu saja tidak menjadi
beban kasihan orang lain. Saya berpikir , setiap pemuda meski mencotoh dan
menjadikan semangat pemuda si penambal ban tadi sebagai sumber inspirasi.
Jadi, kalau si tambal ban tadi tidak pantang
menyerah, me
Jurus Penjaga Toko
OLeh Iwan Ardhie Priana
“Jangan dulu membuka toko, kalau
belum bisa tersenyum”. Kata sahabat saya, seorang keturunan Cina yang menulis
kalimat itu di dinding Facebooknya. Boleh jadi, itu merupakan rahasia sukses
para pengusaha Cina dalam berdagang, disamping resep lain, seperti keuletan,
gigih dan hemat. Resep yang mudah sebenarnya, bahkan bisa jadi itu bagian dari
bagian dari prosedur tak tertulis dalam upaya meningkatkan pelayanan pada
konsumen. Sudah sering saya dengar dari teman atau dari berbagai buku,
bagaimana orang-orang Cina mampu menjadi pengusaha , jadi pedagang dan
pengelola toko, dengan berbagai jurusnya. Tapi jurus tersenyum itu benar-benar
hal baru.
Begitu hebatkah pengaruh tersenyum
pada konsumen? Tanya saya dalam hati. Tiba-tiba saya jadi teringat secarik
kertas di tempel di dekat meja kassa di sebuah swalayan yang saya
kunjungi. Isinya pendek “Tegurlah karyawan Kami bila tidak tersenyum”.
Ternyata, pertokoan modernpun telah mengadopsi jurus toko Cina.
Peribahasa Cina itu ternyata ikut
menginspirasi saya sehingga saya ikut-ikutan pula mengadopsi kalimat itu
“Jangan dulu masuk ke kelas kalau belum bisa tersenyum”. Benar-benar menjiplak.
Tapi tak apalah, asal untuk kebaikan. Mengapa saya begitu tertarik untuk mengadopsi
pepatah Cina itu ? Karena saya masih sering melihat beberapa teman saya
–yang juga guru- punya persepsi yang keliru dengan senyumnya. Teman saya sering
khawatir senyum itu akan meruntuhkan “wibawanya”. Walhasil, setiap masuk kelas,
ia lebih PD dengan memasang wajah perang. Alih-alih ingin menjaga wibawa dan
disegani murid, ia malah sering mendapat umpatan dan makian siswa, tentu saja
dengan cara diam-diam dan sembunyi-sembunyi.
Saya sendiri agak heran, darimana
teman saya beroleh pengetahuan tentang hubungan senyum dengan wibawa.
Saya malah sering melihat tokoh-tokoh kharismatik dan berwibawa dalam poto
dengan pose sedang tersenyum. Termasuk para tokoh otirter yang pernah ada di
dunia ini, dalam fotonya ingin mencitrakan orang baik dengan tersenyum.
Saat diam-diam saya intip ke
kelasnya, suasana kelas benar-benat sunyi seperti kuburan. Mungkin itulah
suasana yang menurutnya paling cocok untuk memahami pelajarannya. Bahkan anak
yang mencoba untuk mencairkan suasana dengan sedikit menyunggingkan senyumnya
pun sering di hardik.
“Kenapa kamu tersenyum? Meledek
ya?” Ah, malang benar anak terebut.
Saat saya beritahukan pada
teman saya bahwa saya punya motto “jangan dulu masuk kelas kalau belum bisa
terenyum” ia malah mencibir. Bagaimana mau bisa tersenyum jika kepala ini sudah
begitu penuh dengan persoalan hidup juga persoalan rumah tangga? Tanyanya
dengan nada apatis dan pasrah. Namun, ia tidak menjawab ketika saya tanyakan
apakah dengan memasah wajah “garang” itu persoalan di kepalanya menjadi
lebih enteng? Dia tidak menjawab.
Saya jadi teringat cerita yang saya
baca dari sebuah buku tentang seorang guru aneh di suatu sekolah. Pak Guru aneh
ini punya kebiasaan yang unik saat sebelum masuk da n keluar kelas. Sebelum
masuk ke kelas, ia menuju sebuah pohon yang berada tak jauh dari kelasnya. Ia
meloncat dan kedua tangganyya menggapai sebuah batang yang menjulur datar,
seseat kemudian tubuhnya bergelantung ke depan ke belakang beberapa
kali.Selesai mengalantung ia akan masuk kelas. Hal yang sama ia lakukan saat pulang
sekolah. Diam-diam sang Kepala Sekolah ini sering memperhatikan gejala ganjil
sang guru ini, sehingga setelah beberapa hari melihat pemandangan itu, ia
meminta bapak guru mengadap ke kantornya.
“Sudah beberapa hari ini saya
melihat Bapak menggelantung di pohon kayu itu, baik saat mau masuk ke kelas dan
keluar kelas. Boleh saya tahu, apa sebenarnya yang Bapak lakukan?” Tanya kepala
sekolah, setelah keduanya berhadapan.
“Terus terang saja Pak, saya ini
sebelum berangkat ke sekolah, banyak sekali persoalan yang saya hadapi, saya
tak mau persoalan itu menganggu pikiran saya , saat saya berada di depan siswa
saya” jawab sang guru.
“Lalu, apa hubungannya dengan
menggantung di pohon?”
“Saat saya begelayut saya berkata,
hei pohon, aku tak mau persoalan ku ini mengangguku saat aku masuk dan
mengajar, aku titipkan persoalan ini kepadamu, dan saat keluar sekolah pun saya
katakan ‘hei pohon’ kini aku sudah mengajar dan persoalan yang aku titipkan
kepadamu aku ambil kembali” demikian jawab bapak guru tenang.
Cerita yang mungkin tidak lucu ini
sebenarnya menyimpan agar tidak membawa persoalan ke dalam kelas, apapun
caranya.
Untuk sahabat saya yang sering
memasang wajah perang, sebenarnya saya ingin menyarankan padanya agar suatu
waktu nanti, ia duduk di bangku murid. Lalu murid itu semuanya suruh ke luar,
dan setelah itu satu persatu murid itu masuk ke kelas dan setiap murid
melemparkan senyum padanya. Pada saat itu, saya sebenarnya ingin bertanya
padanya, adakah alasan untuk tidak tersenyum?
Kalau orang Cina sukses dengan
prinsip “Jangan dulu membuka toko sebelum tersenyum” saya yakin seorang guru
juga akan sukses dengan moto “Jangan dulu masuk kelas kalau belum bisa
tersenyum”. Sebuah cara yang sederhana untuk sukses dan dicintai murid , sebuah
cara mudah untuk menjadi guru yang bisa membawa kesejukan di dalam
kelas.Sayangnya, kadang-kadang, kita selalu berpikir untuk melakukan
hal-hal spektakuler untuk mengubah keadaan.
Rabu, 06 Juni 2012
Sesuaikan ucapan kita dengan bahasa tubuh
Seseorang datang menghampiri
Anda. Wajahnya merah padam, giginya gemeletuk dan urat-urat di wajahnya
menegang, dan ia berkata “ Sungguh…! Saya tidak marah !”. Percayakah Anda
dengan ucapan orang tersebut ? Saya yakin Anda sebenarnya lebih percaya pada bahasa
non verbalnya, seperi wajah yang memerah dan gigi yang gemeletuk. Artinya
Anda lebih meyakini orang itu sebagai orang yang sedang marah.
Seorang
pemuda mengatakan pada pacarnya “Aku mencintaimu”. Gadis tadi akan melihat raut wajah pemuda tadi, dan melihat matanya, untuk meyakinkan apakah ada kesesuaian antara bahasa verbalnya dengan bahasa nonverbalnya. Dalam komunkasi kita memang tidak hanya menggunakan bahasa verbal, tetapi bahasa
nonverbal. Celakanya, bahasa nonverbal ini memiliki peran sebesar 70 % bagi efektivitas komunikasi Anda. Saat Anda berbi cara dengan orang lain, orang lain secara tidak s adar akan meraba bahasa nonverbal Anda untuk meyakinkan ucapan Anda.
Di kelas, seorang guru ingin meredakan keriuhan dan kegaduan dengan berteriak “Diamm…!!!!”. Anak-anak tidak merespon lalu, pak guru mulai panik , ia memperbesar volumenya dan ditambah dengan memukul papan tulis dengan penghapus berkali-kali…”Diam…..!!!” “Brak…brak…..brak….”
Kenapa anak-anak tidak diam? Jawabannya sederhana. Sebenarnya sang guru bukan sedang menyuruh diam tetapi sedang menyuruh untuk ribut. Perhatikan volume suaranya dan juga kegaduhan yang ditumbulkan oleh suara penghapus. Jadi, wajarlah jika anak-anak kita tidak diam karena secara tidak langsung diperintahkan oleh bahas nonverbal guru. Lalu, apa yang perlu di lakukan? Ya mudah saja, jika anak suruh lah anak diam dengan cara gurunya diam di depan kelas sambil melempakan senyum ke seisi kelas. Di sini memang diperlukan kesabaran. Tapi percayalah, anak-anak akan merespon “bahasa tubuh “ kita. Inilah cara paling mudah membuat suasana kelas tenang tanpa harus menguras banyak energy guru. Selamat mencoba !.
Langganan:
Postingan (Atom)
Lorem
- Artikel Agama (4)
- Artikel Pendidikan (21)
- Artikel Umum (15)
- Carpon (1)
- Fikmin Sunda (7)
- Puisi (7)
- Puisi Sunda (1)
- Resensi Buku (2)
Categories
- Artikel Agama (4)
- Artikel Pendidikan (21)
- Artikel Umum (15)
- Carpon (1)
- Fikmin Sunda (7)
- Puisi (7)
- Puisi Sunda (1)
- Resensi Buku (2)
Lencana Facebook
Diberdayakan oleh Blogger.
Labels
- Artikel Agama (4)
- Artikel Pendidikan (21)
- Artikel Umum (15)
- Carpon (1)
- Fikmin Sunda (7)
- Puisi (7)
- Puisi Sunda (1)
- Resensi Buku (2)
Labels
- Artikel Agama (4)
- Artikel Pendidikan (21)
- Artikel Umum (15)
- Carpon (1)
- Fikmin Sunda (7)
- Puisi (7)
- Puisi Sunda (1)
- Resensi Buku (2)
Labels
- Artikel Agama (4)
- Artikel Pendidikan (21)
- Artikel Umum (15)
- Carpon (1)
- Fikmin Sunda (7)
- Puisi (7)
- Puisi Sunda (1)
- Resensi Buku (2)


